Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Juni 2026 | 04.52 WIB

BGN Buka Kemungkinan Siswa dari Desil Tinggi Berpotensi Tak Lagi Dapat MBG

Siswa SMA Negeri 10 Surabaya sedang menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Siswa SMA Negeri 10 Surabaya sedang menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menyiapkan kebijakan refocusing atau penajaman sasaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mempertimbangkan sejumlah indikator, termasuk kondisi sosial ekonomi yang tercermin dalam tingkatan desil. 

Meski demikian, BGN belum menetapkan batas desil tertentu yang akan menjadi syarat penerima maupun non-penerima MBG. Ukuran desil hanya menjadi salah satu indikator dalam penyusunan formula kebijakan.

"Saya sudah mengatakan ada kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi yang tadi mungkin salah satu parameternya ada desil, kemudian akses terhadap pemenuhan gizi, nah itu masih kami olah ya, masih kami ramu kriteria yang tepat seperti apa. Dan indikator itu intinya memang akan membantu kami dalam membuat kebijakan," kata Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari saat konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta, Kamis (18/6).

Menurut dia, formula final masih dibahas bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran dan efektivitas program.

"Tapi kalau sekarang ditanya "Bu, persisnya apa?", nah formula itu yang masih kami susun ya. Jadi ini mohon maaf nih karena kami juga baru ini ya, dan kami
benar-benar mengejar untuk data dan sebagainya," ungkapnya.

Sebelumnya, BGN telah mencoret sebanyak 76 sekolah di Pulau Jawa dari daftar penerima MBG hingga hari Kamis (18/6). Angka tersebut disebut masih akan bertambah.

"Sampai per hari ini 76 sekolah di Pulau Jawa dengan jumlah penerima manfaat 39.352 siswa itu juga akan kami efisienkan dengan memfokuskan nantinya anggaran yang tadinya untuk di situ, kita akan memfokuskan untuk program MBG kepada anak-anak yang memerlukan intervensi pemenuhan gizi," kata Agustina.

Lebih lanjut, BGN akan mengalihkan distribusi MBG dari sekolah-sekolah tersebut ke sekolah lainnya, termasuk yang berada di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Selain itu, pihaknya juga akan memprioritaskan kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) dalam pendistribusian MBG.

Ia menjelaskan, terdapat beberapa indikator yang digunakan BGN dalam mencoret sekolah-sekolah itu. Beberapa di antaranya adalah kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi, akses terhadap pemenuhan gizi, dan lainnya. 

"Bagi yang secara mandiri bisa memenuhi gizinya karena kondisi-kondisi yang tadi mungkin secara ekonomi berada di desil yang tinggi itu, maka tidak akan diberikan program Makan Bergizi Gratis ini," tandas dia.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore