LAHAN di Pulau Jawa memiliki tanah yang paling subur di muka bumi ini. Demikian kata Thomas Stanford Raffles, gubernur jenderal Inggris yang memimpin kolonialisme di Nusantara tahun 1811–1815. Raffles tidak berlebihan. Sebab, tanah di Jawa tersusun oleh material vulkanis hasil erupsi gunung berapi. Karakteristik endapan vulkanis yang porous, kaya nutrisi, dikombinasikan dengan cuaca pegunungan yang sejuk dengan curah hujan tinggi menjadikan ”tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.
Lahan di daerah lereng di bawah puncak sampai kaki gunung berapi, menerus ke bagian dataran vulkanik, merupakan lahan perkebunan dan pertanian sangat produktif. Sampai kini lahan pertanian Jawa tetap menjadi kontributor utama beras penopang ketahanan pangan nasional. Tidak hanya di Jawa, gunung berapi memberi kemanfaatan yang sama di seluruh wilayah NKRI. Tak heran jika tahun 1830 Van Den Bosch memanfaatkannya untuk mendapatkan income sebesar-besarnya guna menutup keterpurukan ekonomi Belanda akibat perang melalui cultuurstelsel.
Endapan hasil erupsi juga menyediakan material bangunan berkualitas tinggi dalam jumlah tanpa batas. Tak jarang memiliki konsentrasi besi sangat tinggi. Bahkan, proses vulkanisme masa lalu telah menghasilkan konsentrasi mineral ekonomi berharga. Di antaranya menjadikan Indonesia penghasil emas dan tembaga top dunia.
Panas dari magma yang berasal dari gunung berapi, yang sudah tidak aktif sekalipun, dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi bersih bebas emisi dan dapat diperbarui. Indonesia memiliki 40 persen potensi panas bumi dunia. Di sektor lain, lanskap pegunungan selalu menghadirkan pemandangan eksotis dengan suhu udara sejuk, menarik untuk hunian maupun rekreasi.
Haruskah Erupsi Gunung Berapi Menimbulkan Bencana?
Lebih dari 130 gunung berapi Kwarter –terbentuk pada periode 2 juta tahun terakhir– yang aktif di seluruh wilayah Indonesia. Seluruh gunung berapi itu terbentuk sebagai hasil proses tumbukan tipe subduksi antarlempeng tektonik. Sama seperti deretan gunung berapi yang terbentuk di pinggiran Samudra (baca: lempeng) Pasifik, sebagai bagian dari cincin api dunia.
Ciri gunung berapi subduksi adalah memiliki magma berasal dari lelehan material lempeng yang saling bertumbukan. Memiliki temperatur relatif rendah sehingga kental. Maka, bentuknya runcing dengan tipe erupsi letusan karena mudah membeku. Berbeda dengan tipe Hawaii yang memiliki magma berasal langsung dari mantel bumi. Maka temperaturnya relatif tinggi, lebih encer, dan landai serta erupsinya bersifat efusif (aliran lava). Konsekuensinya, selama subduksi lempeng masih aktif, erupsi bersifat letusan dari gunung berapi di Indonesia akan tetap terjadi.
Tak bisa disangkal, gunung berapi telah dan akan terus menyediakan sumber daya alam tiada henti kepada penduduk Indonesia, melalui caranya sendiri: erupsi! Di Indonesia, erupsi gunung berapi merupakan satu dari banyak geohazards. Ancaman dari fenomena geologi yang berpotensi merugikan manusia, lingkungan, dan harta benda.
Apakah ancaman harus menelan korban dan menimbulkan bencana? Tidak seharusnya. Sebagai inspirasi, wilayah Jepang merupakan jalur badai tropis yang melintasinya setiap tahun. Saya pernah tinggal selama enam tahun di negara itu, tetapi belum pernah mendengar ada korban manusia akibat badai tropis.
Kita bisa bandingkan dampak oleh kejadian serupa di negara lain di Asia. Penduduk Jepang telah dilatih untuk siap menghadapi ancaman. Mulai pemahaman, cara berpikir, cara menyelamatkan diri, sampai gaya hidup. Dari teori dalam pelajaran sampai praktik –evacuation drill– secara periodik. Dari desain konstruksi rumah sampai tata ruang yang berbasis risiko.
Mitigasi Bencana Gunung Berapi: Solusi Engineering Berbasis Alam dan Komunitas
Indonesia telah memiliki konsep langkah mitigasi erupsi gunung berapi yang diakui secara internasional. Pada dekade 2000-an saya pernah mendampingi tenaga ahli JICA dari Tokyo University Jepang yang melakukan survei tentang resiliensi masyarakat Merapi dan Kelud. Mereka menganggap ketahanan masyarakat Merapi dan Kelud telah teruji dari beberapa kali erupsi.
Mengapa erupsi gunung berapi masih saja memakan korban? Beberapa faktor penyebab, antara lain, perkembangan populasi yang terus meningkat sehingga kebutuhan lahan semakin meningkat, ekstraksi material bangunan yang terus meningkat, dan kemutakhiran peta rawan bencana erupsi yang kalah cepat dengan dinamika gunung berapi. Semua itu mendorong masyarakat cenderung mendekati area yang berisiko lebih tinggi serta menjadi abai terhadap keselamatan jiwanya.
Setuju atau tidak, harus dimaknai bahwa erupsi merupakan proses refilling sumber daya vulkanis yang diberikan telah menurun kualitas dan berkurang kuantitasnya. Kini saatnya menjadikan erupsi gunung berapi tetap sebagai anugerah. Sedangkan ancaman yang menyertainya menjadi berkah tanpa harus menelan korban. Tetapi sebaliknya menjadikan masyarakat semakin pintar. Maka, seharusnya kita berupaya bisa memprediksi kapan proses refilling itu akan terjadi. Memahami karakteristik serta mengetahui seberapa besar dampak yang disebabkan. Ini diperlukan sebagai dasar pertimbangan penyusunan langkah mitigasi.
Tantangan terberat yang dihadapi dalam implementasi langkah mitigasi adalah karakteristik masyarakat sekitar gunung berapi. Pada umumnya mereka enggan meninggalkan tempat tinggal yang dekat dengan kebun, ladang, dan sawahnya sebagai sumber kehidupannya. Sangat bisa dipahami. Pengambil kebijakan harus mempertimbangkan faktor ini. Apalagi jika langkah mitigasi yang diambil harus merelokasi penduduk.
Memang, risiko tidak dapat dihindari, apalagi dihilangkan. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi risiko. Seperti penduduk Jepang yang selalu terancam badai tropis setiap tahun serta gempa dan tsunami setiap saat. Tetapi, mereka tetap tinggal di wilayahnya dengan disiplin menerapkan konsep mitigasi.
Kini saatnya menata peruntukan lahan berbasis risiko bencana di area gunung berapi aktif di Indonesia. Erupsi menjadikan perubahan lanskap sangat dinamis. Setiap gunung berapi memiliki karakteristik berbeda. Demikian pula sosiokultural komunitas masyarakatnya. Sehingga langkah mitigasi tidak hanya menata peruntukan lahan, tetapi juga butuh rekayasa.
Saatnya merancang solusi engineering berbasis alam dan komunitas. Setiap satuan peruntukan lahan harus menunjukkan seberapa besar probabilitas kejadian ancaman dan seberapa berat konsekuensinya. Peruntukan lahan harus mengarahkan ancaman menjauhi permukiman dan menjauhkan permukiman dari ancaman tanpa menjauhkan penduduk dari sumber kehidupannya. Penduduk tetap berdampingan dengan gunung berapi.
Solusi engineering berbasis alam dan komunitas juga perlu membangun secara permanen rumah hunian sementara. Ditempatkan di lokasi yang bebas dari ancaman aliran piroklastik dan tahan dari jatuhan piroklastik. Jauh dari ancaman yang lain seperti banjir lahar, banjir bandang, dan tanah longsor. Disediakan akses yang mudah dan cepat dijangkau dari permukiman dan tempat kerja penduduk. Selain diperuntukkan pada saat tanggap darurat, rumah hunian sementara dapat dipakai untuk kegiatan sosial warga saat kondisi aman. (*)
*) WAHYUDI CITROSISWOYO, Peneliti Pusat Penelitian Kebumian Bencana dan Perubahan Iklim ITS


