alexametrics

Yang Benar ’’Kongkorongok’’, Yang Lain Salah

Oleh EKA KURNIAWAN, Novelis
12 Juli 2020, 12:11:04 WIB

SEPERTI apakah suara anjing menggonggong? Menurut orang Indonesia, ’’Guk! Guk!’’. Orang Inggris ternyata tak sepakat. Menurut mereka, suara anjing menggonggong adalah, ’’Woof! Woof!’’.

Ternyata tak perlu jauh-jauh. Orang Sunda dan Jawa yang tinggal di satu pulau berbeda pendapat tentang suara ayam jantan berkokok di pagi hari.

’’Kongkorongok,’’ demikian terdengar di telinga orang Sunda, sementara bagi orang Jawa, ’’Kukuruyuk’’.

Kita tahu dalam ilmu bahasa itu namanya onomatope. Bagaimana suara yang sama diekspresikan dengan cara yang berbeda? Pertama, tentu karena sistem bahasa dan aksaranya berbeda. Kedua, saya yakin juga karena persepsi atas bunyi juga berbeda.

Bayangkan jika di satu ruangan ada tiga orang yang mendengar suara dari balik pintu. Bagi yang penakut, ia membayangkan suara kuntilanak seperti di film horor. Yang senang binatang hanya akan menganggapnya suara anak kucing. Yang lain menganggap itu suara pohon berderik kena angin.

Bunyi sesungguhnya tak lagi penting. Yang penting adalah apa yang sampai di telinga pendengar dan bagaimana mereka menafsirkannya. Ini tentu dipengaruhi banyak hal: pengetahuan, pengalaman, trauma, kebiasaan, pengaruh lingkungan, kebudayaan, dan sebagainya.

Tentu termasuk kondisi tubuh. Budek atau tidak.

Ini tak hanya terjadi dalam urusan mendengar suara. Ini bisa terjadi dengan cara kita melihat sesuatu. Cara menafsir film yang sama-sama kita tonton. Dalam konteks yang lebih kompleks, cara kita memahami satu peristiwa atau dunia.

Belum lama saya melihat foto-foto seni yang mencoba menggambarkan kembali tokoh-tokoh dalam Alkitab. Sang seniman percaya, Yesus dan tokoh-tokoh lainnya seharusnya berkulit gelap.

Tapi, kenapa selama ini di banyak gambar, tokoh-tokoh tersebut terlihat berkulit putih? Tentu karena kebudayaan orang-orang kulit putih telah menciptakan tokoh-tokoh tersebut menjadi putih.

Untuk orang seperti Yesus dan tokoh-tokoh Alkitab saja, dari satu manusia ke manusia lain, dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain, dari satu ras ke ras lain, memiliki persepsi yang berbeda. Sekali lagi, dipengaruhi banyak hal, termasuk kondisi sosial dan politik.

Saya ingat di waktu kecil, saat masih sering pergi ke langgar untuk mengaji, ustad memperkenalkan saya dengan nama-nama seperti Siti Aminah (ibu nabi), Siti Aisyah (istri nabi), juga Siti Hawa (perempuan pertama).

Bertahun-tahun kemudian saya sadar, itu bukan nama mereka sebenarnya. Sejak kapan orang Arab bernama ’’Siti’’? Kenapa tiba-tiba nama mereka jadi Siti? Siti dalam bahasa Jawa (dipinjam dari Sanskerta) berarti bumi, yang merupakan penghormatan terhadap perempuan.

Jadi, karena mereka menghormati perempuan-perempuan itu, orang Jawa sungkan hanya menyebut nama. Harus ditambahi Siti. Tapi, karena itu khas Jawa, pada saat yang sama saya merasa nama-nama itu demikian dekat. Seolah Siti Aminah, Siti Aisyah, Siti Hawa, lahir dari rahim kebudayaan Jawa sendiri.

Hanya dengan penambahan satu kata, sebuah imaji kultural yang bersifat Jawa tiba-tiba menyelimuti sosok perempuan-perempuan tersebut. Itu pada akhirnya membuat bayangan orang Jawa tentang mereka menjadi berbeda dengan kelompok kebudayaan yang lain.

Para filsuf dan ahli sastra memiliki teori-teori canggih untuk menjelaskan hal ini. Bahwa makna sebuah teks tak pernah bersifat tunggal. Tak perlu bertanya kepada pencipta teksnya, sebab makna justru diciptakan oleh pembaca. ’’Teks’’ itu bisa berupa suara ayam berkokok, imaji tentang Yesus, atau nama Aminah.

Dalam kasus suara binatang, orang dengan mudah menerimanya sebagai anugerah perbedaan di antara umat manusia. Dalam kasus tiga orang di dalam ruangan, paling banter mereka akan mencoba menghibur si orang yang ketakutan.

Dalam kasus ’’teks’’ agama, persoalannya menjadi tak sesepele ’’Dor! Dor!’’ dan ’’Bang! Bang!’’ (suara tembakan). Itu bisa menjadi pertentangan yang sengit, bahkan meliputi dominasi satu kebudayaan atas kebudayaan lain, bias rasialisme, dan klaim siapa yang paling benar.

Sekarang mari kita kembali ke ayam jantan yang berkokok. Jika Anda percaya Tuhan Maha Pencipta, Anda tentu percaya Tuhan yang menciptakan suara ayam berkokok. Masalahnya, suara seperti apa yang diciptakan Tuhan? Kongkorongok? Kukuruyuk? Cock-a-dooddle-doo? Cocorico?

Ketika membaca Romeo and Juliet, kita tak lagi peduli dengan apa yang dipikirkan oleh William Shakespeare. Setiap pembaca memahami cerita itu dengan cara yang berbeda. Persis seperti itu, kita tak tahu bunyi asli ayam berkokok menurut Tuhan. Yang kita tahu, menurut manusia bunyinya berlainan.

Kecuali suatu ketika ada yang berkata suara ayam menurut Tuhan itu ’’Kongkorongok’’, yang lain salah. Orang ini sangat berkuasa. Orang yang tak sependapat dengannya dikeluarkan dari kelompok atau dihukum. Orang-orang hidup dalam ketakutan dan terpaksa hidup mengikuti pendapatnya.

Para cerdik-pandai menciptakan berbagai penjelasan tentang kebenaran ’’kongkorongok’’, memberi ilusi bahwa hanya ada satu kebenaran tunggal. (*)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads