JawaPos Radar

Bahayanya Sesar Palu Koro di Sulteng yang Pernah Telan 250 Korban Jiwa

27/07/2018, 19:00 WIB | Editor: Estu Suryowati
Bahayanya Sesar Palu Koro di Sulteng yang Pernah Telan 250 Korban Jiwa
Beberapa situs megalitikum di Sulawesi Tengah (Sulteng). (dok. Tim Ekspedisi Palu Koro)
Share this image

JawaPos.com - Indonesia sebagai negara yang berada di sekitar lempeng bumi Eurasia seringkali dilanda bencana alam. Di negeri ini juga tercatat dilalui tiga sesar pemicu terjadinya bencana gempa bumi hingga tsunami skala besar.

Oleh sebab itu, sebuah tim gabungan yang diberi nama Tim Ekspedisi Palu Koro akan diterjunkan untuk meneliti sesar Palu Koro, Sulawesi Tengah (Sulteng). Penelitian dilakukan sebagai upaya menyelamatkan warga setempat dan sumber daya alam di wilayah tersebut.

Ketua Tim Ekspedisi Palu Koro Trinurmalaningrum mengatakan, beberapa bencana besar pernah terjadi di sekitar sesar Palu Koro yang membentang dari Palu hingga Teluk Bone. Bencana besar yang pernah terjadi itu diperkirakan menelan korban hingga ratusan orang.

"Kalau melihat sejarahnya, gempa tahun 1907 itu pernah menjadi gempa yang cukup besar. Kemudian, tsunami itu cukup besar dengan korban sekitar 250 orang meninggal pada saat itu," ujar Trini, sapaan Trinurmalaningrum di gedung BNPB Jalan Pramuka Raya, Jakarta Timur, Jumat (27/7).

Dari penelitian ahli geologi lanjut Trini, siklus bencana di sesar Palu Koro ini terjadi setiap 100 tahun. Jika berkaca dari kejadian terakhir tahun 1907 maka di masa-masa sekarang menjadi waktu rawan bencana besar itu terjadi kembali.

Kekhawatiran itu pula yang membuat Tim Ekspedisi Palu Koro berkejaran dengan waktu untuk segera melakukan penelitian dan pengumpulan data. "Sebenarnya (siklus bencana sesar Palu Koro) itu 100 tahun. Dan ini seratus tahun udah lewat. Peristiwa yang tercatat terakhir tahun 1907. Sekarang ini masa rawan, ini yang dikhawatirkan," lanjutnya.

Meski demikian Trini mengimbau, masyarakat Sulteng tidak ketakutan akan ancaman bencana ini. Sebab, semuanya dapat ditangani jika mereka memiliki bekal ilmu pengetahuan bencana yang mumpuni.

"Gempa dan tsunami itu tidak mematikan kalau pengetahuan masyarakat kita itu cukup baik," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sukmandaru Prihatmoko mengatakan, sesar Palu Koro setiap tahunnya bergeser sekitar 3 centimeter (cm). Angka yang terbilang kecil, namun akan berbahaya dalam jangka panjang. Efek bencana yang ditimbulkan pun membahayakan.

"Di Palu Koro pergerakan lempeng buminya 3 cm per tahun. Sesar Palu Koro merangsang gempa besar dengan korban cukup banyak," kata Daru sapaan akrab Sukmandaru.

Akibat pergerakan sesar Palu Koro ini bisa menimbulkan beberapa efek. Jika pergerakannya di kedalaman, maka efek yang dirasakan warga hanya berupa goncangan.

Namun, jika pergerakan muncul dipermukaan, maka bisa menimbulkan retakan tanah, atau adanya penurunan ketinggian tanah dari posisi semula.

Lebih jauh Daru menerangkan, paska gempa dahsyat 1907, wilayah sesar Palu Koro sempat dikosongkan oleh warga setempat. Masyarakat baru kembali berdatangan sekitar tahun 1952.

Warga pendatang inilah yang harus menjadi perhatian pemerintah termasuk Tim Ekspedisi Palu Koro untuk diberi pengetahuan dalam menghadapi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

"Setelah gempa (1907) dulu daerah itu mulai dikosongkan, masyarakat mulai datang lagi tahun 1952. Tapi mereka kemungkinan nggak tahu sejarah di masa lalu. Makanya kita harus lakukan pendekatan untuk sosialisasi bahayanya sesar Palu Koro ini," pungkasnya.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up