alexametrics

Tiga Pekerjaan Rumah PDIP

Oleh Kacung Marijan*
9 Agustus 2019, 16:51:22 WIB

KALAU hanya memperhatikan siapa yang akan memimpin PDIP lima tahun mendatang, kongres PDIP 2019 di Bali sudah selesai. Hampir pasti Megawati Soekarnoputri terpilih kembali. Hampir seluruh daerah menginginkan putri Soekarno itu tetap menjadi nakhoda.

Megawati sendiri pun masih bersedia memenuhi permintaan itu.

Tetapi, kongres tentu tidak berhenti sampai di situ. Paling tidak ada tiga isu yang menjadi PR (pekerjaan rumah) PDIP pasca-Pemilu 2019. Pertama terkait dengan kaderisasi kepemimpinan. Kedua terkait dengan konsolidasi organisasi. Ketiga terkait dengan usaha mengawal pemerintahan Jokowi-KH Ma’ruf Amin.

Trah Soekarno

PDIP memang tidak didirikan oleh Soekarno. Tetapi, secara ideologis dan geneologis organisasi, memiliki keterkaitan. Ideologi kebangsaan yang dibangun Soekarno masih menjadi dasar ideologi PDIP. Meski tidak secara berkelanjutan, secara geneologis organisasi, PDIP juga memiliki keterlintasan sejarah dengan PNI yang didirikan Soekarno.

Realitas semacam itulah, antara lain, yang menjadikan PDIP memiliki keterkaitan kuat dengan trah Soekarno. Realitas itu lalu dikaitkan dengan kepemimpinan di PDIP saat ini dan yang akan datang.

Secara normatif, kepemimpinan di PDIP memang tidak menganut model kerajaan, turun-temurun. Tetapi, ikatan ideologis dan historis, kepemimpinan di PDIP masih tidak bisa dilepaskan dari pengaruh trah Soekarno. Paling tidak untuk saat ini dan beberapa waktu yang akan datang.

Realitas semacam itu pula yang memunculkan pertanyaan, trah Soekarno yang manakah yang akan berpengaruh dan mengambil posisi penting pasca-Megawati? Sebab, Megawati sejak 1990-an telah menjadi magnet sentral di PDI, dan kemudian PDIP, trah Soekarno yang terkait langsung dengan Megawati-lah yang sangat mungkin memiliki peluang untuk mengendalikan PDIP pada masa mendatang.

PDIP saat ini memiliki dua anak yang sama-sama memiliki ketertarikan tinggi di bidang politik, yaitu Prananda Prabowo dan Puan Maharani.

Kalau Puan Maharani kelak diplot sebagai ketua DPR, waktu dan tenaganya akan lebih banyak terkuras sebagai pengelola lembaga perwakilan tersebut. Sementara itu, Prananda yang selama ini lebih banyak berperan di dalam PDIP memiliki waktu dan perhatian yang lebih leluasa di dalam pengelolaan partai.

Konsolidasi dan Menjaga Pemerintahan

PDIP sejauh ini telah menunjukkan diri sebagai partai yang mampu menjaga keberlangsungannya. PDIP mampu survive sebagai ”kekuatan oposisi” di dua kurun waktu berbeda, yaitu pada masa-masa akhir pemerintahan Soeharto dan pada masa pemerintahan SBY.

Sebagai konsekuensi kemampuan bertahan itu, PDIP berhasil meraih dukungan yang cukup besar dari pemilih. Pada Pemilu 1999, pemilu pertama pasca-Orde Baru, PDIP memperoleh suara paling besar dan keluar sebagai pemenang pemilu. Demikian pula pada Pemilu 2014, PDIP keluar sebagai pemenang pemilu meski persentase perolehan suaranya masih di bawah Pemilu 1999.

Pertanyaannya, apakah PDIP akan terus survive dan memperoleh dukungan dari pemilih? Ada dua hal penting yang bisa dilakukan PDIP agar tetap menjadi partai besar dan bertambah besar.

Pertama adalah kemampuan melakukan konsolidasi. Transisi kepemimpinan di PDIP bukan sekadar ada tidaknya ”putra” atau ”putri” mahkota, melainkan juga ada tidaknya ”putra” atau ”putri” mahkota yang mampu menjaga keberlanjutan di dalam pengelolaan partai. Adanya konsolidasi menjelang dan pascakongres lalu menjadi isu yang sangat penting.

Selain itu, PDIP menghadapi tantangan kepemimpinan lima tahun mendatang, yakni apakah ”putra” atau ”putri” mahkota yang ada itu dan kader-kader lainnya mampu memperoleh penerimaan yang meluas dari publik.

Kedua terkait dengan jalannya pemerintahan Jokowi-KH Ma’ruf Amin. Ketika pemerintahan Jokowi jilid II mampu mewujudkan program-program dengan baik, itu juga bermakna adanya kredit untuk PDIP. Karena itu, tantangan PDIP saat ini adalah mengawal pemerintahan Jokowi-Ma’ruf agar berjalan secara baik. (*)

*) Guru Besar Unair dan Wakil Rektor Unusa

Editor : Ilham Safutra

Close Ads