
Taufan Saputra Dewa saat dijenguk oleh Menko PMK, Pratikno di RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Kamis (2/10/2025). (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)
JawaPos.com — Jarak seng dari wajahnya hanya tiga jari. Itulah detik menegangkan yang dirasakan Taufan Saputra Dewa saat terjebak di reruntuhan bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo.
Santri berusia 13 tahun asal Dupak Pasar Baru, Surabaya itu menceritakan bagaimana dirinya berjuang dalam posisi terlentang. Ia tak bisa bergerak, tak mampu berteriak, dan hanya berharap ada pertolongan datang.
Taufan yang baru empat bulan mondok di Ponpes Al Khoziny itu mengisahkan kejadian nahas itu dengan mata berkaca-kaca.
Meski tubuhnya sakit, ia masih bisa mengingat jelas bagaimana detik-detik bangunan runtuh menimpa dirinya dan teman-teman.
Menurut penuturan Taufan, saat kejadian dirinya sedang menunaikan salat Isya berjamaah. Ia terlambat satu rakaat karena baru saja selesai mengambil air wudhu.
Ketika hendak menyusul rakaat kedua, tiba-tiba terdengar suara keras di atas bangunan. Dalam hitungan detik, atap itu runtuh dan menimpa para santri yang sedang khusyuk salat.
“(Posisinya di dalam) terlentang, iya mau gerak ini sempit, kalau atas ini (depan wajah) ada seng, jaraknya tiga jari seperti ini,” tutur Taufan saat ditemui JawaPos.com, Kamis (2/10/2025).
“(Bangunan runtuh) itu pas rakaat kedua, saya habis ambil wudhu, saya ketinggalan 1 rakaat, mau nyusul, sudah takbir, lalu ada yang kejatuhan, saya mau lari tapi sudah tertimpa.”
Posisinya saat itu sangat sempit. Hanya ada ruang beberapa jari antara wajahnya dengan seng yang menindih, membuat napasnya sesak dan geraknya terbatas.
“Enggak bisa gerak, enggak bisa teriak, pas mau keluar itu baru minum ada selang terus disedot ada airnya,” ujarnya menggambarkan perjuangan bertahan.
Di bawah reruntuhan itu, Taufan sempat mendengar suara teman-temannya. Nama-nama seperti Wahyu, Rosi, Agus, Fatih, dan Zaki masih terngiang dalam ingatannya.
“(Saya masih ingat teman di sana) Wahyu, Rosi, Agus, Fatih, Zaki, banyak lainnya, pas saya sudah keluar saya enggak tahu,” jelas Taufan.
Namun setelah dirinya berhasil keluar, ia tidak tahu lagi bagaimana nasib mereka. Yang jelas, banyak santri juga mengalami luka dan trauma mendalam akibat peristiwa itu.
Hingga Kamis (2/10/2025), tercatat 13 santri masih menjalani perawatan intensif di RSUD RT Notopuro Sidoarjo. Beberapa di antaranya adalah Wahyudi, Al Fatih, Haikal, dan Abdul Rozi.
Mereka dirawat karena mengalami luka serius mulai dari patah tulang hingga cedera kepala. Tim medis terus memberikan pengawasan ketat demi mempercepat pemulihan.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
