Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 Juli 2025 | 19.54 WIB

Pendaki asal Brasil Juliana Marins yang Tewas usai Jatuh di Gunung Rinjani NTB Akhirnya Dimakamkan, Keluarga Tuding Indonesia Lalai

Tim SAR menghadapi kabut tebal saat akan mengevakuasi jenazah Juliana, WN Brasil yang jatuh di Gunung Rinjani NTB. Evakuasi akan dilakukan pagi ini. (Basarnas) - Image

Tim SAR menghadapi kabut tebal saat akan mengevakuasi jenazah Juliana, WN Brasil yang jatuh di Gunung Rinjani NTB. Evakuasi akan dilakukan pagi ini. (Basarnas)

JawaPos.com - Duka mendalam menyelimuti Brasil setelah jasad Juliana Marins, pendaki muda berusia 26 tahun, akhirnya dimakamkan di negara asalnya pada Jumat (4/7).

Juliana tewas secara tragis setelah terjatuh dari tebing curam di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dikenal sebagai salah satu gunung paling populer sekaligus paling mematikan di Asia Tenggara.

Namun, kesedihan keluarga berubah menjadi kemarahan. Mereka menuding pemerintah Indonesia lalai dalam menangani evakuasi dan pemulangan jenazah Marins. Ayah korban, Manoel Marins, mengeluarkan pernyataan tajam yang menggema di media Brasil.

"Apa yang terjadi pada putri saya adalah bentuk pengabaian terhadap nyawa manusia. Sayangnya, ini negara yang bergantung pada pariwisata untuk bertahan hidup, tapi pelayanan publiknya begitu memprihatinkan,” kata Manoel dalam upacara pemakaman di Niteroi mengutip AP News.

Sebagai informasi, Juliana memulai pendakian ke puncak Gunung Rinjani, gunung berapi aktif setinggi 3.726 meter pada 21 Juni lalu bersama seorang pemandu dan lima pendaki asing lainnya.

Namun, petualangan yang seharusnya menakjubkan berubah jadi mimpi buruk. Juliana dilaporkan terjatuh dari ketinggian sekitar 600 meter, atau hampir 2.000 kaki, ke jurang berbatu yang ekstrem.

Tim penyelamat Indonesia baru berhasil menemukan jasadnya empat hari kemudian, setelah pencarian intensif menggunakan drone thermal.

Evakuasi sendiri memakan waktu lima jam lebih, terhambat kabut tebal dan medan yang sangat curam. Konfirmasi resmi atas kematian Juliana baru diumumkan pada Selasa (2/7), hampir sepekan setelah kecelakaan terjadi.

Di Brasil, tragedi ini menjadi sorotan besar. Jutaan orang mengikuti perkembangan operasi penyelamatan yang penuh drama itu melalui media sosial dan siaran berita. Kemarahan publik pun merebak, seiring munculnya kritik terhadap lambannya respons dari pihak Indonesia.

Pihak berwenang Indonesia diketahui telah bertemu keluarga korban untuk menjelaskan proses pencarian dan evakuasi. Namun, keluarga tetap kecewa atas apa yang mereka nilai sebagai keterlambatan fatal.

Gunung Rinjani, yang dikenal sebagai surga bagi para pendaki karena keindahan panorama danau kaldera dan puncaknya yang menantang, juga telah lama menyimpan reputasi berbahaya. Kecelakaan fatal bukan hal baru di jalur pendakian ini.

Tragedi Juliana Marins kini seolah menjadi peringatan keras, keindahan alam bisa berubah menjadi jebakan maut jika tidak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan layanan darurat yang memadai, terutama di destinasi wisata berisiko tinggi seperti Rinjani.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore