
Siswa SMA Negeri 10 Surabaya sedang menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menyiapkan kebijakan refocusing atau penajaman sasaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mempertimbangkan sejumlah indikator, termasuk kondisi sosial ekonomi yang tercermin dalam tingkatan desil.
Meski demikian, BGN belum menetapkan batas desil tertentu yang akan menjadi syarat penerima maupun non-penerima MBG. Ukuran desil hanya menjadi salah satu indikator dalam penyusunan formula kebijakan.
"Saya sudah mengatakan ada kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi yang tadi mungkin salah satu parameternya ada desil, kemudian akses terhadap pemenuhan gizi, nah itu masih kami olah ya, masih kami ramu kriteria yang tepat seperti apa. Dan indikator itu intinya memang akan membantu kami dalam membuat kebijakan," kata Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari saat konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta, Kamis (18/6).
Menurut dia, formula final masih dibahas bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran dan efektivitas program.
"Tapi kalau sekarang ditanya "Bu, persisnya apa?", nah formula itu yang masih kami susun ya. Jadi ini mohon maaf nih karena kami juga baru ini ya, dan kami
benar-benar mengejar untuk data dan sebagainya," ungkapnya.
Sebelumnya, BGN telah mencoret sebanyak 76 sekolah di Pulau Jawa dari daftar penerima MBG hingga hari Kamis (18/6). Angka tersebut disebut masih akan bertambah.
"Sampai per hari ini 76 sekolah di Pulau Jawa dengan jumlah penerima manfaat 39.352 siswa itu juga akan kami efisienkan dengan memfokuskan nantinya anggaran yang tadinya untuk di situ, kita akan memfokuskan untuk program MBG kepada anak-anak yang memerlukan intervensi pemenuhan gizi," kata Agustina.
Baca Juga:Rezeki Tak Pernah Putus! 10 Weton Ini Dipercaya Menikmati Masa Tua Penuh Kemakmuran dan Kebahagiaan
Lebih lanjut, BGN akan mengalihkan distribusi MBG dari sekolah-sekolah tersebut ke sekolah lainnya, termasuk yang berada di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Selain itu, pihaknya juga akan memprioritaskan kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) dalam pendistribusian MBG.
Ia menjelaskan, terdapat beberapa indikator yang digunakan BGN dalam mencoret sekolah-sekolah itu. Beberapa di antaranya adalah kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi, akses terhadap pemenuhan gizi, dan lainnya.
"Bagi yang secara mandiri bisa memenuhi gizinya karena kondisi-kondisi yang tadi mungkin secara ekonomi berada di desil yang tinggi itu, maka tidak akan diberikan program Makan Bergizi Gratis ini," tandas dia.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Gratis di YouTube! Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Vietnam di Piala AFF 2026
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Timnas Indonesia vs Vietnam di Piala AFF 2026: Momentum Garuda Kunci Tiket Semifinal!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Eks Wakil Kepala PPATK: Ada Pola 'Placement' untuk Hilangkan Jejak di Kasus Korupsi dan TPPU Febrie
5 Arti Burung Perkutut Bunyi di Malam Hari, Mitos atau Pertanda Gaib? Simak Maknanya Berikut
