
Photo
JawaPos.com - Polresta Denpasar membongkar praktik prostitusi yang melibatkan tiga bule Uzbekistan. Seorang muncikari bernama Poltak P Manihuruk alias Robby ditangkap polisi.
Polisi menyita sejumlah beberapa barang bukti. Di antaranya dua kunci kamar hotel, HP, dan kain seprei. “Ada kondom bekas, kondom belum terpakai, dan Dan uang tunai hasil transaksi sebanyak Rp4.885.000,” jelas Kapolresta Denpasar Jansen Avitus Panjaitan seperti dikutip Radar Bali (Jawa Pos Group), Jumat (9/4).
Polisi sempat menggerebek hotel di Jalan Teuku Umar. Dalam dua kamar hotel itu ditemukan dua bule Uzbekistan dengan dua pria hidung belang. Dalam perkara ini, Polresta Denpasar menahan mucikari Robby. Sedangkan bule Uzbekistan dan pria hidung belang untuk sementara dijadikan saksi dalam kasus ini.
Robby ditangkap di kosnya di Jalan Gelogor Carik Gang Kwala Nomor 11 Pemogan, Denpasar Selatan pada Rabu (7/4). Pelaku ditangkap karena menjual sejumlah wanita ke pria hidung belang. Bahkan beberapa di antara wanita yang dia jual merupakan warga negara asing (WNA)
Tersangka Robby mematok harga perempuan kepada laki-laki melalui media WhatsApp seharga Rp2,5 juta per orang. Uang tersebut diberikan kepada PSK sebesar Rp1,5 juta, sedangkan sisanya Rp1 juta diambil oleh Robby.
Perbuatan ini sudah berkali-kali dilakukan oleh Robby sejak tahun 2020. Terungkapnya praktik prostitusi ini bermula dari adanya informasi masyarakat. Di mana pelaku kerap menjual bule Uzbekistan ke pria hidung belang.
Lokasi transaksi lendir itu pun dilakukan di sejumlah hotel di kawasan Badung dan Denpasar. Dari informasi itu, polisi kemudian melakukan penyelidikan. Lalu, Rabu (7/4) sekitar pukul 20.45 WITA, polisi menggerebek sebuah kamar hotel di kawasan Jalan Teuku Umar, Denpasar. “Di dua kamar hotel itu ditemukan ada dua pasangan yang bukan suami istri,” kata Kombes Jansen.
Dari pemeriksaan terhadap dua wanita yang dijual dan dua pria hidung belang, polisi kemudian menangkap pelaku di kosnya di Jalan Gelogor Carik Gang Kwala Nomor 11 Pemogan Denpasar selatan sekitar Pukul 21.00 wita. “WNA ada tiga dari Uzbekistan yang dijual pelaku,” kata Jansen.
Dijelaskan Jansen, sejumlah WNA itu nekat menjadi PSK karena faktor ekonomi. Di mana sebelumnya para WNA itu datang ke Bali sebelum covid-19. Saat pandemi Covid-19 melanda Bali, mereka terjebak, dan kehabisan uang sehingga tidak bisa pulang ke negaranya.
“Sekarang belum bisa pulang dan mengambil kerja sampingan dengan menjajakan diri. Mereka memasang harga 2,5 juta per jam. Kami duga faktor ekonomi karena dia sudah lama tinggal di Bali sebelum Covid,” ujar Jansen.
Lanjut Jansen, para bule Uzbekistan itu tidak punya pekerjaan dan tidak punya uang untuk kembali ke negaranya. Lalu dari mana pelaku mendapatkan wanita Uzbekistan yang dijadikan PSK itu?
Berdasarkan hasil interogasi sementara kepada polisi, pelaku mengaku mengenal mereka dari sejumlah diskotek di kawasan Kuta Bali. Jauh sebelum Korona para Bule Uzbekistan itu berada di diskotek. Lalu pelaku mulai berkenalan dan menawari mereka untuk dia jual.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
