alexametrics

Tahun Ajaran Baru, Beberapa Sekolah Adakan Pembelajaran Tatap Muka

Persingkat Jam Belajar, Sepekan Masuk 2 Hari
13 Juli 2020, 12:43:02 WIB

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum reda, sejumlah sekolah memutuskan untuk menjalankan pembelajaran tatap muka. Itu dilakukan bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru 2020–2021 pada hari ini (13/7).

SALAH satu sekolah yang mulai menjalankan pembelajaran tatap muka adalah Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah (MIS) VII Podosugih, Kota Pekalongan. Madrasah setingkat SD itu berada di Kelurahan Podosugih, Kecamatan Pekalongan Barat. Jumlah siswanya sekitar 180 anak.

Guru Kelas IV MIS VII Podosugih Arif Mudilin mengatakan, hari ini (13/7) sekolah memanggil seluruh orang tua murid untuk sosialisasi.

”Pukul 07.00 sampai pukul 08.00 wali murid siswa kelas I. Dan seterusnya,” katanya saat diwawancarai kemarin (12/7).

Kegiatan belajar siswa di sekolah mulai dijalankan Selasa (14/7). Skenario yang diterapkan sekolah adalah setiap kelas hanya masuk dua hari dalam sepekan. Senin dan Kamis untuk siswa kelas I dan kelas VI.

Kemudian, Selasa dan Sabtu untuk siswa kelas II dan V. Lalu, Rabu dan Minggu untuk siswa kelas III yang berpasangan dengan siswa kelas IV. Dengan pengaturan itu, satu rombongan belajar (rombel) tidak perlu dipecah menjadi beberapa sif atau gelombang belajar. Seluruhnya belajar dalam waktu yang sama.

Untuk mengurangi kepadatan di kelas, siswa dipisah menjadi dua rombel. Misalnya, kelas I dipecah menjadi kelas I-a dan I-b. Meski demikian, keduanya masuk di hari dan jam yang sama.

”Selain itu, jam belajar di sekolah diperpendek,” katanya. Sekolah dimulai pukul 07.00 WIB dan diakhiri jam 10.00 WIB. Dengan pengaturan jam belajar tersebut, tidak ada jam istirahat. Karena itu, siswa tidak perlu jajan di kantin sekolah. Selama masa pandemi ini, siswa sangat dianjurkan untuk diantar dan dijemput orang tua masing-masing. Selama bersekolah, siswa wajib pakai masker dan guru menggunakan face shield.

Arif mengatakan, pihaknya bersama asosiasi guru swasta sempat menghadap ke jajaran pemerintah kota dan gugus tugas setempat. Dalam pertemuan itu, mereka menyampaikan keinginan untuk menjalankan pembelajaran tatap muka. Hasilnya, gugus tugas mempersilakan, tetapi tidak mengeluarkan surat rekomendasi atau sejenisnya.

Dia menuturkan, sekolah memutuskan untuk menyelenggarakan KBM tatap muka karena menilai pembelajaran online tidak efektif. Sebab, tidak semua siswa memiliki ponsel pintar, laptop, atau jaringan internet. Kemudian, setiap ada tugas, tidak bisa dipastikan itu murni dikerjakan siswa atau orang tuanya. Dia menegaskan, status KBM tatap muka di sekolahnya itu uji coba. Akan dievaluasi sambil berjalan.

Sekolah lain yang hari ini memulai kegiatan tatap muka adalah SMPN 1 Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT. Kepala SMPN 1 Larantuka Solirus Soda mengatakan, kegiatan hari ini adalah masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) untuk siswa kelas VII. Sementara itu, siswa kelas VIII dan IX libur.

Total jumlah siswa kelas VII di SMPN 1 Larantuka adalah 374 orang. Dia menjelaskan, skema MPLS tatap muka adalah setiap kelas dibatasi maksimal 12 siswa. ”Sementara edaran bupati, satu kelas maksimal 15 siswa,” jelasnya. Solirus mengatakan, sekolah juga menyiapkan 40 titik tempat cuci tangan untuk siswa.

Masa MPLS dilakukan dalam tiga sesi. Setiap sesi berdurasi dua jam. Sesi terakhir selesai pukul 15.00 waktu setempat. Di antara sesi itu ada waktu satu jam untuk siswa keluar dan masuk sekolah. Setiap siswa menjalani pengecekan suhu tubuh saat akan masuk sekolah.

Sementara itu, kegiatan belajar direncanakan mulai Senin pekan depan (20/7). Dia mengatakan, setiap jenjang kebagian belajar di kelas selama dua hari. Sisanya belajar dari rumah (BDR) selama empat hari. Perinciannya, kelas VII belajar hari Senin dan Kamis, kelas VIII Selasa dan Jumat, dan kelas IX Rabu dan Sabtu.

Solirus mengatakan, sekolahnya memiliki 31 ruang kelas. Karena itu, skema tersebut bisa menjaga jarak aman siswa di kelas. Nanti satu kelas hanya diisi 11–12 siswa. Sebab, setiap hari jam belajar dibagi dalam tiga sif. Tidak ada jam istirahat. Setelah selesai satu sif, siswa langsung pulang. Mata pelajaran yang diprioritaskan untuk tatap muka adalah bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, IPA, IPS, pendidikan agama, serta PJOK (pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan).

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag Ahmad Umar mengatakan, sudah ada surat keputusan bersama (SKB) empat menteri tentang pembelajaran di kelas.

Pembelajaran di kelas dapat dilakukan di wilayah zona hijau kasus Covid-19. Kemudian, mendapatkan persetujuan dari gugus tugas setempat. Jika kriteria terpenuhi, kanwil Kemenag provinsi atau kantor Kemenag kabupaten dan kota dapat menyetujui madrasah menjalankan pembelajaran tatap muka.

Kepada madrasah yang berada di zona hijau dan memulai pembelajaran di kelas, Umar memohon supaya tetap berhati-hati. ”Tetap mawas diri,” katanya. Pengelola madrasah, guru, maupun siswa untuk terus mematuhi protokol kesehatan. Selain itu, berdoa supaya diberi kelancaran.

Umar mengatakan, kesehatan dan keselamatan anak harus diutamakan ketimbang mengejar materi pembelajaran. Dia meminta sekolah atau masyarakat secara umum tidak sembrono. Umar meminta sekolah dan masyarakat tidak menganggap sepele pandemi Covid-19. ”Apalagi, ini masalah kesehatan. Virusnya tidak kelihatan. (Harus, Red) waspada lahir dan batin,” jelasnya.

Sementara itu, untuk madrasah yang masih menjalankan pembelajaran jarak jauh karena berada di zona kuning, oranye, bahkan merah, Umar meminta tetap bersabar. Dia menjelaskan, Kemenag sudah berupaya maksimal memberikan layanan pembelajaran jarak jauh berbasis internet. Misalnya, bekerja sama dengan provider untuk menyediakan paket internet murah. Bahkan, paket internet gratis untuk siswa miskin.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : wan/c10/oni



Close Ads