Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 Juli 2019 | 05.52 WIB

Empat Ideologi Bakal 'Bertempur' Keras Jelang Pilpres 2024

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA memrediksi 'pertikaian' politik yang terjadi di pilpres 2019 akan berlanjut hingga pemilu 2024. Rivalitas itu akan diisi dengan sahut-menyahut komentar, saling kritik hingga hujat menghujat di media sosial.

”Situasi perpecahan yang kita alami kini tak akan mereda. Karena di balik pertikaian kelompok politik itu, ada elemen pertikaian ideologis, ada perbedaan pemahaman yang berbeda," tutur Denny JA dalam sambutannya ketika menerima The Legend Award, Empat Kali Berturut-Turut Ikut Memenangkan Pemilu Presiden (2004, 2009, 2014, 2019) dari Leprid di Jakarta, Selasa (2/7).

Denny juga menuturkan, ada empat kelompok ideologi yang ikut 'bertempur' dalam Pilpres 2019. Situasi ini sulit diredakan meski Jokowi dan Prabowo berkoalisi. pertarungan empat ideologi itu akan terus berjalan.

”Pertarungan ideologi hanya berhenti jika ideologi itu kehilangan pengikutnya dalam jumlah yang signifikan,” urainya.

Keempat ideologi yang dimaksud yakni, pertama, ideologi politik reformasi. Menurut Denny JA, paham ini mulai dibawa Presiden Habibie ketika menjadi presiden pertama era Reformasi. Lalu dilanjutkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan sekarang Jokowi.

”Paham politik reformasi adalah varian demokrasi yang khas Indonesia. Ada kebebasan politik di sana. Berbeda dengan Orde Baru ataupun Orde Lama,” katanya.

Ideologi ini, disebut Denny JA, mendapatkan tantangan dari tiga ideologi lainnya. Yakni yang kedua, ideologi Islam Politik. Paham ini menginginkan syariat Islam lebih berperan di ruang publik.

”Bentuknya bisa macam- macam. Bisa negara Islam, khilafah. Bisa juga dengan nama NKRI bersyariah. Bagi paham ini, ideologi yang berlaku sekarang terlalu sekuler. Terlalu liberal. Terlalu memisahkan politik dari agama,” urainya.

"Yang menonjol dalam ideologi ini adalah, FPI dan HTI. Kedua ormas ini dinilai berperan signifikan dalam Pilpres 2019 di belakang Prabowo," paparnya.

Ketiga, yakni ideologi kembali ke UUD 45 yang asli. Paham ini, kata Denny, tak menyetujui sistem politik ekonomi yang berlaku sekarang. Mereka menganggapnya secara politik terlalu liberal. Karena terlalu memberikan ruang pada perusahaan asing.

Pelopor paham ini, kata Denny JA, awalnya adalah Persatuan Purnawirawan Angkaran Darat. Pada 2009, tokohnya adalah Letnan Jenderal Suryadi. Mantan Panglima TNI, Djoko Santoso yang pada Pilpres 2019 berada di kubu Prabowo, juga disebutnya berada di barisan ini.

Keempat, ideologi hak asasi manusia. Paham ini juga banyak mengkritik Pemerintah Jokowi karena dianggap justru karena kurang liberal. Jika Islam politik menganggap pemerintahan Jokowi terlalu liberal, pendukung hak asasi justru sebaliknya, kurang liberal.

Kelompok ini menganggap Jokowi kurang tuntas dalam menyelesaikan isu HAM, mulai dari kasus gerakan 65 hingga kasus pembunuhan Munir. Tokoh ideologi ini lebih banyak dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

"Salah satu tokohnya adalah Harry Azhar, ia mengkritik keras Jokowi. Tapi ia juga tak mau membela Prabowo,” paparnya.

Jelang Pilpres 2024 mendatang, empat ideologi itu kembali bertarung. Bisa jadi keempat-empatnya lebih kuat karena lebih punya pengalaman. Sebab yang bertarung nanti, semuanya adalah penantang.

"Tak ada calon petahana (incumbent) karena Jokowi tak bisa mencalonkan kembali," imbuhnya.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore