
Ilustrasi perlindungan anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di kapal berbendera asing. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
JawaPos.com-Keluarga para Anak Buah Kapal (ABK) MT SHI XING mempertanyakan sikap pemerintah Indonesia yang dinilai lamban mengevakuasi tujuh warga negara Indonesia (WNI) korban dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di perairan Myanmar.
Padahal, menurut keluarga korban, seluruh unsur TPPO sudah terpenuhi. Mulai dari penipuan, iming-iming gaji besar, hingga penelantaran di kapal tanpa dokumen resmi.
Siti Farhani Djamal, keluarga salah satu ABK menegaskan, perekrutan dilakukan tanpa prosedur resmi. Rizki, saudaranya, direkrut temannya bernama Anggi yang kemudian mengenalkan pemilik kapal Juanda.
"Si Anggi ini telepon bilang ada proyek perbaikan kapal di Malaysia. Bisa join nggak? Tolong bentuk kru," ujar Farhani kepada JawaPos.com, Selasa (14/10)
Rizki bahkan diminta membeli perlengkapan kapal dengan uang pribadi. Hingga hari keberangkatan, para ABK tidak satupun diberikan dokumen Perjanjian Kerja Laut (PKL).
"Dan kru ini terjebak, mereka berani pergi tanpa PKL karena mereka butuh uang," ungkap Farhani.
Dengan adanya unsur perekrutan ilegal, janji palsu gaji, dan penelantaran, menurut Farhani, semua elemen TPPO sudah terpenuhi.
"Jadi dalam hukum Indonesia sebenarnya bisa melindungi mereka, karena kan unsur TPPO-nya terpenuhi. Unsur perekrutan, unsur iming-iming uang, kemudian unsur penelantaran, itu kan masuk TPPO," terang Farhani.
Farhani berharap pemerintah segera bertindak cepat mengevakuasi tujuh ABK yang terjebak di kapal MT SHI XING.
"Kalau pihak dari keluarga, satu, evakuasi. Kedua, berikan kejelasan kepada kami bagaimana langkah-langkah yang ditempuh," ujar Farhani.
Dia menegaskan, nyawa para kru adalah prioritas utama. Namun gaji yang tertunda juga harus menjadi perhatian. Diketahui, sudah 3 bulan para ABK tidak mendapatkan gaji sepeserpun.
"Kita sebenarnya ibarat nyawa pasti lebih penting daripada gaji. Tapi ya diharapkan gaji juga dibayarkan," tegas Farhani.
Kisah pilu datang dari tujuh anak buah kapal (ABK) Indonesia yang bekerja di kapal tanker MT SHI XING. Selama tiga bulan, mereka terombang-ambing di perairan Myanmar tanpa kepastian, tanpa gaji, bahkan sempat kehabisan bahan makanan.
Salah satu ABK yang bertugas sebagai Chief Engineer kapal, Riski, memohon perhatian serius dari pemerintah Indonesia, termasuk KBRI Yangon, Kementerian Luar Negeri, Bakamla, dan BP2MI, agar segera mengevakuasi mereka.
"Kondisi fisik dan mental ABK sudah terganggu. Keluarga juga sangat menghawatirkan keadaan kami di kapal dan kami juga sedih melihat keluarga kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena gaji kami selama tiga bulan ini tidak dibayar," ujar Riski kepada JawaPos.com, Sabtu (11/10).
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Soal Penolakan Pembangunan Gereja di Citraland, Wali Kota Eri: Tidak Sesuai Site Plan
Prediksi Skor Singapura vs Thailand: Ilhan Fandi Jadi Ancaman, Tuan Rumah Bisa Bikin Kejutan
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Pembangunan Gereja di Citraland Surabaya Ditolak Warga, Ternyata karena salah soal Perizinannya
Jadwal Siaran Langsung Sabah FC vs Persib Bandung di Dewata Challenge Series 2026: Live di Indosiar
5 Weton Aras Kembang yang Bisa Memikat Lawan Jenis karena Kharismatik danMempesona Menurut Primbon Jawa
