G20 dan Evolusionisme Ekonomi Global

Oleh AUGUSTINUS SIMANJUNTAK *)
15 November 2022, 19:48:03 WIB

KELAHIRAN Group of Twenty (G20) tidak lepas dari krisis keuangan dunia pada 1998 yang menghantam banyak negara, terutama di Asia. Krisis ini berakar dari sistem devisa bebas tanpa pengawasan yang memadai sehingga banyak pelaku pasar bebas yang bermodal kuat (individu dan korporasi) bermain bebas di pasar valas. Gelembung ekonomi terjadi akibat dana panas yang dimainkan individu serakah di pasar uang hanya untuk keuntungan jangka pendek dan bersifat spekulatif.

Kekuatan pasar bebas telah melahirkan perilaku individu yang seolah berbisnis untuk kebaikan terbesar bagi semua. Padahal, ia sedang membangun ekonomi global yang rapuh atau high risk. Konsep invisible hands di zona bebas telah melahirkan spirit antiregulasi dalam penguasaan sektor-sektor produksi barang/jasa secara global. Padahal, di Indonesia saja terdapat larangan monopoli barang/jasa melebihi 50 persen pangsa pasar yang bukan produknya sendiri.

Demikian pula larangan kartel dan monopsoni (penguasaan pasokan barang/jasa). Tetapi, di pasar global tidak ada batasan semacam ini sehingga kekuatan ekonomi global bisa dalam genggaman tangan segelintir pelaku usaha. Pelaku pasar global seolah tidak butuh regulasi karena kekuatan pasar yang tidak terkendali bisa mengatasi persoalan dirinya sendiri. Bahayanya, seperti teori Darwin, kepentingan individu hewan sering bertentangan atau merugikan spesies mereka sendiri yang lebih luas.

Ulah segelintir orang kuat di pasar bebas bisa merugikan miliaran umat manusia. Yang jelas, pola survival of the fittest (yang terkuat bisa bertahan hidup) bukanlah solusi bagi masyarakat dunia. Evolusionisme ekonomi bisa juga mengarah pada perlombaan kekuatan senjata yang berubah jadi ancaman bagi perdamaian dunia. Invasi Rusia ke Ukraina merupakan salah satu wujud teori Darwin. Invasi ini telah memicu kenaikan harga komoditas global. Perang telah membuat pemulihan ekonomi global pascawabah Covid-19 melambat.

Stok dan supply chain global yang terganggu pandemi diperburuk oleh perang Rusia-Ukraina. Dalam kondisi inilah spirit evolusionisme sedang terjadi (hanya negara kuat yang bisa bertahan). Lihat, menurut data Global Crisis Respons Group (GCRG), setengah negara miskin dunia telah terancam bangkrut akibat pandemi dan perang Rusia-Ukraina. Dari segi sistem ekonomi, Rusia seolah mewakili spirit sosialisme dan Ukraina mewakili Barat (liberalisme).

Artinya, perang evolusionisme ini tak bisa lepas dari kompetisi kekuatan antara ekonomi Timur dan Barat. Meskipun sudah lama masuk ke ekonomi pasar bebas dunia, Rusia tampaknya ingin mengembalikan seluruh pecahan Uni Soviet (lewat Ukraina) sebagai wilayah-wilayah strategis dalam mengimbangi Barat atau North Atlantic Treaty Organization (NATO). Intinya, di balik perang fisik evolusionisme terdapat perang ekonomi untuk mengendalikan aset minyak dan gas alam yang berharga. Ini adalah perang energi di abad ke-21.

Peran Moral Kampus G20

Anehnya, hampir semua ahli, pejabat, dan pengelola pemerintahan di dunia telah berpendidikan tinggi di kampus-kampus ternama G20 dalam menyikapi ragam persoalan dunia. Artinya, ekonomi dunia banyak dibangun oleh para lulusan kampus top dunia berdasar prestasi riset-riset yang terindeks Scopus, Google Scholar, Thomson Routers, dan sebagainya. Jumlah jurnal internasional yang masuk Scopus pun terus bertambah dari masa ke masa. Kenyataannya, kompetisi dunia kampus global, terutama kajian ekonomi, tidak banyak membawa moral dunia ke arah yang lebih baik, tetapi justru kian banyak masalah.

Problem utama bukan hanya soal perang dan naiknya harga minyak dunia, tetapi juga kerusakan lingkungan, pemanasan global, banjir, kemiskinan, korupsi, penyakit menular, dan lain-lain. Kalau begitu, peradaban ekonomi macam apa yang dibangun para lulusan kampus G20? Dalam kondisi ini kita patut menyoal esensi pendidikan dan riset di kampus-kampus global. Alangkah tragisnya jika dunia kampus telah menjadi sumber racun evolusionisme yang memisahkan ajaran ketuhanan dari riset, termasuk riset ekonomi dan bisnis.

Bahayanya, teori ini menganggap manusia sebagai binatang yang paling cerdas sehingga perilaku manusia pun sungguh berbahaya karena persaingan telah mengabaikan moral ketuhanan. Perang antarnegara merupakan wujud kompetisi yang mirip hewan. Hitler (Jerman) dulu pernah merasa rasnya lebih unggul dari bangsa lain sehingga ia ingin memusnahkan bangsa Yahudi. Dalam sejarah dunia sains, spirit evolusionisme kian populer sejak abad ke-18.

Perang dan konflik antarnegara merupakan perilaku evolusionis dengan semangat saling ingin menghancurkan. Di tengah makin terbatasnya sumber energi tak terbarukan di perut bumi, minyak bumi sudah menjadi barang penting yang bisa jadi pemicu konflik. Kian berbahaya jika teori Thomas Hobbes akhirnya terjadi dalam perang energi, yaitu manusia menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Khawatirnya, dalam perang energi, banyak negara semakin berparadigma survival of the fittest.

Tiap negara hanya mementingkan diri atau bloknya. Ini tantangan bagi G20. Perang fisik dan ekonomi merupakan puncak evolusionisme sekaligus jadi bukti bahwa manusia bisa lebih kejam daripada binatang buas. Karena itu, kita patut menyoal moralitas para lulusan philosophy of doctor (PhD) dari berbagai kampus dunia. Jangan-jangan semakin banyak lulusan kampus global justru semakin membawa spirit evolusionisme terhadap peradaban manusia. Evolusionisme ekonomi kian parah ketika spirit ini berpadu dengan materialisme dan hedonisme sehingga dunia kampus pun cenderung melakukan riset karena driven by money.

Produk-produk riset yang seharusnya mengabdi kepada kemanusiaan dan keadilan justru kian mengarah pada paradigma yang menghalalkan segala cara untuk meraih profit yang sebesar-besarnya. Ini menjadi tantangan sekaligus refleksi bagi pemimpin dunia dan kampus-kampus global. Pilihannya: kampus melahirkan lulusan yang meninggikan ajaran cinta kasih plus kebaikan atau sebaliknya, kampus malah menjadi sumber manusia evolusionis yang suka perang merebut energi. Ini pun tantangan bagi G20. (*)


*) AUGUSTINUS SIMANJUNTAK, Dosen Program Business Management SBM Universitas Kristen Petra Surabaya

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads