
AUGUSTINUS SIMANJUNTAK
KELAHIRAN Group of Twenty (G20) tidak lepas dari krisis keuangan dunia pada 1998 yang menghantam banyak negara, terutama di Asia. Krisis ini berakar dari sistem devisa bebas tanpa pengawasan yang memadai sehingga banyak pelaku pasar bebas yang bermodal kuat (individu dan korporasi) bermain bebas di pasar valas. Gelembung ekonomi terjadi akibat dana panas yang dimainkan individu serakah di pasar uang hanya untuk keuntungan jangka pendek dan bersifat spekulatif.
Kekuatan pasar bebas telah melahirkan perilaku individu yang seolah berbisnis untuk kebaikan terbesar bagi semua. Padahal, ia sedang membangun ekonomi global yang rapuh atau high risk. Konsep invisible hands di zona bebas telah melahirkan spirit antiregulasi dalam penguasaan sektor-sektor produksi barang/jasa secara global. Padahal, di Indonesia saja terdapat larangan monopoli barang/jasa melebihi 50 persen pangsa pasar yang bukan produknya sendiri.
Demikian pula larangan kartel dan monopsoni (penguasaan pasokan barang/jasa). Tetapi, di pasar global tidak ada batasan semacam ini sehingga kekuatan ekonomi global bisa dalam genggaman tangan segelintir pelaku usaha. Pelaku pasar global seolah tidak butuh regulasi karena kekuatan pasar yang tidak terkendali bisa mengatasi persoalan dirinya sendiri. Bahayanya, seperti teori Darwin, kepentingan individu hewan sering bertentangan atau merugikan spesies mereka sendiri yang lebih luas.
Ulah segelintir orang kuat di pasar bebas bisa merugikan miliaran umat manusia. Yang jelas, pola survival of the fittest (yang terkuat bisa bertahan hidup) bukanlah solusi bagi masyarakat dunia. Evolusionisme ekonomi bisa juga mengarah pada perlombaan kekuatan senjata yang berubah jadi ancaman bagi perdamaian dunia. Invasi Rusia ke Ukraina merupakan salah satu wujud teori Darwin. Invasi ini telah memicu kenaikan harga komoditas global. Perang telah membuat pemulihan ekonomi global pascawabah Covid-19 melambat.
Stok dan supply chain global yang terganggu pandemi diperburuk oleh perang Rusia-Ukraina. Dalam kondisi inilah spirit evolusionisme sedang terjadi (hanya negara kuat yang bisa bertahan). Lihat, menurut data Global Crisis Respons Group (GCRG), setengah negara miskin dunia telah terancam bangkrut akibat pandemi dan perang Rusia-Ukraina. Dari segi sistem ekonomi, Rusia seolah mewakili spirit sosialisme dan Ukraina mewakili Barat (liberalisme).
Artinya, perang evolusionisme ini tak bisa lepas dari kompetisi kekuatan antara ekonomi Timur dan Barat. Meskipun sudah lama masuk ke ekonomi pasar bebas dunia, Rusia tampaknya ingin mengembalikan seluruh pecahan Uni Soviet (lewat Ukraina) sebagai wilayah-wilayah strategis dalam mengimbangi Barat atau North Atlantic Treaty Organization (NATO). Intinya, di balik perang fisik evolusionisme terdapat perang ekonomi untuk mengendalikan aset minyak dan gas alam yang berharga. Ini adalah perang energi di abad ke-21.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Tak Singgung Pengunduran Diri, Ini 6 Poin Pernyataan Jampidsus Febrie Adriansyah Usai Rumahnya Digeledah Polisi
Prediksi Skor Prancis vs Maroko: Bandar Taruhan Klaim Les Bleus Menang 90 Menit, Opta Beri Peluang Pasti 60,9 Persen
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
