
Gde Bagus Andhika Wicaksana S. T., M. T. *)
METAVERSE menjadi topik yang hangat perbincangan dalam beberapa tahun belakangan ini. Dunia Virtual tanpa batas menjadi sebuah eksplorasi baru ditengah perkembangan web 3.0 dan teknologi 4.0. Merespon perkembangan teknologi tersebut, virtual reality menjadi salah satu teknologi masa depan yang memiliki banyak potensi pemanfaatan secara keilmuan dibalik fungsinya sebagai salah satu media permainan.
Dalam dunia virtual kita menggunakan media kacamata virtual agar dapat melihat keberadaan dunia virtual tersebut. Teknologi saat ini masih terbatas pada respon indera visual dan pendengaran untuk menghadirkan kesadaran terhadap lingkungan immersif.
Dalam referensi film fiksi ilmiah, teknologi virtual reality di masa depan digambarkan dengan keberadaan manusia yang mampu terintegrasi secara nyata dalam dunia virtual, seolah-olah dunia virtual menjadi realitas kedua dimana kita dapat beraktivitas sama halnya seperti dunia nyata. Untuk mewujudkan masa depan tersebut, integrasi virtual reality (VR) terhadap indera peraba dan penciuman dibutuhkan agar dapat memberikan sensasi dunia virtual secara lebih nyata.
Healing Pod merupakan sebuah ruang kapsul pintar yang terintegrasi melalui smart IoT system sebagai sinergi antara hardware dan software, hardware merespon mekanisme ruang virtual untuk memperkuat kondisi nyata lingkungan virtual. Tambahan stimuli indera peraba dan penciuman menjadi respon yang melengkapi indera penglihatan dan pendengeran dalam membentuk persepsi nyata pada ruang imersif.
Kemajuan teknologi VR dalam menghadirkan sensasi nyata lingkungan immersif, memberikan peluang bahwa teknologi ini dapat memberikan dampak positif bagi banyak orang terutama bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan dalam mobilitas bergerak. VR dapat menjadi alter dunia bagi eksplorasi orang-orang yang memiliki keterbatasan gerak dalam mengeksplorasi dunia nyata. VR menjadi penyembuh bagi mereka yang ingin melihat dunia lebih luas lagi.
Pemanfaatan VR sebagai konsep terapi virtual, memungkinkan pengguna dapat menjalani proses terapi sambil menjelajah dunia virtual secara interaktif. Healing Pod yang dirancang memungkinkan pengguna untuk bergerak bebas (berjalan, duduk, berdiri, atau memakai kursi roda) dalam ruang Pod ini.
Selain itu Healing Pod juga dirancang agar pengguna tak hanya merespon stimulus dari indera penglihatan dan pendengaran, melainkan juga bersinergi terhadap stimulus indera peraba dan pendengaran. Dalam proses menjalankan terapinya, pengguna bisa memilih terrain atau medan khusus yang ingin mereka jelajahi kemudian hardware VR akan terintegrasi langsung untuk memungkinkan pengguna secara nyata merasakan interaksi fisik dalam lingkungan virtual yang berupa suhu, angin,dan aroma.
Healing Pod Versi pertama pada prinsipnya ditujukan sebagai pendekatan terapi bagi penyandang disabilitas fisik. Pengembangan lanjutan healing pod dapat ditujukan secara universal dengan memanfaatkan teknologi virtual reality bagi semua orang yang membutuhkan bahkan pasien rumah sakit serta orang-orang yang mengalami gangguan mental, serta para manula yang membutuhkan pendampingan terapi terapi fisik, mental spiritual dan psikososial.
Dengan proses pembuatan inovasi teknologi VR yang melibatkan kolaborasi antar keahlian yaitu ilmu arsitektur, teknologi Informasi serta psikologi, VR dapat diwujudkan sebagai ruang kontemplasi interaktif dalam wujud dunia virtual. Perkembangan teknologi 4.0 dan metaverse menjadi trigger untuk membuat arsitektur yang terintegrasi langsung dengan dunia virtual melalui sinergi IoT berbasis smart system.
Tipologi arsitektur Pod menjadi pilihan karena memiliki sifat portabel yang memberikan efisiensi mobilisasi sekaligus menemukan peluang perkembangan arsitektur di masa depan. Healing pod dapat berpindah-pindah lokasi dengan waktu deploy yang singkat karena seluruh bangunan sudah menerapkan sistem prefabrikasi dalam level modular.
Konsep Neo-Futuristik menjadi perwujudan healing pod sebagai representasi wujud arsitektur di masa depan. Mobilisasi healing pod dilakukan dengan cara memindahkan unit-unit modular yang terdiri dari dua bagian yang kemudian dirakit dilokasi dalam waktu 10-15 menit. Healing Pod menggunakan sistem roda untuk mempermudah mobilisasi secara horizontal. Setelah healing Pod dirakit kemudian langkah selanjutnya adalah mengkoneksikan elektrikal dan system healing Pod.
System Healingpod memanfaatkan beberapa teknologi untuk menghubungkan hardware - hardware terpisah yang digunakan untuk terapi. Walkingpad & Heartrate Monitor terhubung dengan perangkat bluetooth yang diatur lewat kode yang dibuat melalui bahasa python. Untuk mengontrol Air Conditioner, Diffuser, dan juga Standing Fan sebuah perangkat IoT dibuat dengan Papan ESP866 yang juga dikomandoi lewat koding python yang sama. Keseluruhan code python tersebut, dipanggil lewat protokol webserver (http) agar Video Game VR dapat memberi tahu posisi saat ini ada dimana lewat API JSON.
*) Dosen Prodi Arsitektur Fakuktas Teknik dan Perencanaan Universitas Warmadewa

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
