
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno. (Istimewa)
JawaPos.com - Indonesia memperkuat daya saing industri nasional sekaligus meningkatkan pengaruh dalam pembentukan tata kelola keberlanjutan global. Pemerintah Indonesia mendorong transisi peran dari pengguna menjadi perancang standar ESG yang otentik dan berbasis kondisi domestik.
Arah kebijakan ini disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno dalam forum bersama Blue Ocean Strategy Fellowship (BOSF). Pembaruan arsitektur riset dan pengembangan (R&D) nasional penting agar selaras dengan kebutuhan transformasi industri hijau.
Saat ini, ekosistem riset Indonesia masih sangat bertumpu pada pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kontribusi sektor swasta terhadap pendanaan riset nasional baru berkisar 7 hingga 8 persen.
Baca Juga:Hari Mangrove Sedunia Jadi Momentum BNI Perkuat Komitmen Pelestarian Lingkungan dan Ekonomi Pesisir
”Ini berbanding terbalik dengan Jerman, di mana 67 persen pendanaan riset justru bersumber langsung dari sektor korporasi swasta,” papar Arif Havas Oegroseno.
Menanggapi ketimpangan struktural tersebut, Wamenlu Havas menegaskan, perlunya reformasi tata kelola pendanaan riset secara mendasar. Pendekatan adopsi standar yang diciptakan negara-negara maju tidak akan mengantarkan Indonesia pada posisi kepemimpinan di sektor keberlanjutan.
”Benchmarking memiliki manfaat, namun benchmarking tidak melahirkan kepemimpinan. Kepemimpinan lahir dari kemampuan merancang institusi yang menciptakan nilai baru yang inklusif, sehingga pada gilirannya dapat menjadi acuan bagi pihak lain,” ujar Wamenlu Havas.
Havas mencontohkan pengelolaan dana pungutan sawit oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), yang mengumpulkan Rp 33,6 triliun sepanjang periode 2015 - 2019. Dari jumlah tersebut, hampir 90 persen dialokasikan untuk subsidi harga biodiesel, sementara porsi bagi riset dan pengembangan tercatat kurang dari 1 persen.
Menurut Havas, pola tersebut perlu bergeser dari pendekatan yang dominan bersifat subsidi menuju investasi jangka panjang bagi riset dan inovasi, melalui alokasi minimum wajib untuk komitmen R&D selama tiga hingga lima tahun.
Indonesia dapat mengadaptasi model pendanaan segitiga sebagaimana diterapkan Fraunhofer-Gesellschaft di Jerman yang menyeimbangkan dana dasar publik, pendanaan proyek kompetitif, dan riset kontrak berbayar dari industry.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022