Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 April 2020 | 02.48 WIB

Glenn, Radang Otak, dan Covid-19

Photo - Image

Photo

DI sela-sela maraknya berita pandemi Covid-19, kita dikagetkan dengan berita wafatnya salah satu musisi terbaik kita, Glenn Fredly, secara mendadak. Sudah ada klarifikasi dari pihak keluarga dan rumah sakit yang merawat bahwa Glenn meninggal akibat radang selaput otak atau meningitis.

Tulisan ini bukan tendensius menghubungkan penyebab meninggalnya Glenn dengan pandemi Covid-19 di Indonesia. Tetapi, kita tahu saat ini media sosial selalu menghubungkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kematian dengan virus korona. Apalagi bila menimpa tokoh publik dan dokter.

Reporter pada salah satu televisi yang meliput berita ini menanyakan ke dokter yang merawat: apakah radang otak bisa tertular dari droplet? Apa penyebabnya virus? Kenapa bisa meninggal mendadak? Bisa kita lihat pertanyaan-pertanyaan itu secara tersirat ingin menggali kemiripan dan kemungkinan keterkaitan dengan Covid-19 yang terjadi saat ini. Apakah Covid-19 juga bisa menyerang otak selain paru-paru?

Meningitis

Meningitis adalah istilah medis dari radang pada selaput otak (meningen). Radang atau infeksi bisaterjadi di semua organ tubuh, tetapi bila infeksi ini terjadi di selaput otak memang cenderung berat dan bisa fatal. Berbeda dengan organ tubuh yang lain, otak adalah struktur yang cukup vital bagi manusia. Sehingga secara anatomi-fisiologi, otak adalah organ yang paling sulit mengalami infeksi dibanding organ lainnya.

Sawar darah otak atau blood brain barrier adalah struktur pertahanan anatomis atau benteng yang hanya ada di otak. Di mana mikroorganisme atau bahan-bahan toksik yang masuk ke tubuh meskipun sudah menyebar ke seluruh organ lain, tetapi tidak mudah menembus dan masuk ke dalam otak. Sehingga pada dasarnya bila seseorang mengalami sakit meningitis atau bahkan encephalitis (infeksi juga masuk mengenai jaringan otak), pasti ada keadaan medis lain yang mempermudah. Misalnya, imunitas tubuh menurun atau menderita penyakit-penyakit lain yang mengakibatkan mekanisme benteng sawar darah otak sudah tidak bisa berfungsi optimal.

Penyebab dari meningitis sangat bervariasi, mulai bakteri, virus, jamur, parasit, hingga yang sering di Indonesia adalah akibat kuman TBC. Mirip dengan Covid-19, penyebab meningitis bisa juga virus atau kuman TBC yang awalnya juga menyerang paru-paru, tetapi dapat menyebar ke selaput otak. Mekanisme masuknya kuman ini ke rongga otak bisa melalui dua cara, salah satunya penjalaran dari organ tubuh lainnya. Misalnya dari infeksi paru, infeksi usus, dll. Sedangkan yang kedua melalui struktur yang dekat dengan otak, misalnya infeksi gigi, infeksi hidung dan sinusitis, serta infeksi telinga.

Tentu saja kuman ini tetap sulit masuk rongga otak, kecuali ada faktor-faktor lain yang mempermudah. Misalnya, ada riwayat diabetes melitus, gangguan imunitas tubuh, malanutrisi, dan usia tua. Infeksi selaput otak sering fatal dan bisa mengakibatkan kecacatan yang menetap. Fatalitas penyakit itu tergantung dari virulensi kuman yang menginfeksi, cepatnya mendapat penanganan medis, dan imunitas tubuh sendiri.

