
Ilustrasi Pesawat di BAndara Soekarno-Hatta Tangerang. Penerbangan rute Jakarta-surabaya bakal punya pesaing berat di darat bila kereta cepat Jakarta-Surabaya terealisasi. (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Pengalaman Tiongkok bisa menjadi cermin bagi Indonesia dalam mengembangkan transportasi massal.
Di rute Beijing–Shanghai seperti di Tiongkok, jumlah penumpang kereta cepat mencapai lebih dari 52 juta perjalanan pada 2024, jauh mengungguli penerbangan yang hanya mencatat 8,6 juta penumpang.
Data ini menunjukkan bahwa kereta cepat mampu menjadi pilihan utama masyarakat, bahkan bagi pebisnis yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan pesawat.
Jika kereta cepat Jakarta–Surabaya terealisasi, rute padat ini berpotensi mengalami pergeseran besar. Apalagi bila harga tiketnya mampu bersaing dengan maskapai penerbangan.
Selama ini, penerbangan Jakarta–Surabaya termasuk salah satu rute tersibuk maskapai domestik, dengan jadwal puluhan kali setiap hari.
Namun, moda rel bisa menghadirkan keunggulan yang sulit disaingi. Yakni waktu tempuh singkat dengan kecepatan lebih dari 300 km/jam, dan koneksi pusat kota ke pusat kota tanpa perlu perjalanan tambahan dari bandara.
Kereta cepat juga minim keterlambatan, bahkan saat cuaca buruk. Ditambah lagi kenyamanan kabin modern lengkap dengan internet stabil dan colokan listrik.
“Banyak penumpang bisnis menghindari pesawat karena tidak bisa tetap online selama perjalanan. Mereka butuh konektivitas stabil untuk bekerja, dan itu hanya bisa dipenuhi kereta cepat,” ujar Tong Lijun, Wakil Kepala Stasiun Shanghai Hongqiao, dikutip media Jiefang Daily.
Belajar dari Tiongkok, kehadiran kereta cepat membuat maskapai harus melakukan strategi ekstra untuk bertahan. Di Beijing–Shanghai, maskapai terpaksa meluncurkan perang tarif hingga memberikan layanan limusin gratis agar tidak kehilangan pelanggan.
Fenomena serupa bisa saja terjadi di Indonesia. Maskapai domestik harus bersiap menghadapi persaingan ketat jika kereta cepat Jakarta–Surabaya beroperasi.
Meski ada potensi, namun pakar dan pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai pengalaman Tiongkok tidak bisa serta merta jadi tolok ukur potensi kereta cepat di Indonesia.
Walau kereta cepat Beijing-Shanghai terlihat menjanjikan, nyatanya tidak akan bisa disandingkan dengan Indonesia. Apalagi jika diterapkan di Indonesia yang merupakan negara archipelago atau negara kepulauan.
"Memang ada negara-negara yang merasakan manfaat kehadiran sistem transportasi kereta cepat. Seperti yang belum lama ini, di Tiongkok hadir kereta cepat Shanghai-Beijing, ya memang bermanfaat, karena di pusat kota. Tapi kan beda negara, beda masalahnya," kata Djoko saat dihubungi JawaPos.com.
Menurut Djoko, negara yang cocok menggunakan kereta cepat adalah negara-negara continental atau yang memiliki daratan luas. Bahkan saling terhubung antara benua satu dengan benua lainnya.
"Di kita, sebagai negara archipelago, kita terlalu fokus di transportasi darat. Sementara yang dibutuhkan lebih dari itu," Djoko menambahkan.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
