
Sekjen Laskar Merah Putih Abdul Rachman Thaha. (Istimewa)
JawaPos.com–Kejaksaan Agung di bawah Jaksa Agung ST. Burhanuddin gencar melakukan penindakan internal. Sebagian kecil dari operasi bersih-bersih itu di antaranya pencopotan Kajari Sampang Fadilah Helmi dan Kajari Magetan Dezi Septiapermana.
Dilansir dari Antara, Bidang intelijen dan pengawasan pada Kejaksaan Agung (Kejagung) memeriksa Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sampang Fadilah Helmi atas dugaan penyalahgunaan wewenang.
”Hanya Kajari Sampang (yang diperiksa) atas dugaan penyalahgunaan wewenang,” kata Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (Jamwas) Rudi Margono seperti dilansir dari Antara beberapa waktu lalu.
Namun, dia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai dugaan pelanggaran tersebut. Rudi juga membantah bahwa Kejagung melaksanakan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Fadilah Helmi.
Dia mengatakan, Kajari tersebut dibawa ke Jakarta untuk diperiksa usai adanya laporan dari masyarakat. ”Bukan OTT, tetapi dalam rangka memudahkan pemeriksaan oleh bidang intelijen, dibawa ke Jakarta,” ujar Rudi.
Sementara itu, Sekjen Laskar Merah Putih Abdul Rachman Thaha mengapresiasi kerja satgasus Kejagung. Apa yang dilakukan Kejagung semakin istimewa karena berfokus pada pemangku jabatan yang melakukan abuse of power terkait penanganan kasus hukum.
”Saya anggap istimewa karena pada area itulah kelemahan utama dan masif dialami personel penegak hukum. Padahal, pada area itu pula nilai keadilan sungguh-sungguh dipertaruhkan,” papar Abdul rachman Thaha.
Menurut dia, pemeriksaan terhadap sejumlah Kajari itu, apalagi diumumkan ke publik, diharapkan akan membuat para jaksa dan para pemangku jabatan struktural lainnya insaf. Sebab, mereka selalu berada dalam radar pengawasan Kejagung.
”Saya yerkenang perkataan seorang mantan personel penegakan hukum. Personel tidak bisa ditekan dengan ketakutan. Lutut personel gemetar oleh godaan uang,” ungkap Abdul Rachman Thaha.
Dia menyatakan, banyak studi menyimpulkan, pendekatan paling jitu untuk membangun integritas adalah membuat para personel merasa terus-menerus diawasi. Studi lain menemukan, whistleblower merupakan sumber informasi paling ampuh bagi upaya bersih-bersih institusi.
”Dua hasil studi itu, saya tafsirkan, telah Kejagung praktikkan. Tinggal lagi konsistensi yang perlu terus dipertahankan. Apalagi jika whistleblower yang mengandalkan orang dalam dilengkapi dengan laporan masyarakat dan audit eksternal. Saya optimis Kejagung akan menjadi lembaga penegakan hukum paling bersih di Tanah Air,” tandas Abdul Rachman Thaha.
Penegakan integritas internal itu, menurut dia, menjadi jawaban mengapa Kejagung makin gencar memburu para pelaku korupsi. Yakni, karena jujur ke dalam, Kejagung percaya diri untuk menindak mereka yang tidak jujur di eksternal.
”Istilahnya Kejagung tidak ada beban moral,” ungkap Abdul Rachman Thaha.
Hal itu menurut dia, berbeda bila institusi penegakan hukum yang gamang dalam membongkar kasus-kasus korupsi kakap. Salah satu sumber kegamangan itu, lanjut dia, dari ketidakbecusan melakukan operasi sapu bersih di internal atau markas sendiri.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
