alexametrics

Banjir-Longsor dan Narasi Fikih Lingkungan

Oleh SUPARTO WIJOYO *)
19 Februari 2021, 19:48:18 WIB

HARI-HARI ini Nganjuk memberikan pekabaran. Duka lara yang disemat melebihi Jombang, Lamongan, Pasuruan, Jember, DKI Jakarta, Semarang, maupun Banjar yang diterjang banjir bandang. Kota dan desa, sawah dan ladang, maupun gunung dan hutan tampak menyeringai perih. Jalan Jaksa Agung Suprapto, Nganjuk, tenggelam. Tanah longsor di Selopuro, Ngetos, yang terjadi Minggu (14/2) mengakibatkan 13 rumah rusak dan 21 warga tertimbun.

Keluh menyeruak menyentak dengan lelehan air mata. Kisahnya serupa dengan yang pernah mendera Tangkil, Banaran, Pulung, Ponorogo, 1 April 2017. Terselip alur cerita yang menorehkan nestapa kolosal tanah longsor. Sebanyak 28 orang dan 32 rumah tertimbun, 300 jiwa terdampak, 4–15 hektare area persawahan rusak, 1.655 personel diterjunkan untuk evakuasi, dan 7 alat berat dikerahkan.

Bukan Salah Hujan

Itu semua merupakan realitas kehancuran ekologis yang besar. Mengapa tragedi banjir-longsor mentradisi dengan intensitas hujan dijadikan sebagai ’’terangka’’? Pahami bahwa penyebab utama longsor bukanlah air hujan, melainkan buruknya perlakuan kepada alam. Atas nama investasi, industri menyergap kawasan lindung dengan pabrik-pabriknya. Mereka sangat fasih membincangkan angka-angka komoditas tanpa keterampilan mendeteksi kezaliman ekologi.

Kerusakan daerah aliran sungai dan pembukaan hutan di wilayah hulu adalah penyempurna banjir. Tentu saja kerakusan lingkungan ini mengentak batin yang tidak terperikan. Adakah banjir ini dirancang bangun mentradisi dan ekstremitas cuaca dijadikan sebagai sang tertuduh? Banjir pada dasarnya hanyalah ’’panen raya’’ dari kebijakan salah tindak. Longsor dan banjir bukan fenomena alam yang mendadak, melainkan produk dari laku destruktif yang panjang.

Menempatkan hujan sebagai instrumen pemroduksi banjir adalah pertanda kemungkaran. Narasi religius mengajarkan bahwa hujan itu nikmat, bukan laknat, apalagi sebagai kutukan. Banjir yang merenggut nyawa, mengisolasi warga, dan menghancurkan tata ruang bukanlah faktor act of God, melainkan rapuhnya planologi teritorial. Hal ini menandakan lemahnya kinerja lingkungan pemda yang tidak memahami klimatologis daerahnya.

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads