Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Maret 2021 | 20.25 WIB

Menyoal Dukungan Psikososial Untuk Atlet All England Indonesia

Dr. Anil Dawan, Dosen Prodi Manajemen Universitas Pembangunan Jaya - Image

Dr. Anil Dawan, Dosen Prodi Manajemen Universitas Pembangunan Jaya

JawaPos.com - Kabar mengagetkan datang dari tim atlet bulutangkis Indonesia. Pada Kamis (18/3), seluruh tim yang siap berlaga di All England harus didiskualifikasi, sebelum mereka berlaga di All England. Sportivitas dunia bulu tangkis dunia sekelas All Egland di uji.

Kali ini yang menjadi korban kebijakan NHS adalah Tim Bulu Tangkis All England Indonesia. Keputusan memilukan itu diambil setelah ditemukannya kasus positif Covid-19 pada penumpang yang satu penerbangan bersama para pebulu tangkis Indonesia.

Rasa gundah dan kecewa menyelimuti selurut atlet, official dan juga pelatih dan seluruh tim rombongan. Tak pelak sebelum bertanding, mereka telah divonis kalah oleh suatu kebijakan yang hingga kini masih dipertanyakan fairness atau keadilannya.

Nampaknya badai Covid-19 tidak hanya memukul sektor industri dan dunia usaha yang harus berjibaku menahan goncangan krisis dan mencegah terjadinya PHK massal karyawannya. Covid-19 telah menyerang sendi-sendi olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas dan keringat para pemain yang telah berlatih dan mempersiapkan diri sebelumnya. Peristiwa diskualifikasi ini menjadi cerminan dan sekaligus potret dampak Covid 19 terhadap dunia olahraga yang meninggalkan jejak nestapa.

Antara Aturan Prokes dan Pemberlakuannya
Sejak covid-19 melanda dunia, perhelatan olahraga dan hampir seluruh kegiatan yang melibatkan komunal kerumunan harus mematuhi aturan protokol kesehatan. Dan aturan-aturan itu selalu saja ada pihak-pihak yang berwenang membuat dan memastikan proses pelaksanaannya, termasuk juga dengan sangsi-sangsi bagi pelanggarnya.

Diujung silang pendapat tentang sebab musabab diskualifikasi, nampaknya pemerintah pada prinsipnya menghormati regulasi penanganan Covid-19 di Inggris. Pemerintah yakin esensi perhelatan olahraga di manapun akan selalu menjunjung tinggi prinsip sportivitas yang mengacu pada perilaku penghormatan, pengakuan dan toleransi hak-hak insan olahraga yang menciptakan persaingan positif tanpa niat merugikan pihak lain atau berlaku curang, baik di dalam pertandingan mau pun di luar pertandingan.

Meskipun keputusan diskualifikasi tersebut diambil sebagai dalih atas urgensi kesehatan para atlet dan ofisial yang ikut mendampingi di Inggris agar terus terjaga hingga kembali ke Tanah Air, namun bukankah pendampingan psikologis atlet mendesak untuk dilakukan juga?

Layaknya kesantunan kita di negara manapun, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Pemberlakuan aturan juga harus diperlakukan secara adil dan transparan. Kaidah-kadidah obyektif pengecekan terhadap riwayat kontak dengan orang yang diduga Covid-19, biasanya dilakukan dengan melakukan mekanisme 3 T: Testing, Tracing dan Treatment.

Pemberlakuan yang aturan yang timpang ini, tidak dialami oleh Tim Bulutangkis All England Indonesia. Mereka diminta pulang tanpa menunggu proses testing terhadap mereka, dan harus urung berlaga di gelanggang demi nama negara, betapa kecewanya?

Dukungan Psikososial Diperlukan
Meskipun kejadian diskualifikasi atlet bulu tangkis All Enggland Indonesia ini bukan sebagai korban langsung dari Covid 19, namun peristiwa ini merupakan dampak tidak langsung dari aturan yang terkait dengan protokol kesehatan Covid 19, akan tetapi nampaknya kesejahteraan jiwa para atlet menjadi hal yang utama.

Menjaga motivasi mereka tetap menyala, dan tak putus asa karena dampak keputusan sepihak yang nyaris mematahkan semangat mereka. Mereka harus tetap disambut sebagai pemenang-pemenang pertandingan. Kondisi psikis yang kecewa merupakan reaksi wajar dan manusiawi saat yang diharapkan tidak menjadi kenyataan, ataupun sebaliknya, tapi bagaimana peristiwa ini tidak menimbulkan trauma yang menanam keeenganan dan semangat mereka untuk bertanding pada event berikutnya.

Memang dalam situasi darurat, tidak semua orang memiliki atau mengalami masalah psikologis. Sebagian besar justru menunjukkan resiliensi. Hal ini dipengaruhi berbagai faktor sosial, psikologis dan biologis yang berinteraksi. Dukungan psikososial adalah dukungan terhadap individu dan kelompok yang terkena dampak bencana secara langsun atau tidak langsung dan bertujuan untuk memulihkan kesejahteraan psikologis dan sosial mereka.

Pendampingan psikologis atlet bulu tangkis All England merupakan bentuk rasa empati dan simpati kepada para pahlawan bangsa melalui dunia olahraga, supaya motivasi dan semangat mereka tetap terjaga. Menghindari sikap menghakimi dan saling menyalahkan apalagi mencari kambing hitam atas kejadian diskualifikasi yang terjadi.

Berikutnya melakukan SOP (standart operating procedure) dan terus berkomunikasi dengan pihak panitia dan stake holder setempat sebagai tuan rumah supaya kejadian serupa tidak berulang.

Manajemen krisis dan resiko perlu diulas dan dibahas pada masa persiapanhingga detilnya sehingga saat pelaksanaan sudah ada mitigasi resiko dengan opsi-opsi pilihannya. Menunjuk juru komunikator yang handal untuk mengkomunikasikannya sehingga proses komunikasi berujung pada problem solving yang win win solution pada akhirnya. Mari kita sambut kepulangan para atlet bulu tangkis kita dengan terus melapangkan dada let it go, berdamai dengan keadaan dan rajut prestasi kedepan dengan persiapan yang lebih matang.

*) Dosen Prodi Manajemen Universitas Pembangunan Jaya

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore