Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Januari 2023 | 02.48 WIB

Menyambut Hari Raya Galungan 2023: Merayakan Kemenangan Dharma

Photo - Image

Photo

PADA 4 Januari 2023, hari Rabu, Kliwon wuku Dungulan, umat Hindu merayakan Galungan. Hari kemenangan dharma melawan adharma. Hari ini pada hakikatnya merupakan semacam evaluasi diri dalam perjalanan hidup manusia di dunia pada masa waktu enam bulan. Dalam evaluasi diri ini, diharapkan hidup ikhtiarnya semakin baik sehingga dapat membersihkan jiwa dari lumpur dosa.

Perayaan Hari Galungan kalau dari runtutan ritualnya sangatlah panjang dan dilaksanakan oleh seluruh umat, terutama di Bali dan luar Bali. Dimulai dengan ritual penyekeban, yang merupakan turunnya Sang Kala Tiga. Pada hari ini umat hendaknya mawas diri dan hati-hati serta menguasai diri agar tidak tergoda dari pengaruh Sang Kala Tiga Galungan.

Kemudian ritual penyajaan Galungan. Pada hari ini umat hendaknya mawas diri dan berhati-hati demi teguhnya iman dari pengaruh negatif Sang Butha Dungulan. Dilanjut dengan penampahan Galungan. Pada hari ini yang dikuasai Butha Kala Amangkurat sehingga tatkala matahari terbenam dilakukan ritual mebiakala agar senantiasa terhindar dari pengaruh Sang Butha Kala Tiga Galungan. Ritual ini dilakukan di halaman rumah dan juga dilakukan pemasangan penjor beserta hiasannya.

Pemasangan penjor ini bermakna secara filosofi sebagai tanda visual kemenangan dharma. Biasanya selalu dibuat dengan jumlah anak penjor ganjil 5, 7, atau 9 dan umat memang menghindari membuat genap. Penjor sangat baik jika dibuat dari ambu (daun enau) atau janur (daun kelapa) yang masih muda (bagian pucuk, yang berwarna kuning) dan diupayakan yang masih basah.

Pemasangan penjor yang baik dilakukan sehari sebelum Hari Galungan atau pada hari penampahan Galungan agar tidak terlalu lama sebelum Hari Galungan. Wujud penjor bisa bervariasi. Umat yang mampu bisa lebih megah dan yang kurang mampu bisa membuat yang sederhana. Perihal penjor ini bisa fleksibel seperti itu.

Lalu, di hari berikutnya, barulah dilaksanakan peringatan hari kemenangan dharma. Peringatan inilah yang disebut Hari Raya Galungan. Pada hari ini umat melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Tri Kahyangan, Padmasana, serta Merajan (tempat sembahyang di keluarga).

Terakhir, seusai Hari Galungan, pada manis Galungan, umat melaksanakan ritual nganyarin (penyucian diri di Merajan Sanggar Kemulan yang ditujukan kepada leluhur (kawitan) dan Ida Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Pada hari ini umat saling mengunjungi dan memberi selamat.

Jika ingin menyaksikan tradisi Galungan di Bali, pada Hari Raya Galungan ini di Bali sangatlah meriah. Ini terjadi karena Hari Galungan termasuk hari raya besar umat Hindu meskipun tidak sebagai hari libur nasional. Namun dalam lokal di Bali merupakan hari libur.

Bali yang indah dan bersolek akan dapat kita saksikan pada Galungan ini. Penjornya yang indah yang dipasang di depan setiap rumah, pura, dan balai banjar beserta hiasannya. Hari Galungan termasuk hari raya besar Hindu Bali yang paling meriah dirayakan oleh umat Hindu.

Hindu memang merupakan agama yang memiliki hari raya bervariasi, sesuai dengan tradisi lokalnya, dan desa-kala-patra (desa mawa cara). Karena itulah, tak heran manakala di India hari rayanya berbeda dengan di Indonesia, terkhusus Bali. Masing-masing lokalitas seakan punya kearifan lokal tersendiri dalam berhari raya. Dalam kerangka agama Hindu, hal itu memang dimungkinkan terjadi. Secara ritual-upacara memang bisa berbeda, namun secara filosofi dan etika sama.

Di Bali terutama, Hari Galungan ini sangat ditunggu-tunggu dan biasanya juga dirayakan dengan sangat meriah. Kemeriahan ritual Galungan sangat terasa juga karena disertai pemasangan penjor beserta hiasannya yang indah. Apalagi jika kita ke Bali bagian timur, yang hiasan penjornya rata-rata berestetika tinggi.

Namun, yang lebih penting lagi adalah makna Hari Galungan ini. Sebagai analogi, mungkin serupa dengan mitologi Jawa, yakni adanya satu kisah pertarungan antara Durga versus Umayi. Ini simbolis dari pertarungan kebaikan (Umayi) versus keburukan (Durga).

Dalam pertarungan itu, ikhtiarnya memang memenangkan ke-Umayi-an, memenangkan dharma. Hari Galungan adalah evaluasi hidup yang telah dijalani umat dalam masa waktu enam bulan. Bagaimana kualitas hidup yang telah dilakukan umat sebagai manusia dalam hidup.

Dalam kesadaran manusia terdalam, hidup mesti lebih memenangkan menjadi baik (ke-Umayi-an), bukan sebaliknya. Kesadaran (awareness) inilah yang senantiasa ditumbuhkan umat. Bagaimana perjalanan hidup dari hari ke hari sebagai manusia untuk bertambah baik.

Hari Galungan yang dilakukan enam bulan sekali ini menjadi hari yang sakral untuk mengevaluasi seberapa jauh ikhtiar baik ini dimenangkan diri umat. Harapannya tentu saja gradasinya semakin baik. Hidup mesti memenangkan kebaikan (Umayi) dan menjauhkan dari keburukan (Durga). Itulah pesan moral dan harapan terdalam Hari Galungan. Dua sisi itulah yang senantiasa bersemayam, bergulat, dan berkompetisi dalam diri manusia.

Dalam hidup manusia sehari-hari, kesadaran yang diharapkan harus memenangkan sisi ke-Umayi-annya. Dalam konteks inilah sebenarnya makna Galungan menjadi sangat penting. Dari analogi kisah mitologi yang digunakan melatari Hari Galungan itu, semuanya mengarah pada makna kemenangan yang baik versus yang buruk, dharma (kebaikan) versus adharma (keburukan). Karena itu, tak heran (apa pun latar versi ceritanya) jika dipandang sebagai kemenangan dharma (kemenangan kebaikan). Kemenangan inilah yang kemudian dirayakan saat Hari Raya Galungan.

Dalam konteks kekinian, Hari Galungan tetap bermakna sebagai hari besar umat Hindu yang selalu ditunggu kehadirannya oleh umat dan menjadi penyemangat bagi umat. Hari Galungan dipahami sebagai kemenangan dharma semua umat, dapat bersembahyang bersama, dan merupakan hari yang menyenangkan umat.

Penampahan juga disukai umat karena ada masak-memasak dan manis Galungan merupakan hari yang disenangi. Karena tradisinya diikuti juga acara tamasya ke tempat-empat wisata yang indah. (*)




*) PUTERA MANUABA, Dosen dan Guru Besar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore