
Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum membuat mural bertema Covid-19 dikawasan Bukit Duri, Jakarta, Minggu (13/9/2020). Pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat penambahan 3.636 kasus baru Covid-19 hingga Minggu pukul 12.00 WIB.
INDONESIA pernah mengalami momen pertumbuhan ekonomi yang negatif. Penyebabnya, tentu shock pada ekonomi yang dampaknya membuat realisasi pertumbuhan ekonomi menjadi minus.
Secara teori, jika pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut, memang akan terjadi resesi. Tapi, sebenarnya dalam kondisi seperti ini pertumbuhan ekonomi negatif sangat mungkin terjadi. Ini bukan pembenaran. Memang kondisinya begitu.
Yang harus diingat, Indonesia memiliki peluang untuk tidak terjadi ’hard landing’. Atau, kalau terjadi shrinking atau penyusutan, tidak akan terlalu dalam. Kenapa? Karena Indonesia memiliki ruang yang lebih luas, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Di negara lain, pertumbuhan ekonomi negatifnya diprediksi sampai lebih dari 20 persen.
Indonesia masih punya ruang karena selama ini ekonominya bersumber dari konsumsi rumah tangga. Artinya, kalau kita tahu bahwa dampak Covid-19 itu jangka panjang, yang harus dilakukan ialah menjaga sumber pertumbuhan ekonomi itu. Diharapkan juga, konsumsi rumah tangga tersebut memanfaatkan produk-produk dalam negeri.
Indonesia masih bisa ’lari’ ke sana kemari. Tinggal bagaimana memaksimalkan strategi. Dengan begitu, harapannya, ekonomi bisa berangsur membaik.
Baca juga: Ekonom ini Sarankan Pemerintah Tak ‘Ngoyo’ Kejar Pertumbuhan Tinggi
Kemudian, kita juga harus punya strategi yang komprehensif. Stimulus yang diberikan kan juga besar. Nah, pertanyaannya, dari angka yang besar itu, lantas berapa yang menjadi captive market pada produk dalam negeri? Kalau stimulusnya besar, tapi larinya tidak ke produk dalam negeri, ya nggak bener. Jadi, jangan fokus saja ke negatifnya. Toh, setelah negatif akan rebound dengan struktur ekonomi yang lebih baik.
Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang saat ini terjadi tentu berpengaruh pada konsumsi masyarakat. Beberapa hal bisa dilakukan untuk jangka pendek. Yakni, melalui penguatan bantuan langsung tunai (BLT). Sementara itu, untuk jangka menengah dan panjang, bantuan bisa dilakukan dengan tidak hanya membeli produk pabrikan besar, tapi justru lebih ke UMKM. Jadi, jutaan UMKM yang mayoritas dari masyarakat menengah ke bawah bisa dimaksimalkan dan terjadi multiplier effect.
Kebijakan pemerintah yang tidak memukul rata PSBB di semua wilayah di Indonesia juga tepat. Strategi per daerah memang harus berbeda-beda. Tidak bisa disamaratakan. Sebab, kasus Covid-19 di tiap daerah juga berbeda.
Hanya saja, setelah itu harus juga dipikirkan bagaimana satu daerah bisa men-support daerah lain. Misalnya, ada daerah yang bisa dioptimalkan sumber pangannya melalui produk pertanian. Strategi itu belum ada, tapi tentu ke depan bisa dilakukan.
*) Disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Dinda Juwita

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
