
Tiga wartawan yang tergabung dalam wadah jurnalis anti korupsi saat melakukan aksi teatrikal penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Aksi yang digelar di depan Gedung KPK Selasa (20/6), dilakukan bertepatan dengan ulang tahun Novel.
JawaPos.com – Menggunakan setelan baju gamis warna putih, Muhamad Haries (wartawan TV One) berjalan santai seperti tak ada firasat apa-apa. Ia berjalan pelan seperti hari-hari biasa, usai menunaikan salat subuh berjamah di Masjid Al-Ikhsan menuju ke kediamannya, di Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara Selasa (11/6) April silam.
Saat dalam perjalan ke rumahnya, tiba-tiba pemeran penyidik KPK Novel Baswedan tersebut, dihampiri seorang pengendara motor yang berboncengan.
Sejurus kemudian, tanpa basa basi, Agus Dwi Prasetyo (wartawan Jawa Pos) yang memerankan sebagai pihak pelaku satu, langsung menyiramkan cairan air keras dalam cangkir yang dipegangnya. “ Novel ’’ teriak pelaku satu kepada Novel.
Usai menyiramkan cairan tersebut ke wajah Novel, pelaku satu pun langsung meminta pelaku dua yang diperankan Dedi Muhsoni (wartawan Jak TV), tancap gas meninggalkan Novel Baswedan.
Dilain pihak atas siraman air keras tersebut, sejurus kemudian Novel mengerang kesakitan dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Selanjutnya mantan Kasatreskrim Polresta Bengkulu tersebut, berlari ke arah Masjid lagi, sembari berteriak meminta pertolongan.
Penggalan cerita di atas bukanlan kejadian rekonstruksi ulang yang dilakukan pihak kepolisian atas perkara penyiram air keras yang menimpa penyidik senior KPK Novel Baswedan. Namun, cerita di atas adalah aksi teatrikal peristiwa penyiraman air keras yang menimpa Novel Baswedan, dan diperankan oleh sejumlah wartawan.
Aksi ini dilakukan, selain untuk memperingati hari ulang tahun Novel Baswedan yang ke – 40, juga sebagai bentuk pesan kepada Presiden Joko Widodo, agar mau membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) seperti pada saat penggungkapan perkara pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib.
‘’Ini bentuk pesan kami sebagai jurnalis anti korupsi, bahwa kami sebagai masyarakat dan jurnalis tidak tidur untuk mengawasi kinerja Polri ‘’ ujar Kuswandi, koordinator massa aksi, saat membuka acara di lobi gedung KPK Jakarta, Selasa (20/6).
Senada dengan Kuswandi, Sabir Lalahu mengatakan, aksi yang dilakukan sejumlah jurnalis yang sehari-hari bertugas di KPK ini, juga dilakukan agar wartawan juga harus waspada, karena rentan dengan berbagai ancaman.’’ Novel Baswedan saja diserang, apalagi kita yang cuma wartawan, ‘’ cetus jurnalis Koran Sindo ini.
Dalam aksi damai ini, selain digelar aksi teatrikal, juga dilakukan aksi baca puisi. Aksi baca puisi dengan judul ‘’ Sang Pejuang ‘’ tersebut, dibacakan oleh jurnalis media online kumparan.com Marcia Audita. Usai pembacaan puisi selesai, setelah perwakilan wadah pegawai KPK memberikan sambutan, kemudian acara ditutup dengan doa bersama untuk kesembuhan Novel Baswedan dan kelancaran pemberantasan korupsi di Indonesia. (wnd/jpg)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
