
Fakultas Kedokteran UI bersama Yayasan Pure Earth Indonesia menggelar diskusi ahli bertajuk
JawaPos.com - Pencemaran timbel atau zat kimia logam abu-abu pada lingkungan dapat menyebabkan pajanan timbel pada tubuh manusia melalui sistem pernafasan, pencernaan, dan kulit.
Penumpukan dari pajanan timbel yang terus menerus dapat meningkatkan Kadar Timbel Darah (KTD) yang menyebabkan keracunan dan gangguan kesehatan terutama pada anak-anak.
Hal tersebut diungkap oleh hasil penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) bersama Yayasan Pure Earth Indonesia di empat wilayah Indonesia yang berpotensi banyaknya pencemaran timbel, dan satu wilayah netral di Pulau Jawa.
Adapun penelitian yang dilakukan terhadap 564 anak usia balita 1-5 tahun itu ditemukan sebanyak 28 persen anak memiliki KTD 5 -< 10µg/dL, 35 persen 10-<20 µg/dL, 22 persen 20-<45 µg/dL, dan dua persen dengan 45-65 µg/dL dan >65 µg/dL.
"Jadi banyak sekali itu ya, yang tentunya ini menjadi perhatian kita," kata Occupational dan Environmental Health Research Center IMERI FK UI, Dewi Yunia Fitriani dalam acara diskusi ahli bertajuk 'Pencehahan Dampak Kesehatan Pajanan Timbel Lingkungan' di Gedung IMERI FK UI, Rabu (10/1/2024).
Dewi menjelaskan bahwa, ambang batas maksimal KTD yang telah ditentukan oleh World Health Organization (WHO) yakni sebesar 5 µg/dL. Sementara KTD sebesar 45 µg/dL direkomendasikan untuk terapi.
Selain itu, Dewi menyebutkan bahaya keracunan timbel pada anak dapat menyebabkan gangguan kesehatan, penurunan kecerdasan hingga kurang darah atau anemia.
"Anak-anak yang memiliki KTD di atas 20 µg/dL, 34 persen di antaranya mengalami anemia. Anak-anak yang memiliki KTD 20 µg/dL, dan anemia memiliki peningkatan angka kejadian hampir 4 kali pada keterlambatan tumbuh kembang," jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Program Yayasan Pure Earth Indonesia Nickolaus Hariojati mengungkapkan, tingginya angka KTD dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti misalnya interaksi terhadap logam, aki bekas, hingga alat masak yang dibuat menggunakan logam.
"Jadi dalam kehidupan kita sehari-hari kita bersinggungan dengan unsur timbel, karena timbel merupakan logam yang tercemar yang banyak digunakan di produk yang kita gunakan sehari-hari," terangnya.
Untuk itu, perlu dilakukan langkah pencegahan dari dampak buruk akibat pajanan timbel. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan di tingkat rumah tangga adalah menjaga pola hidup bersih dan sehat seperti di antaranya mencuci tangan sebelum makan, menggunakan alas kaki pada saat anak bermain di luar rumah, berganti pakaian bagi para orang tua saat akan bertemu dengan anak mereka setelah melakukan kegiatan di luar rumah, memberikan anak ASI eksklusif serta makanan dengan gizi seimbang.
Apabila anak berisiko terpajan timbel dan memiliki keluhan kesehatan, maka segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis sesuai dengan rekomendasi tatalaksana keracunan timbel pada anak yang telah direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
