demo
Ratusan massa mengepung Mako Brimob di Kwitang, Jakarta, Jumat (29/08/2025). Kerusuhan tersebut terjadi menuntut kematian salah satu ojek daring yang terlindas mobil Brimob pada aksi demo kemarin. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Kerusuhan yang terjadi di Jakarta dan beberapa daerah lain mendorong sejumlah akademisi dan diaspora Indonesia di luar negeri buka suara.
Melalui diskusi yang berlangsung di Jakarta pada Kamis lalu (4/9), Forum Warga Negara memberikan ruang kepada para akademisi dan diaspora tersebut untuk bersuara.
Salah satunya mendorong pemerintah membentuk Tim Pencari Fakta Independen untuk melakukan investigasi.
Dikutip dari keterangan resmi pada Sabtu (6/9), Anthony Paulo Sunjaya,dosen senior School of Population Health, Fakultas Kedokteran UNSW Sydney, menyatakan bahwa diaspora Indonesia di Australia prihatin terhadap situasi dan kondisi di Indonesia.
Untuk itu, pemerintah harus mengambil tindakan yang dapat menjawab ketidakpuasan masyarakat. Anthony bersama diaspora lain di Australia mendesak pemerintah membentuk Tim Pencari Fakta Independen.
Tujuannya untuk menginvestigasi pelanggaran dan pelanggar hak asasi manusia (HAM) yang diduga telah terjadi dalam berbagai kerusuhan di Indonesia. Mereka mendorong agar aparat penegak hukum menindak tegas semua pihak yang bersalah.
”Di atas itu semua, yang jauh lebih penting adalah, reaksinya jangan hanya bersifat reaktif, tapi harus substansial, menyentuh akar masalah,” ungkap Anthony.
Menurut dia, tidak sedikit diaspora Indonesia di Australia menyuarakan pandangannya terhadap kondisi dan situasi di Jakarta. Karena itu muncul beberapa gerakan seperti Canberra Bergerak.
Bahkan mahasiswa di Australia tidak segan menegur salah seorang anggota DPR yang kedapatan tengah berada di Australia saat gelombang aksi demo terus terjadi. Gerakan yang mirip juga muncul di Jepang.
”Masa rakyat harus ada yang mati terlebih dulu agar didengar. Maka, teruslah berisik agar didengar,” kata mahasiswi S3 Australian National University bernama Avina Nadhila yang turut serta dalam diskusi daring dan luring tersebut.
Jurnalis senior Budiman Tanuredjo yang juga hadir bersama putri bungsu proklamator Mohammad Hatta, Halida Nuriah Hatta, menyoroti disfungsi instrumen demokrasi.
Menurut dia, dalam aksi massa pada 25 dan 28 Agustus lalu, hampir semua aparatus demokrasi di Indonesia berdiam diri. Bahkan dia menilai, sampai 30 Agustus masih tampak kebingungan elite untuk bersikap.
Sampai akhirnya muncul 17+8 Tuntutan Rakyat, Gerakan Nurani Bangsa, Change.org, Forum Warga Negara, dan hal lain yang menyuarakan hal yang kurang lebih sama.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
