Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 November 2020 | 22.23 WIB

Kasus Penembakan Pendeta Yeremia, TNI AD Belum Temukan Bukti Kuat

HASIL PENYIDIKAN: Danpuspomad Letjen Dodik Wijanarko menjelaskan proses hukum para pelaku insiden di Jakarta Timur akhir bulan lalu, kemarin (9/9). (SYAHRUL YUNIZAR/JAWA POS) - Image

HASIL PENYIDIKAN: Danpuspomad Letjen Dodik Wijanarko menjelaskan proses hukum para pelaku insiden di Jakarta Timur akhir bulan lalu, kemarin (9/9). (SYAHRUL YUNIZAR/JAWA POS)

JawaPos.com - Tim investigasi gabungan TNI Angkatan Darat (AD) belum merampungkan kasus penembakan pendeta Reyemia Zanambani. Sampai saat ini proses penyelidikan masih berlangsung.

"Masih dalam proses penyelidikan dan akan ditindaklanjuti dengan proses penyidikan oleh tim gabungan, apabila di kemudian hari sudah didapatkan alat bukti yang cukup akan dilaksanakan proses hukum sebagaimana mestinya," kata Danpuspomad, Letjen TNI Dodik Widjanarko di kantornya, Jakarta, Kamis (12/11).

Sampai saat ini tim gabungan belum berhasil menemukan alat bukti yang cukup untuk menaikan perkara ke tahap penyidikan. "Kita menanyakan kepada para saksi, kita tentu melihat TKP, kita juga tentu melihat forensiknya dan lain sebaginya kita juga perlu," imbuh Dodik.

Guna mencari pelaku penembakan tim gabungan investigasi juga membutuhkan otopsi terhadap jenazah korban. Sedangkan proses tersebut belum didapat. "Kita tidak ingin menentukan tersangka itu ke orang yang salah, tentunya menetukan tersangka ke orang yang betul-betul melakukan dan berbuat terhadap kesalahan," ucap Dodik.

Saat ini tim gabungan masih terus bekerja di lapanga. Tim terdiri dari Puspomad, staf intelijen TNI AD, Pusat Intelijen TNI AD, dan Direktorat Hukum TNI AD yang bergabung dengan tim Kodam XVII/Cenderawasih. Tim ini dibentuk langsung oleh oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) satu hari setelah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Intan Jaya menyerahkan hasil investigasi lapangan ke Menko Polhukam.

Sebelumnya, Menko Polhukam Mahfud MD telah menerima laporan resmi hasil investigas Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Intan Jaya. Berkas diserahkan langsung oleh Ketua TGPF Intan Jaya Benny Mamoto di Kantor Kemenko Polhukam Jakarta, Rabu (21/10).

Mahfud mengatakan, hasil investasi tersebut menemukan dugaan keterlibatan aparat dalam tewasnya pendeta di Intan Jaya. Namun, ada kemungkinan pula korban dibunuh oleh pihak lain.

"Mengenai terbunuhnya Pendeta Yeremia Zanambani pada tanggal 19 September 2020, informasi dan fakta-fakta yang didapatkan tim di lapangan menunjukkan dugaan keterlibatan oknum aparat. Meskipun ada juga kemungkinan dilakukan oleh pihak ketiga," kata Mahfud.

Sementara itu, terkait tewasnya 2 prajurit TNI Serka Sahlan pada 17 September 2020 dan Pratu Dwi Akbar Utomo 2 hari setelahnya diduga dilakukan oleh Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB). "Demikian pula terbunuhnya seorang warga sipil atas nama Badawi pada tanggal 17 September 2020," imbuh Mahfud.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore