alexametrics

Berbahasalah dengan Gembira

Oleh Edi AH Iyubenu, Esais, cerpenis
1 Desember 2019, 12:55:00 WIB

TUNTUTAN logis kepada ekspresi berbahasa sejak muasalnya telah bermasalah. Ia berpangkal pada dua sudut sekaligus.

Pertama, konstruksi ”logis” (logika) yang kita pahami selalu menisbahkan ke-masuk akal-an. Jika tak masuk akal, didera hukum tidak logis.

Kedua, khitah bahasa sama sekali bukanlah untuk berlogis-logisan, tetapi fungsi ”komunikasi” dan falsafah ”menenun makna”.

Maka, melesakkan godam logis kepada bahasa sepadan dengan memaksa manusia untuk ”mengada” dengan reduksi jalan hitam putih atau benar salah belaka.

Immanuel Kant dikenal dengan salah satu ajarannya perihal ”nomena” dan ”fenomena”. Memang dia bukan satu-satunya. Ada Karl Jaspers dengan simbolisme, Hans-Georg Gadamer dengan fusion of horizons, bahkan pula Imam Ghazali dengan dzauq-nya. Dan tokoh-tokoh lainnya.

Sederhananya, apa yang dimaksud ”nomena” adalah yang tersembunyi dan ”fenomena” adalah yang tampak. Ketika saya mengatakan kepada Mas Iqbal Aji Daryono, ”Mas, pulang, rehat dulu kelakuannya….” jalinan komunikasi kami terpancar dalam dua wajah sekaligus: nomena dan fenomena.

Orang yang berada di derajat fenomena mungkin akan memahami komunikasi tersebut sebagai ”bertemu anak-anak dan istri di Bantul”. Sesederhana itu. Tetapi, secara nomena, sudah pasti hanya saya dan Mas Iqbal yang benar-benar memahami dan merasakan konteksnya. Itulah titik konsensus tersebut. Sekaligus arbitrer itu (ke-manasuka-annya). Tentu kalimat personal saya tersebut tak perlu dipaksa logis oleh siapa pun.

Tamsil khitah berbahasa juga melimpasi semua kita, dalam konteks konsensus dan arbitrernya masing-masing. Termasuk pada skala yang lebih besar, sebutlah sebuah forum atau masyarakat.

Jangan dikira mekanisme asasiah tersebut tidak bekerja. Boleh jadi di permukaan tertampakkan seolah ”mekanisme logika”, tetapi pada dasarnya fondasinya selalulah ihwal konsensus dan arbitrerlah yang bekerja mutlak.

Seorang pembicara di suatu forum dengan audiens sebanyak apa pun pada hakikatnya juga akan selalu bermekanisme begitu. Baik dalam fungsi komunikasi maupun tenunan maknanya, sesuai dengan seni langgam dan gaya berbahasanya (konsensus dan arbitrer). Bandingkanlah, misalnya, kalimat-kalimat ucap dan tulis Sujiwo Tedjo dan Eka Kurniawan.

Tak jemu saya menukil Ludwig Wittgenstein untuk mendaraskan falsafah itu melalui semboyannya yang sangat terkenal, ”Setiap kata tergantung penggunaannya dalam setiap kalimat; setiap kalimat tergantung penggunaannya dalam setiap bahasa; dan setiap bahasa tergantung penggunaannya dalam setiap kehidupan.” Catat tebal kata ”penggunaan”: Inilah denyar konsensus dan arbitrer itu.

Lalu, di mana letak peran dan pentingnya logika dalam berbahasa?

Pertanyaan tersebut sekadar toleransi saya kepada pemahaman kaum logosentris lawasan. Tak lebih.

Joko Pinurno pernah membuat ungkapan yang lucu dan dalam terhadap contoh pemikiran logis melalui bait ini: Siapa yang berduka dalam tralala akan bersuka dalam trilili.

Di sebuah rapat warga, misal lain, pak RT bebas saja mengatakan, ”Saya haturkan terima kasih kepada perkenan waktu Bapak-Bapak untuk hadir di sini….” dengan semua audiens paham maksudnya (itulah konsensus) serta berarbitrer, bermanasuka, dalam pilihan bentuk kalimat, lema, dan gayanya. Rapat berjalan baik, lancar, semua paham. Lantas, mengapa cara berbahasa dengan logis mesti digodamkan sedemikian ndakik-ndakik lagi?

Saya kira berbahasa ya berbahasa saja, sebagaimana cinta ya cinta saja, dalam ruang konsensusnya masing-masing. Itulah falsafah yang paling selaras dengan khitah mengapa kita saling memerlukan bahasa.

Ketika telah tercipta konsensus dalam suatu kerja komunikasi, dengan sendirinya ia telah logis –lagi-lagi ini sekadar toleransi kognitif saya. Ia tak perlu lagi untuk masih dibebani tuntutan-tuntutan logis lahiriah teknis begini dan begitu yang penuh keribetan.

Maka, bergembira sajalah dalam berkata, berkalimat, berbahasa, dan berkehidupan. Jika aturan logis berbahasa yang ndakik-ndakik itu malah khianat merampas kegembiraan hidup, tinggalkanlah. Wittgenstein pernah mengalami dan menyesalkannya. Masak kita hendak mengulangi penyesalannya? (*)

Editor : Ilham Safutra



Close Ads