Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Oktober 2022 | 02.48 WIB

Hari Santri: Bukti Sejarah Patriotism dan Self-Confidence Santri

Photo - Image

Photo

PADA 22 Oktober hampir semua pondok pesantren ataupun instansi yang berafiliasi dengan pondok pesantren serentak mengadakan upacara ataupun agenda lainnya dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Kegiatan tersebut dapat menambah semangat para santri dalam berjuang menimba ilmu dan berkhidmat membangun negeri. Hal itulah yang menjadi harapan para guru, kiai, serta pendahulu kita.

Satu nasihat disampaikan guru kita KH Maimun Zubair di saat pengajiannya: ”Jangan (hanya) rame-rame Hari Santri, tapi bangunlah kesantrian.” Hari Santri Nasional adalah momentum para santri untuk membangun jiwa kesantrian serta menambah semangat kita untuk mengisi kemerdekaan dengan akhlak kesantrian yang mulia.

Hari Santri Nasional adalah milik kita bersama. Istilah santri tidak hanya ditujukan kepada mereka yang pernah bermukim di pondok pesantren, tapi siapa pun yang berakhlak seperti santri dialah santri. Demikian yang dikatakan Gus Mus.

Hikmah yang terkandung dari penamaan ”Hari Santri Nasional” dan bukan ”Hari Kiai Nasional” adalah karena setiap kiai pasti pernah menjadi santri. Sedangkan seorang santri pasti memiliki kiai, dan begitu seterusnya terdapat persambungan keilmuan dari santri hingga ke kiai-kiainya.

Seorang Hasyim Asy’ari pernah nyantri kepada Syekhona Kholil Bangkalan. KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, keduanya juga pernah berguru kepada Syekh Ahmad Khotib Al Minangkabawi hingga seterusnya rantai keilmuannya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Keduanya juga pernah nyantri kepada Mbah Sholeh Darat, Semarang. Maka, penamaan Hari Santri Nasional memberi pesan akan pentingnya sanad atau silsilah (rantai) keilmuan seseorang. Ketika seseorang memiliki guru, keilmuannya bersanad. Sehingga apa yang dia sampaikan dan lakukan ketika berdasar ilmu yang dia miliki dapat dipertanggungjawabkan.

Seorang tokoh sufi Abdullah bin Mubarok mengatakan, ”Al isnad (sanad keilmuan) adalah bagian dari agama. Jikalau tidak ada ’isnad’, maka orang berbicara semaunya sendiri.” Perjuangan para kiai dan ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan tentu berdasar keilmuan yang memiliki sanad atau silsilah keilmuan. Maka, perjuangan mereka dapat dipertanggungjawabkan dan kita sebagai para santri bertanggung jawab untuk meneruskan perjuangan.

Kisah heroik para kiai dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia harus diketahui dan dimaknai secara mendalam oleh para santri. Dengan meneladani kisah heroik para kiai dan santri, akan muncul dua hal penting dalam diri santri, yaitu patriotism dan self-confidence. Patriotism atau patriotisme yang berarti sifat kepahlawanan atau jiwa pahlawan adalah sikap yang berani, pantang menyerah, dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Berapa banyak kiai dan santri yang terjun ke medan perang dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan? Sejarah telah membuktikan akan banyaknya kontribusi para kiai dan santri dalam menegakkan kemerdekaan.

Dalam pertempuran 10 November 1945 para kiai dan santri bertekad untuk berjuang dan berani mati dalam mempertahankan kemerdekaan. KH Hasyim Asy’ari mengomando para santri untuk berperang dan pantang mundur dalam berjuang. KH Abbas dari Pondok Pesantren Buntet bersama para santri jauh-jauh dari Cirebon ke Surabaya tidak patah semangat dalam berperang. KH Wahab Hasbullah dari Pondok Pesantren Tambakberas Jombang mengobarkan api semangat perjuangan para santri untuk melawan penjajah dan sekutu.

Dari Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Mahrus Aly, setelah mendengar kabar dari Mayor Mahfudz tentang kondisi Surabaya yang sedang darurat, seketika itu beliau mengatakan, ”Kita harus pertahankan kemerdekaan ini sampai titik darah penghabisan.” Beliau berkoordinasi dengan Pasukan Santri dan Laskar Hizbullah untuk merancang strategi peperangan. Bahkan, beliau berperan sebagai komandan Laskar Hizbullah Lirboyo serta terlibat langsung dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya bersama puluhan santri Lirboyo. Dan masih banyak lagi sejarah yang mengisahkan perjuangan para kiai dan santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia.

Dari sejarah tersebut dapat kita petik kesimpulan bahwa pondok pesantren harus mampu mengorientasikan santri-santrinya untuk menjadi pejuang yang militan dalam mengisi kemerdekaan. Sebagai anak bangsa yang hidup di era saat ini, semangat para santri dalam belajar dan rela berkorban dalam menuntut ilmu adalah salah satu bentuk sifat kepahlawanan. Kepedulian para santri dalam permasalahan bangsa adalah termasuk bentuk jiwa pahlawan.

Selain patriotism, meneladani sejarah perjuangan para kiai dan santri dapat menumbuhkan self-confidence atau kepercayaan diri bagi santri. Rasa percaya diri ini tumbuh dilatarbelakangi oleh dua faktor utama, yaitu bukti sejarah dan pendidikan pesantren. Sejarah membuktikan dengan jelas bahwa para pendahulu kita adalah para pejuang yang berkontribusi dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Maka, sebagai generasi penerus, kita harus memiliki kepercayaan diri dan mampu meneruskan perjuangan. Pendidikan pesantren juga menjadi faktor yang membuat kita harus percaya diri dalam mengisi kemerdekaan.

Sejarah juga telah membuktikan, kitab-kitab kuning yang dipelajari para pendahulu kita mampu menumbuhkan jiwa kepahlawanan mereka dan militansi yang tinggi dalam berjuang. Dalam mengisi kemerdekaan saat ini, tentunya kita tidak boleh merasa minder atau rendah diri. Kepercayaan diri (self-confidence) yang dimiliki santri pasti akan membuahkan hasil yang indah dalam tatanan kehidupan masyarakat.

Joe Namath berkata, ”When you have confidence, you can have a lot of fun. And when you have fun, you can do amazing things (Ketika kamu memiliki keyakinan, kamu dapat memiliki banyak kesenangan. Dan ketika kamu bersenang-senang, kamu dapat melakukan hal-hal menakjubkan).” Ketika mengetahui sejarah perjuangan para pendahulunya, seorang santri akan menjadi generasi tangguh yang memiliki jiwa kepahlawanan, percaya diri dalam berkhidmat untuk bangsa dan negara, serta tidak akan tergoyahkan oleh ideologi yang merusak tatanan para pendahulunya. (*)




*) REZA AHMAD ZAHID, Pengasuh Pondok Pesantren Al Mahrusiyah Lirboyo Kediri, Rektor IAI Tribakti Lirboyo Kediri, Katib Syuriah PBNU

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore