
Photo
Ning Stasiun Balapan
Kuto Solo Sing Dadi Kenangan
Kowe Karo Aku
Naliko Ngeterke Lungamu
Ning Stasiun Balapan
Rasane Koyo Wong Kelangan
Kowe Ninggal Aku
Ra Kroso Netes Eluh Ning Pipiku
Da... Dada Sayang
Da... Slamat Jalan
PENGGALAN lirik lagu Stasiun Balapan dinyanyikan Didi Kempot itu pernah menggema dan dinyanyikan hampir semua orang Jawa terutama penggemar musik campursari pada 1999 silam. Baik kawula muda, maupun tua. Saat itu, sulit untuk menemukan rumah, warung-warung, stasiun, terminal, yang tidak memutar lagu dari seniman asal Surakarta, Jawa Tengah tersebut.
Tak hanya Stasiun Balapan, bersamaan rilis lagu tersebut, ada banyak tembang sendu lain yang kemudian juga ikut diputar dan populer dinyanyikan. Seperti Tanjung Mas Ninggal Janji, Sewu Kuto, Nunut Ngiyup, hingga Terminal Tirtonadi.
Lagu-lagu tersebut seperti oase di tengah gurun bagi masyarakat Indonesia. Sebab saat itu perekonomian negara belum begitu pulih, usai negara dilanda krisis moneter pada 1998. Juga menemani tumbuh orang-orang seperti saya.
Meski tak bisa memiliki langsung pita kaset atau video CD berisi lagu-lagu Didi Kempot, saya berkenalan dengan karya-karyanya ketika ada orang hajatan. Saat itu, sang empunya hajat biasanya memutar lagu-lagu Didi Kempot dari tukang musik yang disewanya sehari semalam. Sesuatu yang wajar saat itu. Setidaknya, di Pemalang.
Namun, usai berada di puncak karir, beberapa tahun kemudian, popularitas Didi Kempot berangsur memudar.
Beberapa waktu lalu, setelah hampir satu dekade nyaris tenggelam, nama Didi Kempot kembali populer. Dia kembali pentas dan manggung di beberapa acara off air maupun live di televisi, radio, maupun konser terbuka Lagu-lagu lawasnya yang menyayat hati seperti Cidro, Layang Kangen, hingga Bojo Anyar silih berganti muncul.
Generasi Z pun ikut kepincut. Mentasbihkan diri sebagai fans Didi Kempot dengan sebutan Sad Boys dan Sad Girls yang tergabung dalam Sobat Ambyar. Itu adalah sebutan bagi penggemar Didi Kempot. Dalam berbagai kesempatan, mereka tak malu-malu ikut menyanyikan lagu-lagu maestro campurasi itu. Lengkap dengan goyangannya.
Fenomena bangkitnya kembali Didi Kempot memang luar biasa. Dia seperti dilahirkan kembali. Hampir di setiap pertunjukkan konsernya, bait lagu bernada sedih ciptaannya berganti keceriaan bagi setiap orang yang ikut menyanyikannya. Meskipun, dia sedang dilanda gundah gulana.
Lagu-lagu sedih ciptaan pria yang berjuluk Godfather of Broken Heart tersebut memang memiliki lirik yang kuat. Itu karena Didi tak asal menulis lirik lagunya. Siapapun akan setuju, jika bait lagunya seperti punya roh dan hidup. Apalagi, banyak lagunya yang dibikin berdasar pengalaman pribadi.
Cidro misalnya. Lagu tersebut terinspirasi dari masa lalu Didi yang patah hati karena hubungannya dengan pujaan hari yang tak direstui orang tua. Sehingga, Didi muda meninggalkan kekasih yang dicintainya.
Bukan Seniman Biasa
Didi Kempot bukanlah seniman biasa. Sama seperti Manthous (Anto Sugiartono), dan Nurhana (Nurhana Sri Wiryanti) penyanyi campur sari lain. Dia telah membuktikan dirinya sebagai seniman sejati yang tak meraih kesuksesan dengan jalan instan.
Pahit, manis, getir kehidupannya sebagai seorang seniman telah dia rasakan selama puluhan tahun. Sebelum namanya menjulang tinggi seperti sekarang. Ini tentunya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, terutama para seniman muda lain yang ingin mengikuti jejak Lord Didi.
"Opo wae sing dadi masalahmu, kuwat ora kuwat kowe kudu kuwat. Tapi misale kowe uwis ora kuwat tenan, yo kudu kuwat (apa saja yang menjadi masalahmu, kuat tidak kuat kamu haru kuat. Tapi, misalnya kamu sudah benar-benar tidak kuat, ya tetap harus kuat)," begitu kata bijak yang diajarkan anak seniman tradisional Ranto Edi Gudel alias Mbah Ranto.
Jauh sebelum seperti sekarang, penyanyi dengan nama asli Dionisius Prasetya itu beberapa kali pernah mengalami kegagalan. Meski kerap gagal, sejak meniti karir pada 1984, Didi tak patah arang. Dia meyakini, jalan kesuksesan akan diraihnya, jika terus sabar dan kuat menjalani dinamika pasang surut kehidupan.
Akhirnya, buah kesabarannya berhasil diraihnya. Setelah sekitar tiga tahun merantau ke Jakarta sejak tahun 1987, Dewi Fortuna berpihak padanya.
Lagunya yang berjudul Cidro berhasil memikat perhatian sebuah perusahaan rekaman musik. Sejak itu, nama dan suara Didi Kempot semakin dikenal publik dari rekaman album pertamanya.
Meski namanya telah berkibar Didi tak besar kepala. Dia justru semakin rendah hati. Sebagai contoh, saat manggung dia memperlakukan fansnya seperti sahabat sendiri. Tak heran, jika dia kerap meminta fansnya ikut bernyanyi saat tengah manggung di berbagai acara.
Yang tak kalah penting, sebagai seniman besar, Didi juga berjiwa sosial tinggi. Ini merupakan bentuk ungkapan syukur dari Didi yang dianugerahi Tuhan berupa kesuksesan dalam berkarir, atas usahanya yang gigih berjuang tak pantang menyerah.
Sebagai bentuk kasih sayangnya pada umat manusia, sebelum meninggal, Didi bersama salah satu stasiun televisi nasional berhasil menggalang dana untuk membantu penanganan pandemi virus korona baru (Covid-19). Dari penggalangan dana dengan tajuk “Konser Amal dari Rumah” pada Sabtu (11/4), Didi berhasil menggalang dana sebesar Rp 7,6 miliar. Dana tersebut kemudian diberikan ke beberapa wilayah, melalui empat lembaga, antara lain Laziz NU, Laziz Muhammadiyah, Jaringan Lintas Iman untuk Covid (JIC), dan Sobat Ambyar.
Kini, usai berhasil menghipnosis para penggemarnya. Seniman yang rendah hati, dan berjiwa sosial tinggi itu berpulang menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Dia menghembuskan nafas terakhir sekitar Pukul 07.45 WIB, Selasa 5 Mei 2020, di Rumah Sakit Kasih Ibu Solo, Jawa Tengah.
Selamat Jalan Pakde...
Rasane Koyo Wong Kelangan, Kowe Ninggal Aku, Ra Kroso Netes Eluh Ning Pipiku...

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
