Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Januari 2022 | 17.15 WIB

Bikin Denyut Kesenian Berdetak Lebih Kencang

Photo - Image

Photo

BERWAKTU lampau saya mengajak dua anak saya melihat pertunjukan wayang orang. Itu adalah pertunjukan di Gedung Kesenian Cak Durasim yang menyadur kisah Rama dan Shinta.

”Gimana? Bagus?’’ tanya saya kepada si kecil, anak lelaki yang kala itu masih berusia 7 tahun. Dengan berbinar dia mengangguk. ”Kapan-kapan kita nonton lagi ya kalau ada,’’ jawabnya.

Meski saya yakin dia tak paham arti dialog yang diucapkan karena semua menggunakan bahasa Jawa halus, jawabannya menyiratkan bahwa dia tidak terlalu butuh paham. Tapi, drama live action macam itu menarik hatinya. ”Seru,’’ katanya.

Pun ketika kita menonton cabaret show di salah satu tempat ternama di pusat Jogjakarta sehari sebelum Natal tiba. ”Kita harus nonton lagi kalau ada tampilan seperti itu. Yang ceritanya beda ya,’’ ujarnya.

Cabaret show tersebut adalah pertunjukan live action kedua setelah wayang orang di Cak Durasim itu. Jeda waktunya empat tahun, dua tahun lah kalau dipotong pandemi, karena saat pandemi tidak ada pertunjukan kesenian offline.

Jadi, dalam dua tahun gap itu kenapa tak menonton yang lain? Bukankah di Surabaya banyak event kesenian live action lain? Jawabannya, ribet. Menempatkan saya sebagai masyarakat awam, sebelum pandemi yang memaksa setiap hal, termasuk pertunjukan, disiarkan secara online, informasi mengenai acara kesenian di Surabaya tidak terlalu terdengar gaungnya.

Yang paling krusial adalah bingung gimana cara beli tiketnya. Harus pesan? On the spot? Undangan? Berapa harga tiketnya? Pertunjukannya apa? Bisa ditonton anak-anak tidak? Semacam itu. Akhirnya, ide menggantikan jalan-jalan ke mal dengan menonton pertunjukan seni pun terbang begitu saja. Menguap seperti air yang terpapar matahari.

Pertunjukan seni pun digantikan dengan acara nonton bioskop yang lebih mudah beli tiketnya. Pun tidak perlu antre di loket. Beli tiket di aplikasi bisa. Pilihan aplikasinya juga banyak. Tidak hanya yang jual tiket bioskop, mulai aplikasi ojek online sampai marketplace juga menjual tiket bioskop.

Sepertinya, sudah saatnya pertunjukan kesenian di Surabaya menerapkan hal tersebut. Jualan tiket pertunjukan yang mudah diakses dari rumah. Harapannya, denyut kesenian di Surabaya berdetak lebih kencang dan semarak.

Tak hanya pertunjukan seni, pameran-pameran seni pun sudah saatnya jadi bintang. Galeri seni jadi tujuan nongs (nongkrong) anak muda, sepertinya, juga ide yang menarik. Apalagi sekarang Alun-Alun Surabaya sudah dibuka.

Mulai ujung Jalan Tunjungan sampai Alun-Alun Surabaya bisa jadi spot berkesenian yang asyik. Musik jalanan, monolog, pameran lukisan, pameran seni rupa, atau beragam festival bisa dihelat di sana. Jangan awal-awal saja yang ramai, setelah itu senyap. Seperti toko yang awal-awal buka ramai sampai antre enggak keruan. Tapi kemudian, oh wow, sepi genks... Kan sedih.

Pekan lalu kami secara random beli tiket kereta api paling murah ke Jogjakarta dan menginap di Jalan Tirtodipuran yang segaris dengan Jalan Prawirotaman. Vibes jalan tersebut nyeni banget. Siang itu di salah satu spot di Tirtodipuran, ada antrean. Anak-anak muda dengan OOTD mengikuti tren berdiri berjajar di luar gedung.

Awalnya, saya pikir mereka hendak masuk kafe Instagramable yang banyak bertebaran di sana. Tetapi tidak Sodara, mereka mengantre untuk mengikuti tur galeri seni yang sedang berpameran. Mereka melihat lukisan dan seni rupa karya seniman-seniman muda Jogjakarta. Tidak gratis, tapi mbayar. Tapi, ya murah mbayarnya. Hanya Rp 5.000. Indie banget...

Jalan Tunjungan pun bisa menjadi cikal bakal jalan nyeni-nya Surabaya. Jalan yang menghelat banyak pertunjukan seni. Jadi, lagu Mlaku-Mlaku nang Tunjungan tak sekadar lagu, tapi kenyataan. Literally alias tenanan mlaku-mlaku nang Tunjungan. Bukan sekadar jalan, tapi juga melihat kiri dan kanan. Bukan hanya untuk wong Suroboyo, melainkan juga untuk menarik wisatawan.

Tidak perlu menjadi Malioboro-nya Surabaya. Sebab meski masih menarik, Malioboro sudah terlalu sesak. Hanya nyaman dilewati ketika di atas pukul 18.00–21.00. Waktu ketika jalan itu ditutup untuk kendaraan bermotor kecuali angkutan umum dan kendaraan darurat. Selebihnya, ruwet. Jadilah Jalan Tunjungan yang kalau kita melintasinya, kita tak berkata, ”Seperti Malioboro ya...’’ Jadilah jalan dengan karakter Suroboyo dan masyarakatnya. Dinamis, riuh, dan semarak. (*)




Oleh DWI SHINTIA IRIANTI, Redaktur Jawa Pos

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore