Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Februari 2024 | 23.40 WIB

Dicari, Negarawan Sejati

SARATRI WILONOYUDHO

MENURUT Cak Nun, setidaknya ada tiga tingkatan perilaku manusia. Yang pertama adalah manusia fikih, yang kedua manusia akhlak atau moral, dan yang ketiga manusia takwa. Manusia fikih adalah manusia yang mau melakukan kebaikan karena dipaksa oleh hukum. Aslinya, sebagai pribadi, ia tidak ingin melakukan sesuatu, misalnya membayar pajak. Namun, karena ada perintah dan ancaman, ia akhirnya merelakan uangnya untuk membayarnya. Orang jenis ini masih lumayan, karena ada juga orang yang meskipun dipaksa dan diancam, berusaha menghindar sekuat tenaga.

Yang kedua adalah manusia akhlak atau moral. Orang jenis ini lebih baik dibandingkan manusia fikih karena ia mau bahkan bahagia melakukan suatu kebaikan, meskipun tidak ada aturan dan ancaman. Misalnya, saat menemui orang kelaparan di pinggir jalan, ia dengan senang hati memberinya makan meski hidupnya juga tidak kaya. Dalam zakat diperintahkan hanya 2,5 persen, namun ia dengan senang hati membayar 10 persen, bahkan lebih.

Di atas semuanya adalah manusia takwa, manusia yang paripurna dengan dirinya sendiri dan hanya mencari rida Allah. Hidup matinya, ibadahnya, hanya untuk Allah dengan dilalui perbuatan yang bermanfaat di dunia. Dalam Islam, inilah tingkatan manusia tertinggi.

Seruan Moral

Di berbagai kampus kini sedang ngetren seruan moral terkait situasi dan kondisi negeri. Sesuai maknanya di atas, seruan moral datang dari orang yang tidak berkepentingan dukung-mendukung. Namun berangkat dari nurani yang bersih, yang ujungnya ditujukan bagi kesejahteraan lahir batin bangsa dan negara serta tidak ingin mencari jabatan atau keuntungan materi.

Seruan moral terjadi karena munculnya gejala otoritarianisme yang ditandai dengan mulai terganggunya sistem politik yang demokratis, ancaman bergolaknya ketertiban sipil, menurunnya legitimasi negara dan pemerintah, serta menurunnya efektivitas penyelenggaraan negara. Padahal, semua itu merupakan pilar stabilitas yang demokratis, kata almarhum Nurcholish Madjid (1984).

Pembukaan UUD 1945 sudah mengamanatkan bahwa negara ini berdiri atas berkat rahmat Tuhan dan didorongkan oleh keinginan luhur untuk dapat berkehidupan kebangsaan yang bebas. Di Inggris, para politikus yang profesional lebih banyak menyepakati norma-norma demokrasi, baik yang abstrak maupun yang prosedural. Sebaliknya, politisi amatiran hanya menyepakati hal-hal yang abstrak, demikian kajian Roland Pennock dalam Democratic Political Theory (1979).

Borgol Kekuasaan

Seruan moral pada dasarnya adalah peringatan bagi politisi amatiran tersebut, yang ketika diberi kekuasaan, akan menggunakan kekuasaan sebagai sarana untuk melanggengkan kedudukannya dengan cara apa saja. Fungsi seruan moral adalah sebagai kekuatan agar pilar-pilar etika dan demokrasi ditegakkan.

Presiden AS Nixon yang terjungkal karena skandal Watergate pada tahun 1974 menuangkan renungannya yang ditulis dalam buku yang berjudul Leaders, Profiles and Reminiscences of Men Who Have Shaped the Modern World. Ia menyesali dirinya sendiri yang tidak menghargai puncak-puncak kejayaannya. Ia juga menyebut para pemimpin dunia seperti Churchill, Charles de Gaule, Nehru, Magsaysay, Douglas McArthur, Chou Enlai, Nkrumah, Gamal Abdul Nasser, Anwar Sadat, juga Soekarno.

Menurut Nixon, setiap pemimpin tampil pada tiga kombinasi khusus, yakni ruang, waktu, dan situasi. Pemimpin yang lahir dan cemerlang pada zaman pergerakan kemerdekaan belum tentu sama cemerlangnya ketika memimpin sesudah kemerdekaan. Pemimpin yang sukses pada masa pioneering belum tentu mampu memimpin pada masa pembangunan ekonomi. Yang menarik, Nixon menyadari bahwa pemimpin yang terlalu GR dan ambisius tidaklah baik.

Senada hal ini, James McGregor menyebut transforming leadership. Pemimpin yang baik adalah yang mampu memberikan petunjuk kepada rakyatnya dan pada saat yang sama juga minta petunjuk dari rakyatnya. Suatu prinsip reprositas, dialogis, dan emansipatoris. Dalam istilah spiritual Jawa ada istilah manunggale kawulo lan Gusti.

Tulisan Goenawan Mohamad yang mengutip tulisan Fawn M. Brodie juga menceritakan perjalanan kenegarawanan. Ceritanya, pada bulan Maret 1809, Thomas Jefferson merampungkan masa jabatannya sebagai presiden AS. Sebenarnya ia sangat mudah untuk terpilih kembali karena ia pencetus Deklarasi Kemerdekaan AS, namun justru ia ingin segera pulang ke kampung halamannya di Monticello.

Kata Jefferson: ”Beban itu telah hilang dari pundakku dan kini aku mendapatkan apa yang kurindukan, yakni lepas dari borgol kekuasaan.” Dengan nada puitis ia bertanya: ”Adakah sapi masyarakat yang telah saya ambil? Adakah hak masyarakat yang kurampas? Siapa yang telah kuterima uang suapnya hingga mata saya tertutup?” Tulisan yang berjudul Thomas Jefferson: An Intimate History (1975) ini sangat menyentuh.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore