alexametrics

Akal Sehat Menghadapi Korona

OLEH MASDAR HILMY *)
23 Maret 2020, 19:20:39 WIB

BERDASAR update per 22 Maret 2020, di Indonesia sudah ada 514 kasus positif Covid-19 dengan jumlah kematian 48 orang. Sebuah angka yang cukup mengkhawatirkan. Bandingkan dengan Malaysia –hingga Jumat (20/3) tercatat 673 kasus positif dengan 2 kematian– atau Singapura –226 kasus dengan nol kematian. Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan ketaatan yang tinggi terhadap seluruh protokol pencegahan Covid-19.

Siapa pun tidak bisa menggaransi terhentinya persebaran virus itu, kecuali ada perubahan pola pikir, pola sikap, dan pola tindak seluruh masyarakat kita secara radikal, drastis, dan sistemik. Dalam kondisi semacam itu, menjaga kewarasan menjadi satu-satunya pilihan. Artinya, jangan ada sengkarut otoritas dalam penanganan pandemi Covid-19 antara lembaga kesehatan seperti WHO, Kemenkes, Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dan lainnya.

Persoalannya, di ruang publik masih dijumpai sejumlah pihak yang berusaha ”memperkeruh” suasana dengan cara tidak mengacuhkan protokol pencegahan Covid-19. Bahkan, tidak sedikit pula yang membenturkannya dengan nalar keagamaan dan budaya yang sudah menjadi norma keseharian masyarakat kita. Mereka menganggap protokol pencegahan Covid-19 merupakan upaya pihak-pihak tertentu untuk mendangkalkan sekaligus menggerus keimanan kita. Mereka mengajari masyarakat untuk tidak takut kepada virus korona, tetapi hanya takut kepada Allah! Sebuah nalar yang salah kaprah dan menyesatkan.

Logika demikian dijumpai, misalnya, di tengah kerumunan pengikut Jama’ah Tabligh yang rencananya menggelar ijtimak pada 19–22 Maret di Gowa, Sulawesi Selatan, yang akhirnya dibatalkan.

Fatwa MUI

Untuk merespons pandemi Covid-19, MUI sebagai salah satu lembaga otoritatif di bidang keagamaan telah mengeluarkan Fatwa Nomor 14 Tahun 2020. Fatwa tersebut berisi sembilan hal berikut. Pertama, setiap orang wajib berikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang diyakini dapat menyebabkan terpapar penyakit. Sikap demikian sejalan dengan tujuan pokok beragama (al dharuriyat al khams).

Kedua, orang yang sudah terpapar virus korona wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya, haram melakukan aktivitas ibadah di tempat-tempat ibadah umum yang membuka peluang terjadinya penularan seperti salat berjamaah di masjid atau menghadiri pengajian umum dan tablig akbar.

Ketiga, orang yang sehat dan belum diketahui terpapar Covid-19 harus menjaga kewaspadaan di tengah kerumunan massa yang memungkinkan terjadinya penularan. Dalam situasi seperti ini, seseorang tidak dianjurkan untuk melakukan kontak fisik seperti bersalaman, berpelukan, cium tangan, dan cipika-cipiki serta diminta membawa sajadah sendiri. Dalam suatu kawasan yang telah diketahui memiliki tingkat kerawanan tinggi bagi terjadinya penularan, seseorang boleh mengganti ibadah salat Jumat dengan salat Duhur di rumah atau ibadah sunah lain seperti salat Tarawih dan salat Id di kediaman masing-masing.

Keempat, dalam kondisi persebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan sehingga mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan salat Jumat di kawasan tersebut sampai keadaan kembali normal dan menggantinya dengan salat Duhur di kediaman masing-masing. Hal itu juga berlaku untuk aktivitas ibadah lain secara berjamaah seperti salat lima waktu, salat Rawatib, dan lain-lain.

Kelima, dalam kondisi persebaran Covid-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan salat Jumat. Keenam, pemerintah menjadikan fatwa itu sebagai pedoman dalam upaya penanggulangan Covid-19 terkait dengan masalah keagamaan dan umat Islam wajib menaatinya.

Ketujuh, pengurusan jenazah (tajhiz al janazah) yang terpapar Covid-19, terutama dalam memandikan dan mengafani, harus dilakukan sesuai protokol medis dan oleh pihak yang berwenang dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Sedangkan menyalati dan menguburkan jenazah dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar Covid-19.

Kedelapan, agar umat Islam semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah, tobat, istigfar, dan zikir; membaca qunut Nazilah di setiap salat fardu; memperbanyak salawat; memperbanyak sedekah; dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberi perlindungan dan keselamatan dari musibah dan mara bahaya (doa daf’u al bala’), khususnya dari wabah Covid-19.

Kesembilan, untuk tindakan yang menimbulkan kepanikan dan kerugian publik seperti memborong dan menimbun sembako, juga bahan-bahan kesehatan seperti hand sanitizer dan masker, hukumnya haram.

Menjaga Akal Sehat

Atas dasar fatwa MUI itu, kiranya sudah jelas posisi agama dalam menyikapi dan merespons pandemi Covid-19. Para agamawan harus tetap mengadopsi dan merujuk protokol medis yang dikeluarkan oleh lembaga otoritatif sebelum memberikan pandangan keagamaan terkait wabah Covid-19. Artinya, tidak ada paradoks antara nalar keagamaan dan nalar kesehatan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan satu sama lain. Keduanya seharusnya saling mendukung dan menguatkan dalam rangka mencegah, membendung, dan menghentikan persebaran Covid-19.

Kesesuaian antara nalar kesehatan dan nalar keagamaan dapat dipahami, mengingat objek dari keduanya sama: keselamatan jiwa atau nyawa manusia di satu sisi dan menghilangkan mara bahaya atau kerusakan di sisi lain. Alquran dengan jelas melarang umat Islam untuk menjatuhkan diri dalam kebinasaan (QS 2: 195). Ada pula sebuah hadis yang menegaskan bahwa kita tidak boleh membuat kerusakan untuk diri sendiri maupun orang lain (HR Ahmad). Menurut kaidah fikih, segala bentuk kerusakan atau mara bahaya harus dihilangkan (al dhararu yuzalu).

Karena itu, tidak perlu ada ketersinggungan budaya atau agama dalam merespons pandemi Covid-19. Apa pun yang telah menjadi ketentuan dan prosedur tetap (protap) pencegahan persebaran Covid-19 seperti menjaga jarak (social distancing) harus ditaati bersama dengan penuh kesadaran agar kita semua terhindar dari semakin buruknya penularan virus itu. Bagaimanapun, keselamatan jiwa dan kehidupan manusia merupakan karunia Tuhan yang harus dijaga baik-baik oleh kita semua.

Memang kita tidak perlu panik dalam menyikapi wabah korona ini. Sebab, kepanikan dapat menurunkan tingkat kekebalan tubuh kita. Tetapi, kita harus tetap waspada dalam menjaga kesehatan dan keselamatan jiwa manusia. Dalam konteks ini, inti dari sikap kewaspadaan kita terletak pada seberapa jauh kita menggunakan nalar dan akal sehat (baca: kewarasan) kita dalam merespons wabah korona berdasar kaidah-kaidah kesehatan, kemanusiaan, dan kemaslahatan bersama (public good). Semoga tidak ada korban lagi. (*)


*) Masdar Hilmy, Guru besar ilmu sosial, rektor UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads