Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 Mei 2020 | 02.48 WIB

Covid-19, Babak Baru Politik Global

Photo - Image

Photo

SEJAK kemunculannya pada Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok, penyakit varian baru severe acute respiratory syndrome (SARS) yang dikenal dengan Covid-19 langsung menjadi perhatian dunia. Daya persebarannya yang sangat cepat mengakibatkan tingginya tingkat kematian hampir di seluruh dunia. Semua negara berjuang agar bisa menghentikan meluasnya wabah ini. Benarkah Covid-19 telah mengubah wajah politik internasional, tapi dapatkah isu tersebut menjadi babak baru dalam politik global kontemporer?

Pembabakan Politik Global

Dalam konteks ilmu hubungan internasional, pembabakan atau periodisasi dalam politik global dinilai sangat penting. Hal ini biasanya ditandai dengan terjadinya sebuah peristiwa besar dan penting sehingga perlu dijadikan sebagai tonggak yang membagi periode politik dunia secara khusus. Pembabakan tersebut berguna untuk memahami dan menafsirkan dinamika hubungan internasional yang terjadi dalam kurun waktu tertentu (Green; 1992). Dalam lingkup ini adalah memahami sikap aktor politik internasional, baik negara maupun non-negara, dalam menghadapi situasi kontemporer tertentu, termasuk dalam situasi krisis.

Sebagian besar ahli hubungan internasional bersepakat bahwa sejak abad ke-20, politik internasional secara umum terbagi dalam beberapa periode besar. Pembabakan tersebut salah satunya meliputi masa Perang Dunia I (1914–1918), pasca-Perang Dunia I (1919–1938), masa Perang Dunia II (1939–1945), pasca-Perang Dunia II atau masa Perang Dingin (1946–1991), pasca-Perang Dingin (1992–2001), dan masa War on Terrorism atau pasca serangan teroris 11 September 2001 (2001–2019).

Ada beberapa alasan penting yang mendasari pembabakan di atas. Pertama, terjadinya peristiwa penting yang dampaknya sangat besar sehingga memengaruhi kondisi politik semua negara di dunia tanpa terkecuali. Negara kaya maupun miskin menghadapi krisis yang sama dan mereka harus berjuang agar bisa survive dalam kondisi yang sangat tidak menentu tersebut.

Kedua, tingkat kematian yang ditimbulkan sangat tinggi. Sehingga semua negara seakan berada dalam bayangan kematian kolektif.

Ketiga, peristiwa-peristiwa di atas memengaruhi semua negara dalam praktik hubungan internasional (HI) mereka di masa depan. Hal ini dicontohkan dengan terbentuknya Liga Bangsa-Bangsa (LBB) sebagai respons berakhirnya PD I dan lahirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta Uni Eropa sebagai dampak berakhirnya PD II.

Babak Baru Politik Global

Dengan munculnya Covid-19, segala dinamika politik internasional sangat berfokus pada upaya penanganan virus mematikan itu. Sehingga logis jika pandemi Covid-19 bisa dijadikan sebagai babak baru dalam periodisasi politik global. Alasannya adalah, pertama, semua negara sangat terpengaruh karena pandemi ini. Berdasar laporan organisasi kesehatan PBB, World Health Organization (30/4/2020), terdapat 213 negara, wilayah, dan teritori yang melaporkan kasus wabah ini dengan total kasus melebihi 3,1 juta dan jumlah kematian 217.769 orang.

Jika dibandingkan dengan periodisasi politik global sebelumnya yang hampir semuanya disebabkan aksi militer dan perang yang bersifat men-driven, pada era Covid-19 ini karateristiknya sangat berbeda, bahkan kontradiktif. Pandemi Covid-19 disebabkan virus berukuran mikro, tidak kasatmata, dan sifatnya nature-driven. Tetapi, pengaruh dan kerusakannya sama atau bisa melampaui perang, yaitu menggempur aspek kedaulatan dan pertahanan-keamanan negara-negara di dunia.

Covid-19 disebut sebagai fenomena siklus pandemi 100 tahunan –setelah satu abad sebelumnya dunia juga dilanda wabah sejenis, ”Spanish flu” (1918), dan mengakibatkan sekitar 50 juta kematian. Tetapi, menariknya, pandemi masa itu belum menjadi momentum pembabakan politik internasional. Faktor waktu yang bersamaan dengan berakhirnya Perang Dunia I dan belum majunya teknologi vaksin menjadi salah satu alasan tersebut. Alhasil, isu terorisme yang sebelumnya menjadi isu sentral hubungan internasional kontemporer kini tidak lagi menjadi fokus pertemuan pimpinan dunia karena mereka lebih sibuk mencari solusi atas krisis pandemi yang terjadi. Ibaratnya, dunia seakan tidak lagi memperhatikan berbagai aspek politik internasional jika tidak terkait pada isu Covid-19.

Kedua, pandemi Covid-19 berpotensi menjadi sumber resesi ekonomi global. Dalam empat bulan terakhir, terjadi pengurangan aktivitas ekonomi dan industri yang masif di seluruh dunia. Bahkan, beberapa kota besar dunia seperti New York, Milan, dan Kuala Lumpur menerapkan kebijakan lockdown demi mengantisipasi meluasnya wabah. Alhasil, keputusan darurat di atas mengakibatkan kelesuan dan kemunduran ekonomi global. Asian Development Bank (3/4/2020) melaporkan bahwa kerugian ekonomi global yang ditimbulkan pandemi ini diprediksi mencapai USD 2 triliun hingga 4,1 triliun. Bahkan, badan pangan PBB, World Food Program (21/4/2020), menyatakan bahwa wabah ini akan diikuti dengan pandemi kelaparan, khususnya di negara-negara miskin.

Fenomena tersebut berarti bahwa Covid-19 tidak hanya membahayakan nyawa para penderitanya langsung, tetapi juga miliaran manusia non penderita yang sangat terdampak kehidupannya akibat keganasan wabah tersebut.

Pengaruh di Masa Depan

Sejauh ini belum terdefinisi jelas respons kolektif aktor negara dan non-negara mengatasi isu yang ada. Namun, setidaknya sudah ada upaya konstruktif beberapa aktor global, di antaranya ditunjukkan oleh organisasi filantropi dunia seperti Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) dan Chan Zuckerberg Initiative (CZI), yang terus mendanai aksi mitigasi pandemi serta riset vaksin Covid-19.

Sementara di tingkat negara, responsnya masih terbagi dua, yaitu pro-solidaritas dengan membangun kerja sama antarbangsa serta pro-soliter yang mengamankan kepentingan nasionalnya sendiri. Namun, apa pun hasilnya nanti, pengalaman masyarakat dunia menghadapi krisis global saat ini sangat menentukan pola interaksi mereka di masa depan, tidak hanya dalam menghadapi pandemi sejenis, tapi juga dinamika internasional lainnya. (*)




*) Siti R. Susanto, Dosen Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore