Kepercayaan Sosial dan Kemajuan Negara

Oleh BADRI MUNIR SUKOCO *)
21 November 2022, 19:48:56 WIB

DINAMIKA Indonesia menjelang berakhirnya pandemi Covid-19 relatif tinggi. Kondisi global terkait gangguan rantai pasok, krisis pangan dan energi, perang Rusia-Ukraina yang belum jelas kapan berakhir, maupun ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok meningkatkan skeptisisme akan perekonomian 2023. Meskipun inflasi Indonesia belum separah negara lain, dan harapannya tidak, dinamika global maupun nasional perlu dicermati. Apalagi, mesin politik partai maupun kandidasi pemimpin nasional dan daerah mulai dipanasi, menjadikan perekonomian 2023 makin dinamis.

Dalam situasi penuh ketidakpastian, kondusivitas dibutuhkan agar semua pelaku ekonomi dapat beraktivitas dan resesi terhindarkan. Dalam kondisi dinamis, studi menunjukkan bahwa kepercayaan sosial (social trust) berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Bagaimana Indonesia mengembangkannya?

Kepercayaan dan Perekonomian

Dalam 15 tahun terakhir, secara umum kepercayaan sosial masyarakat global menurun 20 peraen (Deloitte, 2021). Meningkatnya ketimpangan ekonomi, polarisasi politik, dan disrupsi terkait revolusi industri 4.0 dan Covid-19 menjadikan penduduk dunia menurun kepercayaan sosialnya. Kenneth Arrow (peraih Nobel Ekonomi 1972) menyampaikan bahwa transaksi ekonomi akan terjadi bila ada kepercayaan antara kedua pihak, yakni pembeli dan penjual.

Begitu juga untuk layanan publik, transaksi akan optimal bila masyarakat memiliki kepercayaan terhadap pemerintah, begitu juga sebaliknya. Kepercayaanlah yang menjadi dasar terjadinya transaksi ekonomi dan secara kumulatif mendorong pertumbuhan ekonomi. Tentunya, aktivitas ekonomi akan berkurang atau meningkat biayanya bila kepercayaan sosial absen di dalamnya.

Ketika pebisnis, pemerintah, lembaga lain, dan masyarakat memiliki kepercayaan sosial yang tinggi, aktivitas perekonomian akan meningkat. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan GDP per kapita juga akan meningkat. Studi meta-analysis (Smith, 2020) menunjukkan peningkatan 10% tingkat kepercayaan sosial menumbuhkan rerata GDP dunia +0,5%. Simulasi Kalish dkk (2021) menunjukkan bila 50% populasi sebuah negara memercayai satu sama lain akan meningkatkan GDP, meskipun bervariasi.

Yang tertinggi adalah Indonesia, terdampak sebesar 2,3% terhadap GDP atau senilai dengan US$ 24,127 miliar. Dengan kata lain, separo penduduk Indonesia yang saling memercayai satu sama lain akan meningkatkan GDP sebesar +Rp 374 triliun. Menariknya, negara yang memiliki tingkat kepercayaan sosial tinggi, seperti Australia, Inggris, AS, Jepang, atau Korea Selatan, terdampak GDP-nya kurang dari 1%.

Peningkatan GDP tersebut berasal dari peningkatan investasi dan produktivitas. Keputusan investasi akan mudah dilakukan bila kepercayaan sosial tinggi. Dalam beraktivitas ekonomi, rente masing-masing pelaku ekonomi tidak hanya diikat oleh kontrak, namun juga norma sosial dan kepercayaan satu sama lain. Ketidakpercayaan akan meningkatkan biaya, mulai berulangnya negosiasi kontrak atau pengawasan ketat. Kepercayaan sosial akan mengurangi biaya-biaya untuk menghindari atau meminimalkan biaya oportunisme yang ada.

Peningkatan investasi adalah konsekuensinya, khususnya investasi jangka panjang. Hal ini menjadikan pertumbuhan ekonomi lebih stabil dalam jangka panjang. Tingginya kepercayaan sosial juga menjadikan investor dan pelaku usaha yakin untuk mengembangkan talenta yang dimiliki maupun organisasinya.

Kepercayaan, Kriminalitas, dan Korupsi

Studi yang dilakukan oleh Pew Research Center (2008) menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan sosial berpengaruh terhadap kriminalitas dan korupsi. Persepsi akan kriminalitas dan korupsi pada sebuah negara akan menurun ketika kepercayaan sosial tinggi dibandingkan sebaliknya.

Data Pew Global Attitudes menunjukkan, Indonesia memiliki tingkat kepercayaan sosial yang tinggi (skornya 58, sama dengan AS). Adapun skor tertinggi dimiliki oleh Tiongkok (79), diikuti Swedia (78) dan Kanada (71). Menariknya, Indonesia menjadi salah satu outlier dengan skor kepercayaan sosial yang tinggi, namun persepsi akan korupsinya juga relatif tinggi. Dalam ranking yang dikeluarkan Transparency International tahun 2021, Indonesia menempati #96, turun dari #85 tahun 2019. Adapun untuk kriminalitas di Indonesia, sedikit lebih tinggi dibandingkan yang dialami AS.

Rekomendasi

Kontribusi kepercayaan sosial pada pertumbuhan ekonomi menjadi topik menarik dalam lima dekade terakhir. Khususnya fakta bahwa high trust society didominasi negara maju, sedangkan low trust society didominasi negara berkembang. Dari beragam studi, kepercayaan sosial dapat menjadi modal untuk menumbuhkan perekonomian. Pada level makro, kepercayaan sosial tidak hanya menumbuhkan ekonomi dan GDP per kapita, namun juga memperkuat tata kelola pemerintahan yang demokratis dan efisien. Pada level mikro, kepercayaan sosial akan mengurangi biaya transaksi dan meningkatkan inovasi pada produk yang dihasilkan.

Indonesia memiliki waktu 23 tahun untuk menjadi negara maju pada 2045. Ambisi kolektif ini membutuhkan pertumbuhan ekonomi di atas 6,5% agar minimal threshold negara maju versi Bank Dunia terlampaui. Selain transformasi ekonomi struktural, Indonesia perlu mengoptimalkan kepercayaan sosial dalam menumbuhkan perekonomian. Apalagi, dampaknya terhadap GDP relatif besar, berdasar kajian di atas. Kepercayaan sosial tersebut bisa terkait dengan kepercayaan sesama anak bangsa (interpersonal trust) maupun kepercayaan terhadap pemerintahan (institutional trust). Dan keduanya membutuhkan kompetensi serta niat dari pemimpin dan calon pemimpin bangsa untuk memelihara dan meningkatkannya.

Tugas pemimpin bangsa, baik saat ini maupun yang akan datang, adalah menjadikan kepercayaan sosial sebagai prioritas strategis bangsa. Dibutuhkan upaya proaktif yang merangkul semua anak bangsa untuk memperbaiki, membangun kembali, dan meningkatkan kepercayaan sosial. Apalagi, hajatan nasional lima tahunan cenderung menyisakan polarisasi sosial dan mereduksi kepercayaan sosial yang telah ada. Menjadi high trust society merupakan salah satu syarat utama agar Indonesia menjadi negara maju pada 100 tahun kemerdekaannya. (*)


*) BADRI MUNIR SUKOCO, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads