
Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Pemanfaatan pangan lokal, lanjut dr. Rita, juga berpotensi menjawab kritik soal pemborosan anggaran. Rantai pasok yang lebih pendek dinilai dapat menekan biaya sekaligus membuka peluang kerja di tingkat komunitas.
”Kalau pangan lokal dioptimalkan, kita tidak akan kekurangan bahan, dan tidak perlu khawatir stok terganggu. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian mengeksplorasi dan mengelola potensi itu dengan serius,” ucap Rita Ramayulis.
Tanpa transparansi, data, dan evaluasi berkelanjutan, Program Makan Bergizi Gratis akan terus berada dalam pusaran kontroversi. Namun sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan manusia Indonesia, kebijakan ini dinilai layak dipertahankan, dengan catatan, dijalankan secara lebih efisien, adaptif, dan berbasis bukti.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