Apa yang menimpa Glenn merupakan salah satu kejadian yang cepat, mendadak, dan memicu kematian. Kita ingat kejadian yang sama menimpa Olga Syahputra dan Giska Putri (putri Ray Sahetapy/Dewi Yull) yang meninggal akibat penyakit yang sama meski sudah mendapat penanganan optimal. Meningitis tidak selalu berakibat fatal. Dengan pengobatan yang cepat dan rutin, penyakit tersebut bisa sembuh sempurna. Artis Juwita Bahar dan Ashanty adalah salah satu yang berhasil sembuh meskipun dengan pengobatan yang cukup lama.

Meningitis dan Korona

Covid-19 adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan mikroorganisme ”baru” coronavirus (SARS-CoV-2). Kali pertama ditemukan di Wuhan, Tiongkok, pada Desember 2019 dan sekarang menjadi pandemi global, termasuk Indonesia. Meski pada 80 persen kasus adalah dengan gejala ringan, sekitar 15 persen kasus membutuhkan bantuan napas dan 5 persen adalah kasus berat yang memerlukan perawatan intensif di ICU.

Masa inkubasi penyakit ini sangat bervariasi antara 2 sampai 14 hari. Penyakit baru dengan kuman yang baru dikenal di dunia medis sehingga konsekuensinya diagnosis dan terapi tentu saja masih dalam penelitian dan bisa berubah dinamis sesuai hasil yang baru. Beberapa laporan pendahuluan dari Tiongkok dan negara lain yang sudah ada pengalaman menunjukkan spektrum yang luas dari penyakit tersebut.

Beberapa komplikasi lain yang dilaporkan juga bisa menyerang jantung (myocarditis) dan ginjal (acute kidney injury), bahkan pada kasus berat bisa terjadi multi-organ failure. Tentu saja bila terjadi komplikasi, itu akan mengakibatkan risiko kematian semakin meningkat.

Yang menarik, ada laporan kasus dari Jepang (International Journal of Infectious Diseases) di mana terbukti bahwa virus korona ternyata juga bisa mengakibatkan radang selaput otak. Itu merupakan laporan kasus pertama pada Maret 2020. Yang menarik juga, spektrum klinisnya juga berbeda dengan Covid-19 yang umumnya terjadi. Kita tahu gejala klinis Covid-19 pada umumnya adalah demam (77–98 persen); batuk (46–82 persen); nyeri otot (11–52 persen); gangguan pernapasan (3–31 persen); dan gangguan pencernaan, mual, serta diare (sekitar 50 persen).

Tetapi, pada pasien ini selain demam dan pusing ringan pada hari pertama, kemudian tiba-tiba pada hari kesembilan mengalami koma mendadak ditemukan terbaring di lantai rumahnya. Selain itu, pemeriksaan awal dari rongent dada, lab darah, dan swab tenggorokan juga negatif. Tetapi, hasil positif SARS-CoV-2 RNA didapatkan di cairan otak.

Hal itu menunjukkan bahwa kita juga harus waspada akan kemungkinan virus tersebut juga bisa langsung menyerang otak. Virus korona bisa mengakibatkan meningitis! Di era pandemi Covid-19 saat ini, mungkin nyeri kepala, gangguan kesadaran, dan kejang juga harus diwaspadai meskipun tanpa gejala batuk.

Perkembangan Covid-19 masih dinamis. Para pakar medis masih dalam perjuangan berlomba dengan waktu memerangi virus mematikan itu. Dengan spektrum klinis yang luas, semua bisa terjadi. Paling tidak, laporan sampai saat ini virus tersebut bisa menyerang tiga organ vital dalam tubuh kita: paru-paru (fungsi napas), jantung (fungsi pompa darah), dan otak (fungsi kesadaran). Wafatnya Glenn Fredly mengingatkan kita secara tidak langsung. Yang bisa kita lakukan adalah social distancing, stay at home, dan stay healthy. (*)




*) Asra Al Fauzi, Dokter ahli bedah saraf, dosen FK Universitas Airlangga, Sekjen Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=oSYts6DPKU4

 

https://www.youtube.com/watch?v=o_SCI4y_UO0

 

https://www.youtube.com/watch?v=j21QVmwHGdk

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore