alexametrics

PDIP Berjaya di Pemilu 2019, Pengamat: Momentum untuk Regenerasi Ketum

7 Agustus 2019, 14:25:09 WIB

JawaPos.com – Kongres V PDIP yang berlangsung di Bali, Kamis (8/8) memuat sejumlah agenda. Selain strategi politik partai berlambang banteng itu, juga kepengurusan untuk periode selanjutnya.

Hanya saja untuk posisi ketua umum diperkirakan masih dimandatkan secara aklamasi oleh kader partai tersebut kepada Megawati Soekarnoputri. Menurut pengamat politik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta Andriadi Achmad, situasi itu adalah warning bagi PDIP. Warning itu ketika Megawati sudah tidak ada lagi nanti.

“Perlu menjadi bahan renungan dan pemikiran para elite PDIP, bagaimana eksistensi PDIP pasca kepemimpinan Megawati. Sepertinya kader-kader PDIP tidak ada yang sanggup mengambil mandat menjadi ketua umum selagi Megawati masih mau jadi ketua umum. Puan Maharani saja sebagai tokoh yang dipersiapkan dari trah Soekarno mengaku hanya Megawati saat ini paling tepat sebagai ketua umum,” ujar Andriadi Achmad kepada JawaPos.com, Rabu (7/8).

Sebetulnya, imbuh Andriadi, dalam teori kepemimpinan, seorang pemimpin yang berhasil itu adalah melahirkan kader-kader pemimpin hebat setelahnya jauh lebih baik dari dirinya. Hingga kini kader-kader potensial PDIP sudah banyak yang bermunculan di permukaan, baik dari trah Soekarno maupun nontrah Soekarno. Mereka pun sudah duduk di eksekutif maupun legislatif. Akan tetapi hingga kini belum ada kader PDIP yang berani “menentang” Megawati dalam bursa calon ketua umum.

“Kharismatik Megawati dalam memimpin PDIP dalam 20 tahun belakangan menimbulkan ketidakpercayaan dari kadernya untuk mau mengambil tongkat estafet ketua umum ke depannya,” imbuh direktur Nusantara Institute PolCom SRC itu.

Dia berpendapat, Kongres V PDIP 2019 ini adalah momentum tepat untuk regenerasi kepemimpinan dari Megawati ke penerusnya. Mumpung PDIP sedang berjaya baik di lembaga eksekutif maupun legislatif. Keretakan dan perpecahan internal parpol biasanya muncul ketika sedang berada di titik kekalahan. Oleh karena itu, tidak ada yang mampu memberikan garansi ke PDIP pada 2024 masih tetap berjaya untuk memenangkan pemilu.

“Menurut hemat saya sebetulnya 2019 adalah momentum tepat untuk regenerasi kepemimpinan di PDIP. Dari Megawati ke penerusnya. Tentu paling potensial dari trah Soekarno ibarat duplikat Megawati adalah Puan Maharani,” tandasnya.

Sebelumnya, politikus senior PDIP Aria Bima menegaskan akan ada regenerasi di dalam PDIP. Hanya saja menurutnya, sosok itu bukan Jokowi. Sebab Jokowi sebagai salah satu kader PDIP tidak tertarik menjabat ketua umum. “Saya tidak melihat semacam minat Pak Jokowi untuk menjadi pemimpin partai,” ujar Aria Bima, Sabtu (3/8).

Aria Bima menyebut Jokowi lebih memilih menjadi pelayan masyarakat, ketimbang menjadi ketua umum PDIP. Hal ini ia ketahui saat bersama Jokowi menjadi bagian dari kepengurusan PDIP di Jawa Tengah. “Jadi dia itu lebih suka pada jabatan publik yang selama ini saya ketahui, saya tidak melihat Pak Jokowi ini passion-nya mengelola partai,” katanya.

Anggota Komisi VII DPR itu menambahkan, PDIP sudah mempersiapkan dua anak Megawati Soekarnoputri, menjadi calon ketua umum yang akan datang. Mereka adalah Prananda Prabowo dan Puan Maharani. Dengan kehadiran dua tokoh itu diharapkan ada regenerasi di dalam tubuh partai berlogo banteng itu. “Ibu Mega yang tahu persis bagaimana menyiapkan putra dan putrinya, sehingga mampu menjalankan tugas kepartaiannya,” ungkapnya.

Editor : Ilham Safutra



Close Ads