
ADITYA REVIANUR
Penjelasan mengenai kemajemukan situs arkeologis zaman Majapahit tentu membutuhkan konsep yang dianut pada masa tersebut. Konsep lanskap wilayah ”negara agung” atau daerah sekeliling ibu kota Majapahit secara horizontal tidak bisa dilepaskan dari konsep triloka yang menjadi rujukan hierarki spasial.
Aranha dalam A Comparison of Traditional Settlements in Nepal and Bali menjelaskan, triloka adalah pembagian lanskap secara hierarkis berdasar tiga dunia dengan sumbu gunung-laut dan matahari terbit-terbenam. Pada pembagian ruang merujuk konsep triloka secara horizontal, sebagaimana dijelaskan pula oleh Soekmono dalam Candi, Fungsi dan Pengertiannya, dunia hasrat yang didiami manusia disebut Bhurloka (Nista). Dunia itu merupakan daerah terendah.
Sementara dunia manusia yang telah meninggalkan hasratnya, tetapi masih terikat keduniawian, adalah Bhuwarloka (Madya). Bhuwarloka atau dunia tengah merupakan simbol mikrokosmos (Bhuwana Alit) yang mencerminkan makrokosmos yang lebih besar (Bhuwana Agung). Daerah tertinggi atau ruang tersuci adalah kediaman dewa di puncak Mahameru yang disebut Swarloka (Utama).
Jika menilik fakta arkeologis di lapangan, penerapan konsep triloka Majapahit bersumbu gunung-laut dimulai dari tepi sungai. Daerah tepi sungai merupakan ruang terendah yang menjadi kawasan perniagaan sebagai simbolisme Bhurloka. Daerah itu identik dengan tepian sungai yang masih diliputi hasrat keduniawian yang direpresentasikan oleh pasar dan permukiman masyarakat biasa. Karena itu, lokasi tersebut tidak layak menjadi tempat berdirinya candi pemujaan yang besar.
Bhurloka berada di sepanjang pelabuhan Sungai Brantas sebagaimana disebut Prasasti Trowulan I (1280 Śaka/1358 Masehi) yang dikeluarkan Raja Hayam Wuruk. Pada prasasti itu disebutkan 44 pelabuhan sungai di tepi Sungai Brantas.
Salah satu pelabuhan sungai dalam Prasasti Trowulan I adalah Canggu yang dipimpin Panji Marggabhaya. Canggu merupakan contoh ruang Bhurloka yang merupakan tempat dengan hierarki terendah dan hanya ada pasar serta permukiman tepi sungai.
Adanya situs-situs arkeologis di tepi aliran Brantas lama seperti Badas, Tugu, dan Mentoro mendukung konsep tersebut. Hanya ditemukan situs arkeologis berkarakteristik permukiman tepi sungai Brantas karena daerah itu merupakan ruang Bhurloka.
Ruang Bhurloka atau daerah terluar dari lanskap horizontal ”negara agung” Majapahit itulah yang menjadi pintu masuk menuju ibu kota.
Menurut Ma Huan dalam Yingyai Shenglan (瀛涯胜览), di sebelah selatan Canggu, berjalan kaki selama satu setengah hari, akan sampai di ibu kota Majapahit yang dihuni 200–300 keluarga. Ibu kota tentu berada jauh dari tepi sungai dan ditempatkan pada daerah yang lebih tinggi dari Bhurloka. Ibu kota di Trowulan merupakan representasi Bhuwarloka yang identik dengan dunia tengah. Karena itu, pada ruang Bhuwarloka tersebut, jumlah keluarga tidak sebanyak di ruang Bhurloka yang dihuni masyarakat biasa dan pedagang.
Penduduk yang tinggal di kutharaja adalah orang terpilih. Terdiri atas pejabat pemerintahan, keagamaan, pedagang kaya, abdi dalem, duta besar, di samping keluarga raja. Pada Bhuwarloka, maharaja Majapahit yang merupakan representasi konsep dewaraja, raja yang berkuasa adalah titisan dewa, tinggal di istana. Di ruang Bhuwarloka dijumpai bangunan candi lengkap yang memiliki bagian kaki-tubuh-atap atau candi pendharmaan bagi tokoh yang telah mangkat. Contoh candi pendharmaan di Bhuwarloka, antara lain, Situs Klinterejo dan Bajang Ratu.
Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dalam Kakawin Nagarakrtagama juga disebut ”istana timur”. Kakawin itu menyebut adanya istana ajaib Raja Wengker. Jika hipotesis istana Majapahit berada di Situs Pendopo Agung hingga Lantai Segienam, di timurnya secara garis lurus sejauh 3,85 kilometer terdapat Situs Kumitir yang diduga merupakan istana ajaib tersebut.
Situs Kumitir seluas 6,4 hektare berada di ruang Bhuwarloka dan sejajar dengan ”istana barat” kediaman Hayam Wuruk. Kesejajaran itu membuktikan adanya ”dualisme” istana –bagian barat diperintah Hayam Wuruk dan timur dipimpin Bhre Wengker– yang ditempatkan pada ruang Bhuwarloka. Tidak jauh dari Situs Kumitir terdapat situs arkeologis lainnya seperti Candi Tikus, Gapura Bajangratu, dan sisa-sisa waduk Kumitir yang telah lenyap.
Ruang tertinggi (Swarloka) merupakan pusat sumbu kosmologis secara horizontal. Swarloka berada di daerah gunung yang lebih tinggi dari Bhurloka dan Bhuwarloka. Prosa Jawa Kuno Tantu Panggelaran menyebutkan, Gunung Mahameru dipindah dari Jambhudwipa ke Jawadwipa (Jawa). Pigeaud dalam De Tantu Panggelaran Een Oud Javaansch Prozageschrift, Uitgegeven, Vertaald en Toegelicht menjelaskan, pemindahan itu ditujukan untuk menstabilkan Pulau Jawa. Pemindahan Mahameru memiliki konotasi menjadikan Pulau Jawa sebagai pusat dunia baru.
Ketika Mahameru dipindahkan ke Jawa dari India, beberapa bagian tubuhnya jatuh tercecer sehingga membentuk Gunung Katong, Wilis, Kampud, Kawi, Arjuna, dan Kumukus. Mahameru di Jawa dikenal sebagai Semeru yang mana puncaknya dipotong kembali karena kondisi Jawa masih belum stabil. Puncak Mahameru yang terpotong itu akhirnya jadi Gunung Penanggungan yang pada zaman Majapahit dikenal sebagai Pawitra.
Penanggungan dengan masifnya kepurbakalaan yang ada pada lerengnya membuktikan gunung itu sebagai puncak Mahameru yang suci. Daerah itu disakralkan pada masa Majapahit karena representasi Swarloka. (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
