Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Maret 2019 | 17.54 WIB

Jihad Kebangsaan

Ilustrasi - Image

Ilustrasi


Adapun pemerintahan ketuhanan dipropagandakan melalui skeptisisme pada Pancasila dan promosi sistem khilafah sebagai solusi atas seluruh problem kebangsaan kita. Sedangkan jihad atas nama Tuhan dipropagandakan melalui pemilu sebagai perang yang harus disongsong dengan jihad politik antara yang suci dan yang zalim (thoghut).


Lalu, apa solusinya?


Tak lain kecuali dengan mengakomodasi nilai-nilai kemanusiaan dengan menawarkan nalar yang secara filosofis lebih memihak kepada manusia, tanpa menegasikan Tuhan. Yakni nalar Islam antroposentris.


Sebuah nalar yang dibangun di atas prinsip-prinsip dasar Islam bahwa tauhid diproyeksikan untuk menyelamatkan manusia dari otoritarianisme, kasih sayang Tuhan meliputi segala sesuatu, manusia adalah makhluk yang dimuliakan (QS Al Isra': 70) sebagai entitas yang ditiupkan dari ruh Ilahi (QS Al Hijr: 29) dan diberikan kebebasan (free will) dan kemerdekaan dengan akalnya (termasuk untuk memilih agamanya sebagai hak dan tak boleh dipaksa) yang jika membunuh satu orang saja seperti membunuh semua manusia (QS Al Maidah: 32).


Sehingga, dengan nalar sehat semacam itu, agama (Islam) tak lagi bisa dijadikan propaganda sakralisasi dehumanisasi dan religionisasi kekerasan. Tapi justru menjadi kekuatan sakralisasi kemanusiaan dan religiuisasi perdamaian. (*)


*) Peneliti di Gerakan Islam Cinta

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore