Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Agustus 2020 | 02.48 WIB

Merdeka dari Resesi Ekonomi

Photo - Image

Photo

KEMERDEKAAN RI memasuki usia 75 tahun. Puji syukur patut dipanjatkan. Konflik berkepanjangan pasca kemerdekaan, G 30 S/PKI, reformasi dan krisis moneter 1998, serta krisis ekonomi 2008 adalah beberapa peristiwa besar dan berpotensi menimbulkan disintegrasi. Namun, Indonesia tetap bersatu, bahkan menjadi kekuatan ekonomi terbesar nomor tujuh dunia pada 2019 (World Economic Forum, 2019). Kabinet Indonesia Bersatu mencanangkan visi untuk lepas dari middle income trap dan mengantarkan RI menjadi negara maju pada 2045.

Namun, pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Lockdown disertai pembatasan mobilitas manusia menjadikan volume penerbangan turun hingga 82 persen, 7,5 juta penerbangan dibatalkan, turunnya pendapatan mencapai 55 persen, serta hilangnya pekerjaan bagi 50 juta orang (International Air Transport Association/IATA, 2020). Industri juga ikut terdampak, khususnya pariwisata, hotel, restoran, maupun jasa angkutan darat. Adapun volume ekspor dan impor anjlok 13–23 persen (Bank Dunia, 2020).

Kondisi di atas menjadikan resesi nyata adanya, tidak terkecuali Indonesia. Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, pertumbuhan Indonesia -5,32 persen pada kuartal II dan diproyeksikan menjadi -1 persen pada kuartal III/2020.

Secara umum, pertumbuhan ekonomi merupakan perbandingan produk domestik bruto (PDB) antara tahun ini dibandingkan tahun lalu. PDB terdiri atas konsumsi rumah tangga, investasi, belanja negara, dan ekspor dikurangi impor. Uraian di atas menunjukkan tiga faktor terakhir sulit diharapkan sehingga konsumsi rumah tangga menjadi harapan terbesar. Bagaimana RI meningkatkan konsumsi rumah tangga agar terhindar dari resesi ekonomi?

Ekonomi Naratif

Narrative Economics (2019), buku yang ditulis Prof Robert J. Shiller (pemenang Nobel Bidang Ekonomi 2013), berargumentasi, mempelajari cerita yang sedang trending adalah langkah awal dan penting bagi pengambil kebijakan untuk memahami perilaku ekonomi individu dan masyarakat. Kemampuan pengambil kebijakan untuk memprediksi, mempersiapkan, dan mengurangi dampak krisis ekonomi (bahkan resesi maupun depresi) akan meningkat dengan memahami ekonomi naratif.

Terdapat dua elemen yang akan memengaruhi epidemiology of narratives. Pertama, cerita word-of-mouth yang menjadikan cerita menjalar. Kedua, upaya yang dilakukan guna membuat cerita baru yang menjalar (new contagious stories) atau membuat cerita semakin menjalar (make more contagious). Apakah cerita yang disampaikan benar atau salah (hoax) akan ditransmisikan oleh word of mouth, media berita, dan tentunya social media. Perekonomian akan terdorong karena naratif yang ada, baik positif maupun negatif, memengaruhi bagaimana konsumen akan berkonsumsi, berinvestasi, menabung, dan melakukan kegiatan ekonomi lainnya. Meskipun ekonomi naratif ini penting, banyak pengambil kebijakan maupun ahli ekonomi yang kurang peduli.

Ukuran yang bisa digunakan untuk melihat cerita apa yang ada di masyarakat adalah consumer confidence index/CCI maupun business confidence index/BCI. Berdasar data yang dikeluarkan oleh Organization of Economic Co-operation and Development (OECD, 2020), Indonesia memiliki CCI tertinggi pada Desember 2019 (100,39) dan Januari 2020 (100,22), bahkan dibandingkan rerata tahun 2019. Sejak pandemi, CCI Indonesia turun dan terendah pada Mei 2020 (91,34) meskipun mulai naik pada Juli 2020 (94,12). Bagaimana dengan Tiongkok, negara asal pandemi? Sepanjang 2019 memiliki rata-rata CCI sebesar 99,15 dan jatuh ke level terendah pada Februari 2020 (85,43). Pada Juli, levelnya mulai bangkit ke 97,94. Sebelum pandemi, AS memiliki rerata 99,35 pada CCI. Menariknya, meskipun jumlah yang positif Covid-19 dan meninggal karenanya terbesar di dunia, level CCI naik hingga 97,47 bulan lalu (terendah pada April: 92,63). Hal ini akan berakibat pada tumbuhnya konsumsi domestik di Tiongkok dan AS lebih tinggi dibandingkan dengan RI.

