Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 Maret 2022 | 12.38 WIB

Awal Ramadan NU-Muhammadiyah Berpotensi Tak Serentak, MUI: Sudah Biasa

Umat Islam melaksanakan shalat tarawih berjamaah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (11/5/2021). Kementerian Agama telah menetapkan 1 Syawal 1442 Hijriah jatuh pada 13 Mei 2021, maka dari itu malam ini merupakan malam terakhir pelaksanaan ibadah shalat t - Image

Umat Islam melaksanakan shalat tarawih berjamaah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (11/5/2021). Kementerian Agama telah menetapkan 1 Syawal 1442 Hijriah jatuh pada 13 Mei 2021, maka dari itu malam ini merupakan malam terakhir pelaksanaan ibadah shalat t

JawaPos.com - Webinar Penentuan 1 Ramadan 1443 H/2022 Masehi yang digelar Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman (LPBKI) MUI dan Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) di Jakarta Kamis (24/3) mengupas potensi perbedaan awal Ramadan tahun ini (1443 H). Wakil Ketua Umum MUI Marsyudi Syuhud menegaskan perbedaan awal Ramadan, Idul Fitri, maupun Idul Adha di Indonesia sudah biasa.

Sebagaimana diketahui Muhammadiyah sudah mengumumkan awal Ramadan jatuh pada 2 April. Sementara itu, NU yang menggunakan metode rukyat atau memantau hilal menyampaikan kemungkinan puasa Ramadan dimulai 3 April.

Pemerintah dalam hal ini Kemenag baru akan memutuskan awal Ramadan pada sidang isbat yang digelar 1 April mendatang. Lebih lanjut Marsyudi menekankan umat Islam di Indonesia perlu menyikapi perbedaan tersebut secara dewasa.

Tidak perlu dijadikan sebuah polemik. Sebab masing-masing metode yang digunakan memiliki landasan masing-masing.

"Ilmu penentuan kalender ini sangat penting, karena sangat berpengaruh untuk menentukan kapan dimulainya ibadah Ramadan," katanya.

Dia menegaskan mengenai perbedaan penetapan awal Ramadan itu sudah biasa. "Kita sudah diajarkan bagaimana cara menyikapinya," katanya.

Bahkan Kemenag sampai hari ini selalu menyatukan perbedaan-perbedaan dalam penentuan Ramadan dengan diadakannya sidang isbat. Dalam kesempatan yang sama Sekjen MUI Amirsyah Tambunan menyampaikan perbedaan dalam pendekatan hisab dan rukyat itu sebuah keniscayaan.

"Di satu sisi untuk memahami dan sebagai bentuk toleransi," jelasnya.

Amirsyah menegaskan 1 Ramadannya sama. Namun yang berbeda adalah tanggal penetapannya. Kajian ini sering dilakukan dan diharapkan untuk melengkapi kajian kajian sebelumnya.

Ketua LPBKI-MUI Prof. Endang Soetari menyampaikan bahwa mereka mendukung kegiatan-kegiatan yang membahas permasalahan metode hisab dan rukyat. Endang mengucapkan apresiasi pihak-pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

Guru besar astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Thomas Djamaluddin membahas potensi terjadinya perbedaan penentuan awal bulan Ramadan. Menurut Thomas hal ini bisa terjadi karena kriteria penentuan awal bulan Ramadhan berbeda-beda.

Dia menginformasikan bahwa alat bantu rukyat dianggap tidak terlalu membantu dalam menentukan hisab. "Hisab sendiri mengalami perkembangan. Semakin besar elonasi bulan akan terlihat, faktor pengganggu terlihatnya hilal adalah sinar senja matahari," jelasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore