
Ilustrasi pencabulan.
BEBERAPA minggu belakangan media online –juga media cetak– banyak diwarnai berita pencabulan, pemerkosaan, perselingkuhan, dan sejenisnya. Tempat kejadian perkara (TKP) peristiwanya tersebar mulai Banyuwangi, Batu, Jombang, Bandung, Tangerang, Jakarta, hingga beberapa tempat di luar Jawa. Sebaran kabar kejadian itu seolah merupakan ’’euforia’’ pascapandemi Covid-19.
Beberapa faktor pendorong perilaku cabul, antara lain, pendidikan, lingkungan tempat tinggal, pengaruh minuman keras, dan kejiwaan.
Tapi, dalam beberapa kasus, faktor rendahnya pendidikan harus dikesampingkan. Sebab, pelaku pencabulan adalah seorang pendidik, pengurus tempat ibadah, bahkan kepala sekolah yang tentu tidak berpendidikan rendah. Pencabulan juga dilakukan oleh pribadi –yang dalam forum resmi– sering dipanggil Yang Terhormat.
Pencabulan adalah tindakan tak senonoh yang menjurus pada perbuatan seksual untuk memuaskan diri di luar ikatan pernikahan. Perbuatan itu kadang nekat dilakukan di tempat-tempat umum. Misalnya, ndusel, menyentuhkan alat vitalnya pada lawan jenis di kereta. Atau tangannya bergerilya, meraba-raba bagian sensitif penumpang perempuan.
Bagi orang dengan status sosial lebih tinggi, keinginan cabul itu kadang dilakukan di tempat kerja atau tempat lain yang lebih pribadi. Intinya, perilaku cabul itu bisa dilakukan semua orang dengan tingkat pendidikan beragam. Termasuk yang berpendidikan tinggi.
Komisioner Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Indonesia (KPPAI) Putu Elvina mengatakan bahwa anak merupakan target pencabulan paling rentan. Sebab, anak paling mudah dikibuli dengan iming-iming hadiah atau diintimidasi dengan ancaman. Anak juga cenderung tidak bisa melawan.
Faktor lingkungan mungkin masih relevan sebagai pendorong perilaku cabul. Tapi, di era melubernya arus informasi seperti saat ini, lingkungan tak terbatas pada tempat tinggal. Sebab, antarpribadi bisa melakukan interaksi dengan siapa saja, di mana saja, meski tak pernah kenal sekalipun. Lingkungan sekarang ini sudah menjadi global.
Perlu ditambahkan pula, perilaku masyarakat juga bisa menjadi faktor pendorong perbuatan cabul. Barangkali terjebak pada slogan keterbukaan, saat ini tak sedikit pesohor yang tak malu-malu mengungkap cerita saru (tak senonoh). Yakni, hubungan intimnya dengan pasangannya di ranjang. Pesohor yang juga ibu dua orang putra itu mengumbar cerita ’’bercocok tanam’’ dengan pasangan barunya. Mulai kejantanannya, posisinya, gayanya, rondenya, durasinya, bahkan sampai kiat-kiatnya.
Pesohor lain juga sesumbar mampu melakukan ’’duel’’ delapan ronde dalam satu malam. Ada juga yang dengan bangga mengaku pernah menaklukkan puluhan wanita sampai termehek-mehek kelelahan.
Rupanya banyak yang membaca berita-berita jenis itu sehingga media tersebut mampu meraup ribuan "klik" di situsnya. Larisnya berita itu merupakan kesempatan bagi produsen "obat kuat" untuk melakukan promosi. Maka, muncullah berbagai pariwara obat kuat yang "provokatif" dilengkapi beberapa testimoni vulgar dari pemakainya.
Apakah berita saru seperti itu mampu mendorong seseorang berbuat cabul, tentu masih perlu penelitian lebih dalam. Hanya, keberanian pesohor –atau siapa saja– dalam mengungkap "ritual pribadinya" ke publik membuat sebagian masyarakat berubah penilaian. Sesuatu yang dulu hanya terbatas di dalam kamar pribadi kini beredar di ruangan terbuka. Sesuatu yang dulu tabu dan hanya diceritakan dengan bisik-bisik bersembunyi kini sudah dianggap biasa, wajar, seperti berita pernikahan atau perceraian artis.
Tabu lain yang kini dianggap biasa adalah perselingkuhan. Konten-konten di berbagai platform digital sering kali menebar konten saru itu. Termasuk pengakuan pesohor yang pernah berhubungan dengan siapa saja. Siapa yang paling joosss dan lain-lain.
Karena dianggap biasa, ABG yang keingintahuannya sangat tinggi mulai nekat. Langkah awalnya mencoba menggoda temannya… selanjutnya… bisa berakhir baik, tapi kadang juga kebablasan…
Kasus yang terjadi di Lampung pada 16 Juni 2022 bisa jadi pelajaran. ABG diperkosa pacar yang baru dikenalnya sebulan dan teman-teman pacarnya (Kompas TV). Ada juga, hanya demi konten, gadis ABG rela direkam waktu buang air kecil. Duh… Emak-emak juga tak sungkan mengenakan baju seksi transparan ketika hadir ke kondangan. Rasa malu sudah terdegradasi.
Pemuda tanggung (berondong) mencoba menggoda bini orang. Duda keren (duren) berlagak seperti ABG, menggoda gadis. Sedangkan suami yang punya jabatan menengah sehingga berpenghasilan sedikit lebih, mulai melirik rumput yang lebih hijau.
Fenomena itu seakan berlangsung secara sistematis. Sikap tidak malu-malu mengumbar cerita saru, penyebarannya, sampai kejadian yang mengundang pilu.
Adakah yang sadar bahwa semua itu merupakan upaya kelompok aliran seks bebas yang ingin mengubah norma dunia? Ah, semoga ini hanya imajinasi yang berlebihan. Wallahu a’lam.
Yang jelas, hal itu membuat orang tua berpikir lebih keras dalam mendidik putra-putrinya. Institusi pendidikan tidak sepenuhnya aman dan sebagian besar masyarakat sudah terjangkit sindrom gadget yang mengandung banyak konten provokasi buka aurat. Karena itu, pendidikan dalam keluarga harus menjadi prioritas dan lebih intens. (*)
*) Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos 2007–2008

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
