alexametrics

52 Persen Masyarakat Sudah Patuh Protokol 3M, Sisanya Masih Terpaksa

28 Desember 2020, 19:37:18 WIB

JawaPos.com – Mengubah perilaku sesuai Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di era pandemi Covid-19 memang tak mudah. Sebab kebiasaan mematuhi protokol kesehatan 3M seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun, tak mudah dilakukan. Jika bukan kesadaran dari diri sendiri untuk melindungi dirinya dan orang lain dari penularan Covid-19.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19, Sonny Harry B Harmadi menjelaskan dari data yang diamati, sebanyak 52 persen dari penduduk Indonesia sudah mulai terbiasa dengan protokol 3M. Namun sisanya masih setengah hati mematuhinya. “Tapi 48 persen itu masih cenderung terpaksa,” tegasnya dalam konferensi pers virtual, Senin (28/12).

“Bagaimana masyarakat dilatih agar terus menjadi kebiasaan. Jadi dari terpaksa, menjadi terbiasa, dari terbiasa menjadi luar biasa,” tambahnya.

Setidaknya, kata Sonny, Indonesia sudah punya modal sebanyak 52 persen masyarakat sudah mulai terbiasa. Sehingga kebiasaan ini menjadi sebuah norma baru di mana jika orang tak memakai masker secara sosial akan dikucilkan atau disalahkan.

“Kan kita juga banyak tuh, norma-norma yang berkembang di masyarakat, norma sosial, di mana kalau orang melanggar norma tersebut maka ada perasaan malu. Nah, ini yang kita dorong, sama seperti budaya antre,” tambahnya.

“Kami mengajak masyarakat agar punya norma baru. Mereka yang tidak mau pakai masker, mereka yang tidak mau menjaga jarak, mereka yang membuat kerumunan, dan malas mencuci tangan, itu adalah orang orang yang tidak sesuai dengan norma baru kita,” ungkapnya.

Sonny juga meminta masyarakat agar menahan diri untuk tidak liburan dan mudik. Dirinya meminta masyarakat berkaca pada flu Spanyol di mana terjadi ledakan kematian ketika masyarakat sudah mulai lelah dan jenuh.

“Kita tuh harus sabar, pengalaman dari kasus flu Spanyol, pengalaman sejarah tahun 1918 bulan Februari pertama kali terjadi flu Spanyol. Lalu orang 6 bulan kemudian mulai jenuh, keluar rumah. Pada agustus 1918 terjadi the second wave dan ledakan kematian, hanya karena mereka tidak tahan. Sehingga semua harus sadar, ini berbahaya dan kita harus mematuhi protokol kesehatan, jangan beepergian dulu, mengurangi risiko penularan,” tutupnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Marieska Harya Virdhani, ARM

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads