
Tampilan Kereta Cepat Beijing-Shanghai di Tiongkok. (SCMP)
JawaPos.com - Industri penerbangan Tiongkok menghadapi tantangan serius setelah penumpang rute Beijing–Shanghai beralih besar-besaran ke kereta cepat yang belum lama ini selesai dibangun dan dioperasikan.
Tahun lalu, lebih dari 52 juta orang memilih kereta cepat, sedangkan hanya sekitar 8,6 juta penumpang yang menggunakan pesawat, menurut data platform penerbangan sipil Hangban Guanjia.
Fenomena ini membuat Asosiasi Transportasi Udara Tiongkok memperingatkan bahwa pasar penerbangan sedang 'terkikis' akibat keunggulan kereta cepat.
Maskapai pun berlomba menawarkan tiket murah hingga layanan limusin gratis demi merebut kembali pelanggan.
Rute sejauh 1.300 km itu kini dapat ditempuh hanya sedikit lebih dari empat jam, dengan kecepatan kereta mencapai 350 km/jam. setara dengan kecepatan maksimum yang bisa dicapai kereta cepat Whoosh di Indonesia.
Kondisi ini menjadikan perjalanan menggunakan kereta antara kedua kota lebih efisien dibandingkan penerbangan yang kerap terkendala cuaca dan lalu lintas udara.
“Banyak penumpang bisnis kini menghindari pesawat karena tidak bisa tetap online selama perjalanan. Mereka butuh konektivitas stabil untuk bekerja, dan itu hanya bisa dipenuhi kereta cepat,” kata Tong Lijun, Wakil Kepala Stasiun Shanghai Hongqiao, dikutip Jiefang Daily.
Selain internet, kereta cepat juga menawarkan kursi yang lega, colokan listrik, serta koneksi langsung pusat kota. Sesuatu yang sulit ditandingi maskapai.
Dilansir via SCMP, meski sempat menghadapi masalah teknis pada awal beroperasi, Beijing–Shanghai High-Speed Railway kini berubah menjadi mesin uang.
Pada 2024, jalur ini menghasilkan pendapatan CNH 42 miliar (Rp 95 triliun) dengan laba bersih CNY 12,8 miliar (Rp 29 triliun), meningkat lebih dari 10 persen dibanding tahun sebelumnya.
Setiap hari, lebih dari 100 kereta cepat melayani rute ini dengan formasi 16–17 gerbong, termasuk kelas bisnis dan first class.
Menguntungkan dari sisi darat, lain halnya dengan jalur udara. Dampak kereta cepat Beijing-Shanghai, maskapai penerbangan mulai tersudut walau tetap mengoperasikan sekitar 55 penerbangan harian di rute yang sama.
Namun, ketergantungan pada cuaca dan lalu lintas udara membuat pesawat kerap mengalami keterlambatan.
Untuk melawan dominasi kereta cepat, maskapai besar seperti China Eastern Airlines dan Air China meluncurkan layanan premium, mulai dari tiket fleksibel antar-maskapai hingga penjemputan limusin bandara.
Bahkan, perang harga pun tak terelakkan, dengan tiket pesawat di beberapa rute kini lebih murah daripada tiket kereta cepat.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
