
Photo
ADA beragam sikap penumpang menjelang keberangkatan Sriwijaya Air SJ182. Dari beragam berita yang muncul, setidaknya bisa dirangkum menjadi dua klaster. Pertama, sejumlah penumpang dengan berbagai alasan masing-masing tidak jadi menumpang Sriwijaya Air SJ182 dan memilih membatalkan, menunda, mengganti penerbangan. Atau, mengganti moda dengan kapal laut untuk keberangkatan ke Pontianak. Kedua, ada 62 penumpang, termasuk kru, yang terdaftar di manifes pesawat dan ikut dalam penerbangan Sriwijaya SJ182 yang kemudian diketahui jatuh di perairan Kepulauan Seribu.
Setelah jatuhnya Sriwijaya Air SJ182, wacana takdir muncul dan mendominasi alam pikiran masyarakat Indonesia bahwa penumpang yang selamat karena faktor takdir. Begitu juga penumpang yang menjadi korban disebabkan faktor takdir. Argumen lain yang mencoba mengaitkan peristiwa ini dengan faktor nontakdir, lebih tepatnya faktor sains, juga muncul, seperti disampaikan kalangan tim Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) dan analis penerbangan.
Menurut Frans Wenas, investigator senior KNKT, sambil menunggu dibukanya data pada black box pesawat, ada tiga kemungkinan skenario penyebab jatuhnya Sriwijaya Air SJ182. Pertama, ledakan oleh bahan peledak, bahan bakar, atau yang lain. Kedua, cuaca buruk yang membuat Sriwijaya Air SJ182 terbang abnormal. Seharusnya terbang lurus, namun karena cuaca buruk pesawat mengalami posisi abnormal. Ketiga, posisi terbang abnormal mengakibatkan kerusakan struktur pesawat sehingga pesawat menukik ke laut dan meledak ketika bertemu permukaan air.
Jika mengikuti paradigma berpikir jabariah yang dipelopori Jahm bin Sofwan, terkait musibah Sriwijaya Air SJ182 akan muncul pernyataan bahwa segala tingkah laku manusia sudah ditakdirkan oleh Sang Pencipta. Penting ditegaskan di sini bahwa kalimat ’’sudah ditakdirkan oleh Sang Pencipta’’ dalam alam pikiran jabariah adalah manusia tidak memiliki kuasa sedikit pun dalam menentukan perjalanan hidupnya. Mereka berargumen dengan Alquran surah Al A’raf ayat 34, ’’Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.’’
Paham ini tentu ditolak oleh paradigma berpikir muktazilah yang dipelopori Wasil bin Atho. Counter idea yang disuguhkan muktazilah tidak jauh dari pernyataan bahwa musibah Sriwijaya Air SJ182 karena kesalahan manusia (human error). Argumen muktazilah mengacu pada surah Ara’ad ayat 11, ’’Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.’’
Juga surah Al Baqarah ayat 286, ’’Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya.’’ Dalam konteks ini, Al Baqarah ayat 286 dapat dimaknai ’’Ia mendapat keselamatan perjalanan dari kecermatan maintenance pesawat yang diusahakan manajemen.’’
Tarik-ulur penyebab musibah antara faktor takdir Tuhan (wahyu) dan faktor kesalahan manusia (sains/akal) dalam musibah Sriwijaya Air SJ182 masih berlangsung setidaknya sampai satu tahun ke depan ketika data rekaman pada black box pesawat bisa diungkap. Satu pihak akan terus-menerus mengedepankan faktor wahyu tanpa mengakomodasi faktor akal. Begitu juga sebaliknya.
Tarik-ulur yang belum berkesudahan seperti ini oleh Noel J. Coulson (1969) disebut sebagai conflict and tension (konflik dan ketegangan) dalam hukum. Menurut Harun Nasution (1995), yang diperlukan masyarakat Indonesia adalah upaya merasionalisasikan pemahaman dogmatis keagamaan. Wahyu yang dibawa para nabi pada hakikatnya memberikan dasar-dasar. Adapun tugas akal adalah menjelaskan apa yang disampaikan wahyu. Penggunaan akal dalam memahami wahyu disebut dengan ijtihad.
Dalam perspektif Muhammad Iqbal (2007), ijtihad adalah metode intelektual untuk menciptakan kreativitas berpikir (the intellectual method to create an intellectual creativity). Konsep Iqbal ini penting untuk menjadi pertimbangan berbagai pihak yang ingin melihat faktor penyebab terjadinya musibah Sriwijaya Air SJ182. Dengan begitu, pesan-pesan Tuhan dalam bentuk wahyu menjadi panduan primer dan menjadi inspirasi serta frame berpikir.
Di sisi lain, harus ada analisis saintis terhadap kecelakaan yang ada. Dengan harapan ada ibrah, kejelasan, dan ditemukan petunjuk serta rekomendasi bagi kehidupan manusia ke depan yang lebih aman dan nyaman. Bagaimanapun, pengalaman yang sudah terjadi harus menjadi pelajaran dan perbaikan pada masa kini dan yang akan datang (the experience is the best teacher).
Pandangan Harun Hasution dan Iqbal di atas bahwa ’’wahyu dan akal sama-sama penting dan strategis bagi keamanan dan kenyamanan hidup manusia’’ memiliki linieritas dengan paradigma berpikir mazhab Sunni yang dipelopori Abu Musa Al Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturidi. Paradigma Sunni menempatkan faktor akal dan faktor takdir Tuhan selalu beriringan. Kedua faktor ini menyertai setiap peristiwa yang dialami manusia.
Baca Juga: Gedung Sudah Dipesan, Undangan Telah Disebar
Dalam kerangka berpikir Sunni, terkait musibah Sriwijaya Air SJ182 akan muncul statemen bahwa manusia sudah berusaha memaksimalkan perawatan (maintenance) pesawat, tetapi Tuhan Maha Berkehendak atas segala sesuatu (al insan bi al tafkir wa Allah bi al taqdir). Pemahaman yang diusung paradigma Sunni, yang mengakomodasi berbagai faktor yang ada serta menggabungkan kandungan berbagai ayat secara sinergis dan tidak sepotong-potong ini, oleh Imam Suprayogo dengan mengembangkan terminologi awal Alan Barbour disebut model berpikir integratif. Dan oleh Amin Abdullah disebut model berpikir interkonektif.
Dengan demikian, penting bagi siapa saja menggunakan paradigma berpikir integratif-interkonektif dalam membaca, mencermati, dan memahami musibah Sriwijaya Air SJ182. Diperlukan spiritual quotient (SQ), intelligence quotient (IQ), emotional quotient (EQ), dan transcendental quotient (TQ) untuk mengambil hikmah di balik musibah Sriwijaya Air SJ182. Semoga para korban mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
