
Suasana lalu lintas yang dijaga oleh petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi setelah pemasangan palang pintu di perlintasan sebidang di Jalan Ampera, Kota Bekasi, Sabtu (2/5/2026). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com-Pengamat transportasi, Ki Darmaningtyas menilai pembangunan jalan bawah tanah (underpass) lebih realistis dibandingkan jalur layang (flyover) untuk mengurangi risiko kecelakaan di perlintasan sebidang. "Kalau ada dananya, mungkin lewat underpass lebih baik," kata Darmaningtyas saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Menurut dia, pembangunan jalur layang membutuhkan biaya besar, sehingga sulit direalisasikan secara luas. Sebagai alternatif, ia menyarankan pembangunan underpass yang dinilai lebih memungkinkan secara pembiayaan dan implementasi. "Memang pemerintah perlu menambah tempat penyeberangan untuk perlintasan sebidang itu," ucapnya.
Selain faktor infrastruktur, Darmaningtyas kembali mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan perlintasan secara aman. Menurut dia, pembangunan fisik harus dibarengi dengan edukasi agar masyarakat tidak melanggar aturan.
Ia menilai keberadaan perlintasan liar tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah, karena banyak yang muncul akibat kebutuhan akses masyarakat atau pengembangan kawasan. "Pemerintah tetap perlu melakukan pengawasan yang konsisten," ucap dia.
Dengan demikian, Darmaningtyas menegaskan bahwa kombinasi antara pembangunan underpass, pengawasan, dan edukasi masyarakat menjadi kunci untuk menekan risiko kecelakaan di perlintasan sebidang.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan di tahun 2026, tercatat sebanyak 40 kecelakaan terjadi di perlintasan sebidang. Mayoritas insiden (57,5 persen) terjadi di perlintasan tanpa palang pintu sebanyak 23 kejadian, sementara 17 kejadian lainnya (42,5 persen) terjadi di perlintasan berpalang pintu.
Pemicu utama kecelakaan didominasi oleh perilaku pengendara yang menerobos (34 kasus), diikuti kendaraan mogok (4 kasus), dan keterlambatan penutupan palang pintu (3 kasus). Dampak kecelakaan ini sangat fatal, merenggut 25 nyawa (61 persen), serta menyebabkan 5 luka berat (12 persen) dan 11 luka ringan (27 persen). Adapun kendaraan yang terlibat meliputi 22 mobil (55 persen) dan 18 sepeda motor (45 persen).
Selanjutnya, sebagai penyebab kejadian mogok di perlintasan adalah (1) mobil berhenti mati mesin di perlintasan, (2) roda ban belakang motor tersangkut karena membawa beban bawaan berat dagangan, seperti ayam, (3) mobil mengalami gangguan mesin saat berada di tengah rel, dan (4) truk lowdeck tersangkut karena elevasi gradien di perlintasan tidak sesuai dengan ground clearance truk. (*)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jadi Tersangka, Ini Kronologi Penipuan yang Dilakukan Ruben Onsu
Ruben Onsu Jadi Tersangka, Begini Reaksi Pengacara Minola Sebayang
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Alaves: Momentum Tuan Rumah Bangkit!
Respons Tantangan Wagub Kalbar, Gubernur Jabar KDM: Mohon Maaf, Tak Maksud Membandingkan
Ruben Onsu Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan dan Penggelapan, Dipanggil Minggu Depan
Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg: Rekor 15 Laga Jadi Modal Les Phoceens
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Thailand vs Vietnam Leg 1 Final Piala AFF 2026: Gajah Perang Terlalu Perkasa di Rajama
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
