
Ketua Mahkamah Agung (MA) Sunarto (tengah) bersama pimpinan MA menggelar konferensi pers akhir tahun di gedung MA, Jl Medan Merdeka Utara, Jumat (27/12/2024). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Ketua Mahkamah Agung (MA), Sunarto, melontarkan sindiran keras kepada para hakim yang dinilai tidak menunjukkan rasa malu dalam menjalani profesinya. Sunarto mengkritik gaya hidup mewah yang tidak sesuai dengan pendapatan resmi seorang hakim.
“Tidak malu, gajinya Rp 27 juta, Rp 23 juta, pakai LV, pakai Bally, pakai Porsche, nggak malu? Orang melihat gajinya segitu, pakai LV, LV berapa? Sepatu Bally berapa? Rp 30 juta. Arlojinya Rp 1 M, Kok nggak malu?” kata Sunarto dalam kegiatan Pembinaan Pimpinan Pengadilan Umum Tingkat Pertama dan Banding se-wilayah DKI Jakarta di Gedung MA, Jakarta, Jumat (23/5).
Sunarto menegaskan, hidup mewah yang tak sesuai penghasilan hanya akan memicu kecurigaan publik dan mencoreng wibawa institusi peradilan.
“Ya, kalau nggak malu, apa tidak takut sama Tuhan? Minimal takut sama wartawan. Difoto arlojinya Rp 1 M apa tidak malu Saudara-saudara?” ucap Sunarto mengingatkan para hakim untuk instrospeksi diri.
Ia pun menyinggung alasan logis atas kemewahan hanya bisa diterima dalam situasi tertentu. Sebab, akal sehat publik tidak bisa dibohongi oleh gaya hidup yang tidak masuk akal.
“Kecuali dapat warisan. Kalau di Amerika menang lotre. Di Indonesia sudah nggak ada undian harapan, mimpi, ya,” tambah Sunarto.
Sunarto juga menyoroti praktik korupsi kerap dilakukan atas dalih kebutuhan ekonomi, padahal kesejahteraan hakim terus diperjuangkan.
“Bapak-Ibu sekalian, korupsi karena kebutuhan ini menjadi tantangan kita bersama. Ayo, kita selesaikan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, revisi terhadap undang-undang Mahkamah Agung dan peradilan lainnya sedang digodok, demi memperbaiki sistem secara menyeluruh. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto sudah memberikan lampu hijau untuk memperbaiki kesejahteraan hakim.
Namun, Sunarto menegaskan bahwa upaya itu harus dijaga dengan perilaku yang bersih. “Tolong jangan dinodai lagi. Kalau dinodai lagi, banyak yang berteriak,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa kenaikan usia pensiun dan peningkatan kesejahteraan hakim tidak akan berarti apa-apa jika moralitas tidak ikut terangkat.
“Untuk apa usia dinaikkan? Untuk apa kesejahteraan dinaikkan kalau masih ada yang 'menjual toganya', 'menggadaikan toganya'?” kritiknya.
Lebih lanjut, Sunarto menyerukan agar para hakim tidak hanya takut pada hukum, tapi juga memiliki rasa malu terhadap diri sendiri.
“Kiranya keputusan yang bukan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi berdasarkan keuangan yang maha kuasa. Marilah kita malu sama diri sendiri,” pungkasnya.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