Untuk BCI, rerata 37 negara anggota OECD sebesar 98,39 dalam enam bulan terakhir. Sedangkan RI mulai menurun dari awal 2020 ke level 98,37 (Juni), turun tipis dibandingkan rerata tahun 2019 (99,57). Adapun AS sempat mengalami penurunan selama tiga bulan berturut-turut (Maret, April, dan Mei 2020). Menariknya, pada Juni justru meningkat ke level 100,18. Tiongkok mengalami level BCI terendah pada Februari (94,52) (jauh lebih rendah dibandingkan rerata 2019 yang mencapai 98,11). Namun, pada Juni naik menjadi 99,44. Tentu tren yang semakin membaik pada level BCI (OECD, AS, Tiongkok, dan RI) ini menunjukkan bahwa para pebisnis optimistis bahwa resesi segera berakhir.

Selain itu, survei dwimingguan oleh McKinsey pada 45 negara menunjukkan warga negara Korea Selatan, Afrika Selatan, dan Meksiko akan mengurangi pengeluaran rumah tangganya > 20 persen dalam dua bulan ke depan. Menariknya, Indonesia memiliki level tertinggi di dunia untuk penduduk yang berencana meningkatkan pengeluaran rumah tangganya > 25 persen. Dari sisi optimisme, UEA, Saudi, dan Tiongkok memiliki penduduk yang paling optimistis dibandingkan negara lain. RI memiliki peringkat optimisme ke-7, di bawah India.

Rekomendasi

Pada HUT Ke-75 Kemerdekaan RI, kita sedang diuji dengan pandemi Covid-19 dan resesi yang bila salah kelola bisa menjadi depresi ekonomi. Pemulihan yang ditugaskan ke Satgas Pemulihan Ekonomi perlu memahami perilaku ekonomi masyarakat dan ekonomi naratif dapat menjadi alternatif pendekatan yang efektif.

Menurut Badan Pusat Statistik (2019), konsumsi rumah tangga berkontribusi 56,62 persen PDB Indonesia. Dari jumlah tersebut, middle class (MC) Indonesia sebanyak 52 juta orang menyumbang setengah konsumsi rumah tangga (Bank Dunia, 2020). Yang patut menjadi perhatian bagi pemerintah adalah MC 1 (Rp 1,2 juta–Rp 3,2 juta per orang per bulan) memiliki proporsi 90 persen, adapun MC 2 (Rp 3,2 juta–Rp 6 juta) hanya 10 persen. Resesi yang terjadi saat ini sangat riskan bagi MC 1 untuk turun ke aspiring middle class (AMC, Rp 532 ribu–Rp 1,2 juta) sehingga konsumsi rumah tangga di RI sulit untuk tumbuh. Tentu percepatan belanja negara Rp 1.700 triliun pada kuartal III–IV bisa menjadi harapan, khususnya bantuan langsung ke masyarakat maupun program lain untuk UKM, guna meningkatkan konsumsi dan menggerakkan perekonomian.

Uraian di atas menunjukkan bahwa RI memiliki kondisi yang menjanjikan untuk bangkit dari resesi ekonomi. Optimisme yang dimiliki WNI disertai kesediaan untuk berbelanja adalah kunci peningkatan konsumsi rumah tangga. Penciptaan harapan dan optimisme baru yang diyakini masyarakat adalah resep utama RI segera merdeka dari resesi. (*)




*) Badri Munir Sukoco, Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=3Iqhc4Ah2D4

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore