Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Februari 2024 | 17.23 WIB

Ketokohan, Efek Ekor Jas, dan Logistik dalam Pemilu 2024

ILHAM SAFUTRA - Image

ILHAM SAFUTRA

PEMILIHAN umum (Pemilu) 2024 belum berakhir. Ada beberapa tahapan lagi yang mesti ditunggu. Baik ditunggu oleh para calon maupun pendukung. Pemilu tidak hanya bicara soal calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres), tetapi soal calon wakil rakyat.

Kini para calon wakil rakyat sedang menanti proses penghitungan suara secara berjenjang. Mulai dari tingkat tempat pemungutan suara (TPS), panitia pemungutan suara (PPS) tingkat kelurahan, panitia pemilihan kecamatan (PPK), Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten/kota, KPU provinsi, maupun KPU pusat. Nasib mereka bergantung hasil rekapitulasi suara yang dihitung secara berjenjang itu. Jika penyelenggara pemilu keliru menuliskan hasil perolehan suara, bisa-bisa peluang kesempatan calon wakil rakyat alias calon legislatif (caleg) itu terbuang sia-sia.

Makanya, para caleg sejak Rabu malam 14 Februari 2024 tidak bisa tidur dengan tenang. Mereka mengawal suara yang dicobloskan pemilih tidak tertukar angka penulisannya. Tak ayal, ada yang mengirim saksi bahkan caleg itu turun sendiri. Biasanya ini caleg di tingkat DPRD kabupaten/kota.

Kekhawatiran para caleg soal kehilangan suara akibat suara yang tertukar tidak hanya dengan partai rival, tetapi juga dengan caleg sesama partai di dapil serupa. Sebab, potensi setiap partai bisa mengantarkan calegnya di DPRD maupun DPR RI dari setiap daerah pemilihan (dapil) sangat jarang di atas dua kursi. Rata-rata satu hingga dua kursi. Kecuali parpol itu sangat dominan di sebuah daerah dan memiliki pemilih fanatik. Makanya saling intip dan jaga itu lebih cenderung terjadi setelah hari pencoblosan tidak hanya dengan partai sebelah tetapi dengan caleg sebelah yang sesama partai di dapil yang sama.

Pemilu merupakan kompetisi ketokohan atau figur. Keterkenalan seorang sosok diuji dalam pemilihan umum. Sejauh mana tokoh itu dikenal, maka sejauh itu pula tokoh tersebut mendapat peluang dipilih. Ternyata, tokoh yang dikenal belum tentu menjadi pilihan. Masyarakat yang menjadi pemilih kini sudah pintar. Pemilih mencari calon wakil rakyatnya yang benar-benar memiliki pemikiran, visi, dan komitmen memperjuangkan daerah yang diwakilinya.

Mengukur seseorang yang dianggap sebagai tokoh tidak dapat serta merta diukur seberapa sering dia muncul media sosial, media arus utama, atau media reklame luar ruang (billboard, spanduk, pamflet, stiker, dan lain sebagainya.

Lebih dari itu, seberapa tokoh itu berinteraksi secara langsung dengan pemilih di simpul-simpul basis pemilihannya. Kemudian dari segi investasi sosial.

Era digital saat ini banyak caleg memanfaatkan media sosial sebagai medium interaksinya dengan masyarakat umum dan masyarakat pemilih. Namun perlu diingat, caleg yang hanya mengunggah kegiatan sehari-hari yang tidak ada relevansinya dengan kebutuhan masyarakat bakal dianggap sebagai selebgram biasa. Bisa dikenal bisa tidak. Caleg yang menghadirkan kegiatan kemasyarakatnnya di media sosial yang didukung penyampaian pemikirannya lewat media arus utama bakal memiliki peluang lebih dikenal dan dipertimbangkan masyarakat.

Lalu, apakah cukup cara kerja caleg seperti itu mendapat potensi dipilih? Sepertinya tidak. Sebab, dari beberapa caleg yang hadir di tengah masyarakat saat ini banyak yang sudah hadir di tengah masyarakat tetapi tetap saja tidak mengantongi suara seperti yang diharapkan.

Hal itu biasanya terjadi karena caleg itu dianggap tokoh baru. Kehadirannya belum mengena dengan masyarakat, atau masyarakat lebih apatis dengan tokoh itu. Ada juga masyarakat lebih memilih untuk memutuskan memberikan suara kepada caleg yang selama ini sudah sering berkontribusi secara sosial.

Pemilu 2024 menghadirkan banyak kejutan. Seperti kejutan uhuy dari Alfiansyah Komeng. Calon senator dari dapil Jawa Barat itu mendulang banyak suara. Bahkan mengalahkan suara salah satu capres di Jawa Barat. Selama ini Komeng nyaris tidak pernah terdengar bakal maju di kompetisi DPD Pemilu 2024. Dia mendadak "menghipnotis" para pemilih di TPS. Rata-rata para pemilih yang penulis temui mengaku mencoblos Komeng karena merasa mengenal Komeng. Apakah Komeng pernah bertemu mereka? Apakah Komeng pernah berinteraksi secara langsung dengan mereka dan menyatakan mau maju di Pemilu sebaga calon senator? Relatif tidak banyak yang tahu.

Lantas apa alasan masyarakat memilihnya? Ada banyak alasan. Mulai dari fotonya yang nyentrik, namanya sudah dikenal, dan tidak ada lagi calon DPD yang dianggap diyakini mampu mewakili. Lebih parah lagi, calon DPD lainnya enggan dipilih masyarakat, karena mereka tidak dikenal masyaraat. Sementara Komeng dikenal dengan kelucuan. Dianggap sebagai sosok pelawak yang senior. Jarang atau relatif tidak pernah membuat kontroversi di publik.

Itu baru soal Komeng. Sejatinya banyak "Komeng" yang lain di daerah lain. Orang yang tidak pernah muncul di publik lalu tiba-tiba hadir di kertas suara. Lantas, mereka dipilih? Belum tentu.

Rata-rata pemilih memilih caleg melihat sejauh mana caleg hadir atau "memapari" pandangannya dalam keseharian. Baik dari segi pemikiran, mengutus tim ke sebuah permukiman dan memberikan janji serta "buah tangan". Umumnya caleg yang dipilih itu benar-benar membawa "buah tangan".

Buah tangan itu bisa jauh sebelum Pemilu tiba. Para caleg hadir sebagai tokoh harapan dan memberikan solusi. Sebagai contoh di dapil Sumatera Barat 1. Di sana capres paling tinggi suaranya berdasar hitung cepat (quick count) dan tabulasi penghitungan sementara di laman Pemilu 2024 KPU, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar mendapat suara 56 persen. Lalu diikuti Prabowo-Gibran 39,3 persen; dan Ganjar- Mahfud 4,06 persen.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore