Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Maret 2024, 17.28 WIB

Mengatasi Kafir Ekologis

FATHORRAHMAN GHUFRON - Image

FATHORRAHMAN GHUFRON

INDONESIA darurat bencana dalam beberapa hari terakhir. Luapan banjir terjadi di mana-mana. Di Demak, misalnya, 88 desa banjir, 12.982 warga mengungsi (Jawa Pos, 18/3). Banjir di Semarang berdampak pada 158 ribu jiwa di ratusan kelurahan. Di Bojonegoro, banjir luapan Bengawan Solo menelan satu korban jiwa, seorang anak berusia 5 tahun. Banjir juga terjadi di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan pekan lalu, berdampak pada mobilitas warga karena menggenangi jalan nasional.

Banjir yang menutupi berbagai ruas jalan dan fasilitas publik telah menjadi lapisan repertoar yang paling memilukan. Dampaknya, aktivitas dan mobilitas manusia kian terancam. Bahkan, kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh terjangan banjir berpengaruh terhadap kerentanan daya tahan hidup masyarakat.

Dari peristiwa banjir dan berbagai dampaknya tersebut, kita perlu mengevaluasi perilaku dalam memperlakukan lingkungan. Terutama keserampangan kita yang selama ini telah menghilangkan fungsi hutan sebagai kawasan resapan di tingkat hulu. Sedangkan tingkat hilir ditandai dengan perilaku masif yang mempersempit aliran air dengan membuang sampah sembarangan.

Berdasar data Badan Informasi Geospasial, dalam kurun lima tahun hutan Indonesia berkurang 1,3 juta hektare. Bahkan, menurut laporan World Population Review, Indonesia merupakan negara kedua di bawah Brasil yang kehilangan hutan sejak tahun 1990–2020. Kondisi itu menandakan bahwa hutan yang seharusnya menjadi paru-paru bumi dan dapat berfungsi sebagai resapan air paling utama telah dialihkan fungsinya menjadi ruangruang lain yang sarat dengan kepentingan ekonomi.

Kafir Ekologis

Dalam kaitan ini, kita selalu keliru memersepsikan keberadaan lingkungan. Lingkungan hanya dijadikan sebagai objek eksploitasi untuk memenuhi hajat dan ambisi materialitas. Segala macam cara selalu dilakukan untuk mengabsahkan perilaku-perilaku yang merusak lingkungan. Padahal, bila disadari, sesungguhnya keberadaan lingkungan termasuk sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan yang harus dilestarikan dengan baik. Supaya alam semesta bergerak secara seimbang berdasar rotasi kosmologi yang teratur. Karena itu, Alquran menggambarkan perilaku naif yang merusak lingkungan sama halnya dengan kafir kauni (kafir ekologis) terhadap kebesaran Tuhan (QS Shad: 27).

Secara epistemologis, kata kafir tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, tetapi juga ingkar terhadap seluruh nikmat-Nya yang diberikan kepada manusia, termasuk adanya alam semesta (QS Ibrahim: 7). Adapun secara sosiologis, lingkungan adalah ruang publik tempat berinteraksinya semua orang, baik pada wilayah simbolis, empiris, maupun metafisik. Sebagai ruang interaksi, sejatinya keberadaan lingkungan harus nyaman, aman, dan sentosa agar berbagai kegiatan sosial yang melibatkan antarpersonal berjalan secara sinergis (John Barry, Environment and Social Theory). Dengan demikian, setiap orang bisa mengekspresikan penampilan dalam kesehariannya dengan baik. Sekaligus bisa memetik pelajaran, mana yang patut dan mana yang tidak patut untuk diwujudkan dalam keseharian berikutnya.

Dalam konteks ini, keberadaan lingkungan yang nyaman dan kondusif menjadi syarat utama bagi perjalinan relasi intersubjek yang baik. Maka, bila ada perilaku naif yang merusak lingkungan, tentu siapa saja tidak akan bisa menerima. Sebab, dampaknya akan merusak tatanan lingkungan yang tidak hanya merugikan kehidupan sekarang. Namun, generasi akan datang turut menanggung beban kerusakannya pula. Oleh karena itu, kafir ekologis merupakan tindakan kemungkaran sosial yang mengancam peradaban manusia dan alam raya yang harus diantisipasi dan diatasi sedini mungkin.

Mengatasi Kekufuran

Untuk mengantisipasi berbagai jenis kekufuran terhadap lingkungan, tentu dibutuhkan revolusi sikap secara fundamental. Supaya perlakuan kita terhadap lingkungan tidak diawali dengan pendangkalan pemahaman bahwa lingkungan hanyalah sebuah objek yang pasif. Namun, lingkungan adalah sistem sosial yang hidup dalam keseharian kita yang bisa menopang berbagai bentuk interaksi dan kegiatan sosial antara satu dan yang lain.

Dalam hal ini, untuk mengubah persepsi kita terhadap lingkungan, setidaknya ada tiga aspek yang perlu kita tanamkan dalam kesadaran berpikir, bersikap, dan bertindak terhadap lingkungan. Pertama, kita perlu mentransformasikan keberadaan kita sebagai khalifah di muka bumi menjadi duta lingkungan yang bisa bertanggung jawab bagi lestarinya alam raya. Ketika kita mampu memosisikan diri sebagai duta lingkungan, konsekuensinya kita bersedia sepenuh hati untuk menaikkan citra kebersihan lingkungan sebagai syarat mutlak untuk meraih keselamatan dan kesentosaan.

Kedua, kita harus menempatkan ajaran pemeliharaan lingkungan sebagai norma dan dogma yang paling utama yang kedudukan etisnya setara dengan cara kita melakukan ibadah mahdlah dan mencegah perbuatan yang diharamkan. Melalui cara ini, kita dituntut adil sejak dalam keyakinan (akidah) bahwa mengabaikan dan merusak lingkungan efek dosanya sama ketika melalaikan perintah salat, puasa, dan melakukan perbuatan terlarang.

Ketiga, kita perlu menginternalisasi nilai keimanan sebagai derajat kemuliaan dan ketakwaan dalam merawat lingkungan dan mewaspadai berbagai potensi kerusakannya. Hadis Nabi SAW yang menegaskan ”kebersihan sebagian dari iman” dan berbagai dalil naqli lainnya perlu dijadikan sebagai pedoman praksis dalam membebaskan egoisme dan keserampangan kita dalam memperlakukan lingkungan. Melalui cara ini, kita akan tertantang untuk menjaga lingkungan (hifdz al bi’ah) sebagai fondasi penting pula dalam menegakkan maksud dan tujuan syariat (maqashid syariah) dalam kehidupan beragama yang maslahah bagi semua.

Dari ketiga aspek di atas, kita akan selalu menyadari betapa berartinya lingkungan dalam kehidupan kita. Kita akan selalu siuman untuk merawat dan menyayangi lingkungan sebagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri. (*)


*) FATHORRAHMAN GHUFRON, Wakil Katib PWNU Yogyakarta, Wakil Dekan Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore