
Kelompok bersenjata TPNPB-OPM menunjukkan korban penembakan sebelumnyawanya dihabisi di Yahukimo, Papua Pegunungan. (Istimewa)
JawaPos.com - Kekerasan dan pembunuhan terhadap warga sipil di Papua yang dilakukan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sangat sadis. Mereka tidak segan-segan menyiksa saudara sendiri di Bumi Cenderawasih. Perbuatan sadisnya seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). OPM sudah dapat dikategorikan sebagai teroris.
Pengamat politik Rico Marbun mengecam aksi pembunuhan terhadap warga sipil di Papua yang videonya beredar luas di media sosial. Menurut dia, pola kekerasan yang dilakukan OPM memiliki kemiripan dengan aksi propaganda kelompok teroris ISIS.
"Polanya mirip ISIS. Pembunuhan direkam, lalu disebarkan untuk menebar teror," kata Rico Marbun di Jakarta pada Jumat (24/7).
Rico menyebut ada dua kesamaan antara OPM dengan ISIS. Pertama, aksi pembunuhan sengaja direkam dan disebarkan melalui media sosial. Kedua, korban dieksekusi secara brutal sambil menyampaikan pesan politik.
"Ini bukan hanya aksi sadis pembunuhan, tetapi propaganda untuk menciptakan rasa takut," ujarnya.
Rico menilai teror tersebut bertujuan menjauhkan masyarakat Papua dari negara dan program-program pembangunan. Maka, tenaga kesehatan, guru, hingga pekerja pembangunan kerap menjadi sasaran. "Mereka ingin warga takut berinteraksi dengan negara dan menolak pembangunan," katanya.
Direktur Eksekutif Median itu menilai aksi OPM bertujuan memancing eskalasi operasi keamanan agar terjadi korban sipil yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan propaganda. "Mereka berharap konflik membesar sehingga muncul ketidakpuasan masyarakat," ucapnya.
Padahal, Pemerintah sejak reformasi lebih mengedepankan pembangunan, peningkatan kesejahteraan, serta perluasan otonomi politik di Papua. Kondisi itu justru menggerus narasi yang selama ini dibangun OPM. "Karena itu mereka berupaya merusak situasi damai dengan meneror warga sipil," tuturnya.
Atas dasar itu, Rico menilai tindakan OPM telah memenuhi karakteristik atau kategori aksi terorisme. "Kalau warga sipil disiksa, dieksekusi, lalu videonya dipakai sebagai alat teror, itu sudah layak dikategorikan sebagai aksi teroris," tegasnya.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
