
Eka kurniawan
KETIKA saya berkunjung ke Ho Chi Minh tempo hari, saya melihat lalu lintas di kota itu jauh lebih semrawut daripada Jakarta. Tapi, pada saat bersamaan, jarang saya mendengar keributan karena kekacauan itu.
Saking semrawutnya, pernah taksi daring yang saya pakai terjebak di pertigaan.
Lalu lintas terkunci karena dari semua arah kendaraan saling menyerobot. Sepeda motor naik ke trotoar, juga terjebak saling berhadap-hadapan dengan sesamanya yang melawan arus.
Dari balik kaca mobil, saya memandangi kesemrawutan itu dengan takjub. Tak ada pengemudi yang keluar dan ngomel-ngomel ke mobil di depannya. Hanya satu dua yang memijit klakson, itu pun terdengar malas. Tak ada pak ogah maupun polisi yang datang untuk mengurai keadaan.
Taksi daring saya berhasil keluar dari jebakan tersebut dengan memutar ke kanan, melawan arus, padahal niatnya belok ke kiri. Itu pun nyaris serempetan dengan bus. Sopir bus tetap melajukan busnya dengan pelan. Taksi daring saya pun tetap melaju, hanya menyisakan cukup ruang untuk kaca spion saja.
Penasaran, saya bertanya kepada si pengemudi taksi daring itu, ”Kenapa kalian tidak marah? Ada orang menyerobot lampu merah. Ada yang melawan arus. Ada yang naik trotoar. Saya heran kenapa kalian tenang-tenang saja?”
Jawaban sopir taksi daring itu mengejutkan saya, meskipun dikatakannya sambil tertawa: ”Karena semua orang tahu dirinya salah.”
Tiba-tiba saya membayangkan skenario yang berbeda. Bayangkan jika para pengemudi itu semuanya merasa benar. Yang bergerak selepas lampu hijau akan keluar dari mobil dan memaki mobil yang menerobos lampu merah. Tapi, si penerobos lampu merah merasa benar juga, karena lampunya ”terlalu cepat ganti”.
Perang mulut dan perang klakson akan terjadi. Bahkan gebrak-gebrakan di kaca mobil. Itu sering saya lihat di jalanan Jakarta, di mana mantra baru diciptakan: ”Lo yang salah, lo yang marah.”
Kalau dipikir-pikir, betul juga. Konflik sering kali terjadi ketika dua pihak atau lebih sama-sama merasa benar, atau mengklaim diri/kelompoknya lebih benar dari yang lain. Klaim kebenaran sering kali tak memerlukan bukti, tapi orang bisa memperjuangkannya, mengorbankan apa pun, demi klaim tersebut.
Mereka bersedia adu jotos di jalanan, jika menyangkut orang per orang. Atau saling lempar rudal, jika itu terjadi antarnegara.
Di kisah Mahabharata, konflik antara keluarga Pandawa dan Kurawa juga bisa disederhanakan karena kedua pihak sama-sama mengklaim kebenaran versi masing-masing. Keluarga Kurawa merasa berhak sebagai ahli waris kerajaan karena ayah mereka adalah raja. Keluarga Pandawa juga merasa berhak karena ayah keluarga Kurawa buta dan tak berhak jadi raja.
Siapa yang lebih benar? Mereka harus memutuskannya dalam perang besar yang penuh tragedi dan pertumpahan darah. Sebuah perang yang nyaris menyerupai perang dunia, karena melibatkan begitu banyak sekutu di kedua pihak.
Begitu juga dalam kisah legenda dua murid Aji Saka. Kedua muridnya bertengkar karena sama-sama merasa benar. Yang pertama merasa benar karena bersikukuh pada perintah sang guru untuk diam menjaga pusaka. Yang kedua merasa benar karena juga bersikukuh pada perintah sang guru untuk pergi menemui guru mereka. Keduanya akhirnya bertarung hingga maut menjemput.
Siapa di antara mereka yang benar? Bahkan jika ternyata keduanya berada dalam kebenaran masing-masing, apa gunanya ketika keduanya sudah berkalang tanah? Kematian mereka pada akhirnya menjadi sejenis tragedi, yang tentu disesali sang guru. Perkelahian mereka, saya rasa, tak akan terjadi jika keduanya merasa bersalah.
Tapi, tunggu. Sikap merasa bersalah mungkin akan mengurangi banyak konflik atau pertengkaran, bahkan peperangan. Kita sering mendengar di perbincangan sesama kawan atau pasangan, ”Sudahlah, kita sama-sama salah.” Lalu, perdamaian tercipta. Atau, setidaknya mereka sama-sama terdiam dan menyesali kesalahan masing-masing.
Meskipun begitu, sikap untuk selalu sama-sama merasa salah seperti yang saya saksikan di pertigaan Ho Chi Minh adalah kesemrawutan. Kesalahan dinormalisasi. Orang menjadi permisif kepada kesalahan. Orang merasa bebas berbuat salah, karena tahu orang lain juga berbuat salah, dan tak ada yang merasa berhak untuk memperbaikinya.
Saya tak merasa sikap merasa salah merupakan antitesis yang baik untuk sikap merasa benar.
Dalam hal ini, kita bisa belajar dari tradisi dan praktik keilmuan di mana sikap merasa benar dan salah diberlakukan bersamaan. Tanpa sikap merasa benar, kita tak akan menemukan perdebatan sengit saling merontokkan argumen. Tapi, tanpa sikap merasa salah, kita juga tak akan menyaksikan ilmu pengetahuan terus mengoreksi dirinya sendiri, menguji dan mengumpulkan bukti-bukti pendukung argumennya.
Merasa benar dan salah hanya bisa terjadi dengan sehat jika ia memiliki batas. Dan batas itu sangat sederhana: sebuah kerendahan hati untuk berhenti di titik ”jika terbukti sebaliknya”. Silakan merasa benar, sampai terbukti sebaliknya. Silakan merasa salah, juga sampai terbukti sebaliknya.
Dengan begitu, kita tak juga perlu menciptakan mantra baru, ”Gue yang bener, gue yang minta maaf.” (*)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Sidang Kasus Pemuda Dipukul Pengusaha Buah di Surabaya, Saksi Sebut Tak Melihat Kejadian Jelas
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Toulouse vs Lille di Liga Prancis: Les Dogues Berpeluang Sikat Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Bali United vs PSS Sleman: Dominikus Dion Harap Super Elja Main Pede
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
