
Sejumlah warga melintas di Skybridge Pasar Tanah Abang, Jakarta, Sabtu (26/12/2020). Berdasarkan keterangan pedagang setempat, pandemi COVID-19 mengakibatkan Pasar Tanah Abang sepi pengunjung di hari libur panjang Natal 2020 dan tahun baru 2021. Foto: Der
JawaPos.com - Mengubah perilaku sesuai Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di era pandemi Covid-19 memang tak mudah. Sebab kebiasaan mematuhi protokol kesehatan 3M seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun, tak mudah dilakukan. Jika bukan kesadaran dari diri sendiri untuk melindungi dirinya dan orang lain dari penularan Covid-19.
Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19, Sonny Harry B Harmadi menjelaskan dari data yang diamati, sebanyak 52 persen dari penduduk Indonesia sudah mulai terbiasa dengan protokol 3M. Namun sisanya masih setengah hati mematuhinya. "Tapi 48 persen itu masih cenderung terpaksa," tegasnya dalam konferensi pers virtual, Senin (28/12).
"Bagaimana masyarakat dilatih agar terus menjadi kebiasaan. Jadi dari terpaksa, menjadi terbiasa, dari terbiasa menjadi luar biasa," tambahnya.
Setidaknya, kata Sonny, Indonesia sudah punya modal sebanyak 52 persen masyarakat sudah mulai terbiasa. Sehingga kebiasaan ini menjadi sebuah norma baru di mana jika orang tak memakai masker secara sosial akan dikucilkan atau disalahkan.
"Kan kita juga banyak tuh, norma-norma yang berkembang di masyarakat, norma sosial, di mana kalau orang melanggar norma tersebut maka ada perasaan malu. Nah, ini yang kita dorong, sama seperti budaya antre," tambahnya.
"Kami mengajak masyarakat agar punya norma baru. Mereka yang tidak mau pakai masker, mereka yang tidak mau menjaga jarak, mereka yang membuat kerumunan, dan malas mencuci tangan, itu adalah orang orang yang tidak sesuai dengan norma baru kita," ungkapnya.
Sonny juga meminta masyarakat agar menahan diri untuk tidak liburan dan mudik. Dirinya meminta masyarakat berkaca pada flu Spanyol di mana terjadi ledakan kematian ketika masyarakat sudah mulai lelah dan jenuh.
"Kita tuh harus sabar, pengalaman dari kasus flu Spanyol, pengalaman sejarah tahun 1918 bulan Februari pertama kali terjadi flu Spanyol. Lalu orang 6 bulan kemudian mulai jenuh, keluar rumah. Pada agustus 1918 terjadi the second wave dan ledakan kematian, hanya karena mereka tidak tahan. Sehingga semua harus sadar, ini berbahaya dan kita harus mematuhi protokol kesehatan, jangan beepergian dulu, mengurangi risiko penularan," tutupnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=hLCm2C0iaSM

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
