
ABDUL ROKHIM
SEBULAN terakhir, terpaan informasi begitu deras dan keras. Hampir setiap bangun pagi, muncul berita penembakan lagi di Amerika. Sebelumnya, sidang pertikaian rumah tangga menjadi perhatian dunia dan memaksa kita memperhatikan. Sebab, di setiap perkumpulan, ada yang selalu tanya: memihak sang suami atau si istri? Orang sangat ingin tahu urusan orang lain, kemudian menghakiminya.
Bergeser agak siang, ada kabar terbaru tentang keluarga Bapak Ridwan Kamil. Jasad Emmeril Kahn Mumtadz, sang putra sulung gubernur Jawa Barat tersebut, yang meninggal di Eropa akhirnya ditemukan. Saat matahari tepat berada di atas kepala, muncul adegan baku pukul di pinggir jalan tol yang viral di media sosial (medsos).
Pada era digital, semua kesedihan (dan kegembiraan) ditarik semakin dekat. Sebatas gerakan jari di gawai tangan. Muncullah paradoks kelam: informasi peristiwa terkini makin memenuhi isi otak dan memori. Namun, semuanya tidak berdampak signifikan bagi pertumbuhan keterampilan, kecerdasan, (dan jujur saja pendapatan) yang krusial bagi masa depan.
Setiap hari otak kita digempur dengan informasi viral yang datang silih berganti. Dan, entah kenapa kita selalu larut, bahkan ketagihan dengannya.
Jurnal psikologi sosial Universitas Indonesia (UI) tentang social media fatigue (keletihan di media sosial) menyebutkan, kita dapat kesenangan dari media sosial karena informasi menstimulasi hormon dopamin. Dan, hormon yang memicu perasaan senang itu membanjiri otak saat kita bermain medsos.
Kondisi itulah yang mengantarkan terjadinya apa yang sekarang menjadi istilah populer, FOMO (fear of missing out). Takut ketinggalan informasi yang sedang ngetren (happening). Takut ketinggalan informasi terkini (current information) yang lagi viral. Sebuah sindrom kelam yang menjangkiti banyak orang.
Tekanan ganda dirasakan pengelola dan penyampai berita. Sebelum era digital, menjalani laku mencari dan mengolah berita sudah susah. Kejadian istimewa yang menjadi sumber berita besar tidak muncul setiap saat. Tidak setiap hari ada gunung meletus, tokoh terkenal membikin skandal, penemuan ilmiah bahwa manusia berasal dari kadal, misalnya, dan seterusnya.
Sebab, sejatinya tidak ada atau jarang sekali kejadian istimewa sehari-hari. Wartawan harus terlatih membuat sesuatu yang biasa dan sehari-hari menjadi istimewa. Setiap wartawan diharuskan melihat dan mengenali ketidakwajaran. Soalnya, hanya dengan mata tidak wajar, kita dimungkinkan melihat sesuatu yang biasa dan sehari-hari menjadi luar biasa atau istimewa.
Untuk memenuhi tuntutan itu, ada wartawan (kini sudah pensiun) yang setiap pagi melakukan headstand, memosisikan diri kepala di bawah kaki tegak lurus ke atas. Dunia jadi kelihatan terbalik. Wartawan lain memilih naik ke lantai tertinggi gedung Graha Pena (lantai 21) untuk mendapat view burung ke seluruh kota. Dari pandangan tidak wajar seperti itulah, tulisan aneh, nyeleneh, berbeda, dan eksklusif berasal.
Dan, datanglah era digital. Darma yang dijalani penyampai berita bertambah. Pemimpin Redaksi Koran West Australian Anthony De Ceglie dalam sebuah pertemuan pimpinan media bulan lalu menyatakan, media pada era digital berperang setiap hari untuk tetap relevan dengan layanan streaming dan platform media sosial untuk mencuri perhatian audiens yang memiliki waktu yang semakin sedikit.
Apa yang harus dilakukan dalam zaman seperti ini? Jika sebagai konsumen berita, mulailah fokus pada informasi yang berdampak paling nyata (high impact information) bagi peningkatan keterampilan, pengetahuan, dan kualitas hidup.
Abaikan informasi-informasi terkini (current news/breaking news) serta informasi yang tidak berguna meski lagi viral dan dibicarakan jutaan orang di media sosial. Jangan pernah jatuh dalam jebakan informasi yang tidak berfaedah.
Lantas, apa strategi sebagai awak media, perusahaan penyampai berita? Saya sudah mengikuti banyak sekali diskusi dan membaca banyak referensi. Saya sampai pada kesimpulan, jawaban atas pertanyaan tadi tidak pernah mudah. Sebab, jawabannya ada di wartawan dan medianya.
Seberapa jauh wartawan mampu mengendalikan egonya, tidak merasa sudah sempurna, dan tidak cepat berpuas diri, tetapi sebaliknya menyadari betapa banyak hal yang harus terus diperbaiki dan diasah. Mantan Ketua Dewan Pers Bagir Manan menyebutnya jurnalisme mendengar.
Sikap rendah hati dan kemauan menyadari masih banyaknya kelemahan merupakan hal yang penting untuk selalu disadari setiap diri wartawan dan medianya. Tidak boleh ada kata akhir untuk belajar dan meningkatkan kemampuan. (*)
*) Pemimpin Redaksi Jawa Pos 2018–2020

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
